Hobi saya yang suka memperhatikan bahasa tubuh seseorang dan mencoba membaca pikiran orang-orang tersebut sampai pada beberapa orang yang saat melakukan ‘pekerjaan’ nya sangat jarang tersenyum, postur tubuh tidak seperti orang yang semangat, dan tambah lagi informasi bahwa ia lebih sering terserang flu ketimbang yang lainnya.
Nah Lho...?? Kok sampai sakit Flu segala? Apa hubungannya?
Aaaah...mereka hubungannya baik-baik saja...tapi kadang-kadang memang kurang intim...(hehehe...kita lagi ngomongin apa seeeh?)
Sahabat, Flu sering menyerang orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Orang yang terlalu lelah, atau sering mengalami tekanan pikiran akan sangat mudah terjangkit virus ini. Orang yang berdaya tahan tubuh kuat, selalu ceria (seperti saya...hehehe...), berpikiran positif, lebih jarang terjangkit Flu.
Pekerjaan oh pekerjaan, dari Senin hingga Jum’at bahkan Sabtu atau Minggu. Ketika Jum’at datang, ramai-ramai status Facebook bertajuk TGIF –Thanks God It’s Friday- dan ketika Senin kembali datang, mereka menulis OSIMA hehehe..berbau-bau Jepang ya? Bukan! Tapi Oh S**t It’s Monday Again. Oh Man!...You know what? Ini yang membedakan PEKERJAAN dari MISI.
Banyak orang kurang bahagia dengan apa yang dikerjakannya. “Ini bukan aku!” atau beberapa orang yang lebih muda mengatakan, “Iiiih, gak gue banget deh...!” Anak gaul yang sering keluar masuk salon berkata, “Bete deh eike, Ciiyyyn.!” Sahabat-Sahabat saya yang meRASAkan ini bertanya dan meminta diberi TAHU apakah ada yang salah dengan dirinya atau paling tidak apa yang bisa mereka lakukan agar lebih bahagia dengan apa yang mereka lakukan sekarang.
Lalu apa bedanya PEKERJAAN dan MISI?
Tanyakan pada tukang batu yang membangun Masjidil Haram dan Katedral Saint Peter Basilica.
Tukang batu yang menjawab, “Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Ia sedang melakukan PEKERJAANnya.
Lain lagi jika ia menjawab, “Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.” Nah..tukang batu ini sedang melakukan MISI nya. Tukang batu ini berhasil memadukan Keyakinan, Nilai-nilai, Tindakan, dan Rasa yang berasal dari berbagai ketertarikan, kepentingan, minat, dan tujuan.
Mudah, kan membedakannya? Orang yang melakukan apa yang memang harus dilakukan hanya melakukan pekerjaannya sedangkan orang yang menjalankan misi nya akan sangat menikmati apa yang sedang dikerjakannya.
Tentu banyak dari Anda yang sudah pernah mendengar
“Do What You Love and Love What You Do.”
“Yah...Ndrie, dah bagus dapet kerjaan. Hareee geneee, cari kerjaan yang kita sukai...Susah Man! Bisa-bisa gue gak makan.” Ada diantara Anda, pembaca, yang mengatakan ini. HATI-HATI!...saya dapat mendengar suara hati Anda dari sini...(gunakan echo secukupnya agar kalimat saya terdengar dramatis...hehehe...).
Sederhana, Sahabat. Anda tetap dapat mencari MISI Anda dengan apapun pekerjaan Anda saat ini, yaitu dengan mengubah Kalimat-Kalimat berdaya rendah yang sering berseliweran di kepala Anda menjadi pernyataan Misi untuk Anda sendiri. Ingat! Kalimat ini untuk kepentingan Anda sendiri dan bukan orang lain.
Contoh tukang batu diatas dapat dijadikan teladan dalam mengubah kalimat berdaya rendah menjadi kalimat yang memberdayakan.
“Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Menjadi,
“Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.”
Untuk seorang Trainer seperti saya, kalimat berdaya rendah seperti;
“Saya membawakan materi pelatihan bagi para peserta pelatihan saya.” Menjadi,
“Saya melatih dan menyediakan inspirasi bagi banyak orang untuk membuat mereka mencapai impian-impian mereka dan kesuksesan mereka menjadi bukti bahwa saya telah berhasil menjalankan MISI saya dengan VISI kesuksesan untuk setiap orang atas dasar cinta dan kasih pada sesama.”
Untuk seorang kasir yang kurang senyum yang saya temui tadi siang di sebuah Supermarket yang tidak perlu saya sebutkan namanya yang berasal dari Perancis (hehehe...mudah-mudahan masih samar informasinya.)
“Saya melakukan transaksi dengan pelanggan.” Menjadi,
“Saya menukar nilai uang pelanggan dengan barang yang bernilai lebih tinggi dari nilai uang yang dibayarkan dan menyediakan kebahagiaan bagi kepuasan pelanggan yang menggunakan barang-barang dari toko kami.”
Sahabat, dengan mengubah kalimat-kalimat berdaya rendah menjadi berdaya tinggi, kita akan benar-benar melihat VISI kita karena mengetahui MISI kita.
“This is my December”, Katanya. Momentum yang kita butuhkan sedang terjadi. Tanggal 7 Desember lalu adalah Tahun Baru bagi Umat Muslim, tanggal 25 ini adalah Hari Natal yang artinya “Terlahir” dan setelah ujung Desmber ini adalah pergantian tahun yang menyimbolkan dimulainya semua ukuran untuk mencapat target-target yang ditentukan.
OTAK KITA BUTUH MOMENTUM
dan menutup tulisan ini saya berkata,
PERMISI! APA MISIMU?
Blog yang diniatkan berisi inspirasi agar diri ini termotivasi dan menginspirasi banyak orang lagi.
Saturday, December 25, 2010
Oleh-Oleh dari Bali (setiap perilaku memiliki tujuan positif)
“Bagi saya berpikir positif itu tidak wajib. Tapi setelah Anda tahu manfaatnya, Anda akan terus membutuhkannya. Bukan untuk menyenangkan orang lain namun untuk kesenangan diri sendiri.(Andrie Setiawan-ASLI KDDH-)”
Kedamaian hapuskan keraguan,
Ketenangan hilangkan kegelisahan,
Cinta luruhkan benci...
Mataharimu juga matahariku...
Lautmu juga milikku...
Bali...Hmmm...walaupun ini bukan pertama kalinya mengunjungi Bali, pulau ini terasa selalu menyenangkan. Mungkin karena Lautnya, mungkin juga karena budaya dari orang-orang sekitar, mungkin juga memang anugrah Tuhan yang menjadikan pulau ini untuk, khususnya saya, menjadi pelajaran hidup. Walaupun saya tahu bahwa pelajaran hidup itu bisa didapat dimana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dengan acara apapun.
Saya memilih Bali karena tentunya bisa menjadi oleh-oleh bagi Anda, para sahabat pembaca. Itung-itung saya tidak perlu membeli kacang Bali dan membagikannya satu-persatu pada Anda. hehehe...itung-itungannya keluar deh. Tapi saya yakin, tulisan ini lebih nikmat dan lebih gurih dari kacang Bali.
Kembali bicara tentang Bali maka tidak lepas berbicara tentang pantai dan lautnya padahal Bali tidak hanya tentang itu saja. Anda tahu bahwa Laut memiliki keuatan penyeimbang di alam ini? Anda tahu bahwa keseimbangan iklim panas bumi juga menjadi fungsi laut? Dan sudahkah Anda mengerti bahwa racun-racun yang di bawa menuju laut dan menjadi netral sesampainya di sana? Tak heran ini adalah hhal yang membuat saya betah berlama-lama duduk dipantainya walaupun tanpa teman dan diwaktu-waktu apapun bahkan saat malam larut dan hari siap berganti menyambut matahari pagi.
Pikiran kita pun memiliki mekanisme yang sama dengan alam ini. Itu kalau saya gak salah yaaa...hehehehe...Para ahli menyebut bahwa otak kita adalah alam semesta dalam ukuran mini. Semua mekanisme alam semesta juga terjadi dalam otak dan pikiran kita.Jika sebagian pikiran kita kotor alias negatif, kita dapat menetralkannya dengan bagian lain dari pikiran kita. Wow... Hebat, kan?
Suatu malam, saya dan beberapa sahabat berada dalam perbincangan seru di sela makan malam kedua kami, angin laut membuat perut lebih cepat lapar. Hampir jam 12 malam di restoran cepat saji sekitar pantai Kuta. Pembicaraan tentang pengalaman kami masing-masing pada siang harinya. Anda bisa bayangkan tentunya, lima orang dengan pengalaman berbeda sangat bersemangat membagi pada lainnya. Sambil menikmati setiap gigitan burger keju ganda, saya mendengarkan dan ikut merasakan keseruannya sambil membayangkan apa yang sebenarnya terjadi saat cerita itu dialami (yaaah...ketahuan deh nama restorannya...*gakbermaksudiklandotcom*).
Sampai kemudian pada satu cerita salah satu diantara kami tentang seorang temannya yang perilakunya ia nilai ‘Ajaib’ berbeda dari lainnya bin ‘aneh’. Temannya yang kerap kali berbicara dengan potongan-potongan bahasa Inggris (mungkin karena sedang berada di Bali..hehehe...) diimbangi dengan bahasa tubuh yang berlebih melebihi artis remaja yang namanya sedang naik daun saat ini, katanya.
Satu cerita lucu tentang orang yang sedang dibicarakan oleh sahabat saya ini, suatu malam di sekitar Legian, sebut saja orang yang sedang kita bahas ini bernama Putri. Dua orang teman Putri sedang menikmati es krim masing-masing di tangannya dan berkata lah Putri, “Can I try it?” (silakan baca kalimat ini dengan aksen yang agak di lebih-lebihkan alias lebay yang bahkan penutur asli tidak menggunakan aksen ini...hehehe...biar anda tambah menjiwai). Putri mencicip es krim dari tangan Sari dan berkata, “oooh standa...ard!” dengan kedua pundak diangkat dan kepala agak miring ke kanan wajah menunjukkan bahwa rasa es krim itu biasa saja sambil ia melirik kearah es krim Iwan dan kembali berkata, “Can I try it?” Tak kuasa Iwan pun menyodorkan es krimnya. Putri memberi penilaian, “Yours is bette..eer.” Sontak membuat Sari menjawab agak berteriak, “Heh...Putri! es Krim kita tuh sama..gimana bisa rasanya beda?!?!” Mendengar cerita ini kami pun tertawa.
Bagi beberapa orang termasuk sahabat saya yang bercerita, perilaku Putri sangat mengganggu pikirannya walau kejadian demi kejadian telah berlalu cukup lama tetapi perasaan kesal dan sebalnya ia rasakan kembali.
Bagi sebagian besar kita, dengan cepat merespon cerita dan kejadian serta menyimpulkannya sebagai hal yang negatif. Tahukah kita bahwa hal ini tanpa kita sadari akan men-sabotase pikiran kita dan ikut menjadi negatif. Ujung-ujung nya malah membuat kepala kita pusing padahal orang yang dimaksud saja tidak merasakan apa-apa alias biasa saja.
Aneh, kan? Seharusnya ini bukan masalah tapi malah terasa masalah. Bukankah masalah bergantung bagai mana kita meresponnya. Masalah adalah bukan masalah sebelum masalah tersebut diberi nama MASALAH.
Lalu caranya seperti apa? Sahabat, sadarilah bahwa bersamaan dengan setiap perilaku ada tujuan positif. Paling tidak bagi dirinya sendiri. Seorang perokok pun memiliki tujuan positif mengapa ia membutuhkan rokok padahal ia tahu rokok tidak baik untuk kesehatan. Kebanyakan dari mereka adalah untuk mengembalikan ketenangan dan konsentrasi. Positif, kan? Memang caranya mungkin harus dicari yang lebih baik. Peminum pun demikian, meminum minuman beralkohol sampai mabuk dengan maksud melupakan masalahnya. Tujuan yang positif juga, kan? Lagi-lagi, caranya yang mungkin harus dicari yang lebih bermanfaat. Silakan Anda cari perilaku lainnya yang Anda pikir negatif dan setelah mengetahui ini tentu Anda menyadari bahwa tujuannya ia melakukan ini adalah positif.
Sahabat, dengan cara berpikir kita seperti ini, tentu kita terhindar dari beban pikiran yang tidak perlu sehingga kita dapat tetap bahagia tanpa terganggu perilaku orang lain. Hidup penuh toleransi. Menyenangkan , bukan?
Tulisan saya tutup dengan perbincangan saya dengan seorang sahabat yang sudah lama tinggal di Bali saat melintasi toko oleh-oleh. Di depan toko terpajang patung besar alat kelamin pria, “Orang sini cuek-cuek ya Zul?” ia pun menjawab, “Ndrie, orang sini bukannya cuek, tapi mereka berpikir positif.”
Well, itcu dhiya jhawhabhanniya...(dengan gaya bicara Cinta Laura...hehehe..)Positif Thinking, Right?
Saturday, September 18, 2010
Auto Sugesti, Praktis-GRATIS-Gak perlu Terapis
Halo Sahabat, wuaaah sudah lama sepertinya saya tidak menyapa Anda. Walaupun demikian, pikiran dan hati saya tetap bersama-sama. Saat-saat seperti ini adalah yang paling saya sukai. Berbagi, untuk meningkatkan pemberdayaan diri, dah harapannya dengan ini kita semua hepi dengan hasil yang didapat dari membaca tulisan saya ini.
Saya pribadi sangat menyukai judul diatas, “Praktis-GRATIS-Gak perlu Terapis”. Sekali lagi saya membuktikan bahwa dunia kita ini banyak dikelilingi hal-hal yang nilainya Rp. 0,- alias Nol Rupiah alias Gratis dan kita dapat memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Bahkan yang memberi gratisan pun mendapatkan manfaat yang kalau dirupiahkan sangatlah besar. Lucu, aneh, dan paradoksikal, yang Gratisan malah menghasilkan banyak uang (dari ukuran material). Bahkan jika kita melihat dari batasan non-material, banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari hal-hal itu. Sederhananya, Anda tentu tahu FB, YM, twitter, Google doc, dan aplikasi lainnya yang kita manfaatkan secara Gratis. Tapi apakah Anda juga tahu bahwa penggagas Facebook, Mark Zuckerberg adalah anak muda yang sangat kaya. Bisnisnya adalah menciptakan jaringan sosial bagi orang-orang seluruh dunia dan memberikannya secara gratis dan hal tersebut malah dilirik para pengiklan karena FB, sebutannya, memiliki basis massa yang luar biasa.
Weleh-weleh...ini tulisan tentang hipnosis atau marketing sih? Hehehe...maaf Sahabat, saya terlalu bersemangat membagikan tulisan ini secara gratis dan penasaran dengan hasilnya. Baik hasil yang Anda peroleh maupun hasil yang akan kembali pada saya.
Saya sering kali bertemu dengan orang yang penasaran dengan hipnosis dan setiap bertemu orang jenis ini (hehehe...) mereka mesti minta dihipnosis. Banyak dari mereka yang kepingin banget malah merasa susah masuk dalam kondisi hipnosis. Lho? Apa pasal? Lha iya...kalau mereka terlalu kepingin, pikiran mereka malah sibuk menanti merasakan rasa hipnosis seperti apa. Nah, padahal hipnosis membutuhkan pikiran yang santai, tenang dan berkonsentrasi pada satu hal, yaitu sugesti sang terapis.
Ngomong-ngomong, apakah terapis dibutuhkan? Sebagai terapis saya menjawab, “ya dibutuhkan laaah!” hehehe.. tidak bermaksud subjektif tapi memang ada beberapa kondisi dimana Anda membutuhkan pemandu agar Anda dengan mudah berkonsentrasi dengan instruksi panduan tersebut ketimbang harus memikirkan sendiri sugesti yang diinginkan. Ketika Anda berkonsentrasi pada sugestinya, frekuensi gelombang otak Anda malah semakin tinggi dan tidak dapat mencapai tujuan terapi. Mirip-mirip rally Paris Dakar, seorang pengemudi hanya harus berkonsentrasi mengendalikan mobilnya dan disebelahnya seorang navigator yang menunjukkan arahnya tujuannya, dengan memegang peta.
Pikiran kita juga memiliki PETA. Apakah Anda, Sahabat, menyadarinya? Banyak sekali pembahasan tentang ini dan saya sudah menuliskannya pada beberapa artikel saya sebelumnya. Silakan baca kembali di www.andrie-setiawan.blogspot.com atau di www.andriesetiawan.multiply.com.
Sederhananya gini aja deh...Sesaat sebelum Anda berangkat ke suatu tempat (Kantor, Mall, Bioskop, dan lain sebagainya), apa yang Anda bayangkan? Tentu tempat yang akan Anda tuju, benar? Bahkan Anda dapat melihat dengan jelas tempat tersebut, dan orang-orang yang ada disanapun nampak begitu nyata. Banyak dari Anda bahkan setelah itu membayangkan proses perjalananan menuju kesana, suasana jalan dan hal-hal yang Anda lakukan saat itu. Anda tentu dapat mendengar suara-suara baik ditempat tujuan Anda nanti dan suara-suara sibuk jalanan. Juga seringkali mendengarkan suara hati Anda tentang bagaimana perasaaan Anda saat itu. Seketika setelah mendengar semua itu muncul perasaan-perasaan. Baik perasaan senang maupun perasaan sebaliknya. Sahabat, Perasaan-perasaan itu berasal dari PETA MENTAL Anda. Sekali lagi...dari PETA MENTAL Anda, ya..benar PETA MENTAL Anda. Hebatnya tentang PETA MENTAL adalah, apa yang Anda pikirkan, itu lah yang akan terjadi. Bagaimana bisa? Tentu bisa, Karena Anda telah membuat program dalam pikiran Anda bahwa itulah yang akan terjadi. Pikiran Anda sangatlah baik, apapun yang Anda inginkan, ia akan mengarahkan Anda.
Buatlah PETA MENTAL yang baik Perbaharui setiap hari dengan tambahan-tambahan informasi yang baik dan Anda tidak akan tersesat dari perasaan Bahagia dan akan terus merasakan Bahagia itu.
Bayangkan saja, Anda, yang tidak memahami jalan, berkendara di Jakarta tahun ini, 2010, dengan peta tahun 1960. Tentu sudah banyak yang berubah dengan Jakarta dan kemungkinan besar adalah, Anda tersesat.
Émile Coué seorang ahli farmasi yang memperkenalkan Auto Sugesti pertama kali dan menemukan efek yang kemudian dikenal sebagai efek Placebo. Placebo biasanya terbuat dari tepung biasa dan berbentuk tablet obat. Secara medis tidak mengandung zat penyembuhan apapun namun efek keyakinanlah yang menyembuhkan.
Ia juga menemukan bahwa subjek tidak bisa dihipnosis jika ia tidak menginginkannya dan efek hipnosis menjadi sangat lemah ketika seseorang dalam kondisi yang sangat sadar. Sampai kemudian ia menemukan metode ini. Disamping ia tetap percaya efek medis, dan ia juga percaya bahwa kondisi mental dapat berdampak bahkan mempercepat efek medis. Ia mengobservasi pasiennya yang merapalkan sugesti dalam kondisi sadar dan sugesti yang mirip mantra, aslinya dalam bahasa Perancis;
“Tous les jours à tous points de vue je vais de mieux en mieux”
Dan adaptasi dalam bahasa Inggris;
“Every day, in every way, I'm getting better and better”
Dan bahasa Indonesianya adalah;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Sugesti yang diucapkan berulang-ulang dan dilakukan untuk mengalihkan konsentrasi dari rasa sakit ini dapat memperbesar harapan akan rencana kesembuhannya dan menurutnya dengan terus mengulang-ulang “mantra” nya, maka sugesti itu akhirnya akan menembus bawah sadar juga.
Saya menggunakannya untuk hal yang berbeda. Saya mengucapkan “Mantra” ini setiap pagi dan malam dan kapanpun saya teringat impian saya untuk membuat jalur pada PETA MENTAL saya.
Contoh sederhana, Oktober tahun 2009 saya sangat ingin dapat menulis sebuah buku untuk kemudian diterbitkan paling tidak di Oktober 2010. Dan setiap hari saya mengulang-ulang kalimat tersebut. Magic! Saat ini naskah buku saya sudah siap diterbitkan menjadi sebuah buku dan sebentar lagi akan bertengger di rak toko buku kesayangan Anda. Bukan cuma ini hasil Auto Sugesti yang saya terima. Masih banyak yang saya dapatkan seperti rencana Lulus S2 tepat waktu.
Bagaimana saya melakukannya;
1.Pikirkanlah dan bayangkanlah impian Anda. Lihatlah dengan jelas impian itu, Anda juga bisa mendengarkan suara-suara saat Anda mendapatkannya. Rasakan bahagianya saat Anda mendapatkannya dan libatkan emosi Anda.
2.Masukkan semua dalam pikiran Anda seolah pikiran Anda menghisap semua bayangan itu.
3.Setiap Pagi dan Malam dan setiap kali mengingat impian Anda, ucapkan;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Diucapkan Pagi dan Malam, karena pada waktu-waktu tersebut pikiran kita masih sangat santai dan gelombang otak kita masih pada level sugestif, artinya mudah dimasuki sugesti.
4.Anda yang sudah mempelajari Law of Attraction tentu paham mengapa saya menambahkan kalimat;
“Setiap hari saya selalu menarik seluruh sumberdaya kesuksesan untuk mewujudkan yang kuinginkan.”
Saya selalu mengimajinasikan bagaimana energi sumberdaya entah dari mana datangnya saya tarik masuk kedalam tubuh saya.
5.Tersenyumlah dan percayalah pada diri Anda bahwa pikiran Anda akan menuntun Anda pada jalan yang baik untuk menuju impian Anda. Dan tentu Berdoalah pada Tuhan karena bagaimanapun semua adalah kehendak Tuhan. Yang menyenangkan adalah saat berdoa, percayalah bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan dengan mudahnya Dia mengabulkan keinginan Anda.
Sahabat, Auto Sugesti benar-benar membuat jalur pada Peta Mental saya. Saat saya membayangkan bahwa saya harus memiliki acara di Televisi dan saya mengarahkan pikiran saya untuk itu tentu dengan menarik selur sumberdaya disekeliling saya, seorang sahabat dari perusahaan penerbitan menginformasikan bahwa setelah buku saya terbit, saya berpeluang untuk beberapa kali mengisi acara talk show di TV melalui aksesnya. Sayapun yakin bahwa banyak juga dari para sahabat yang tentu akan selalu mendukung apa yang saya impikan karena sayapun sebaliknya demikian. Tulisan ini adalah satu dukungan saya untuk Anda.
Hmmm...Luar Biasa Pikiran kita ini. Dan Maha Dahsyat yang menciptakannya, Dialah Tuhan!
Buatlah Peta yang Baik dan Pergilah kemana Impianmu berada.
Tulisan ini GRATIS dan didedikasikan bagi mereka yang memanfaatkan barang GRATISAN. Maka benarlah yang saya katakan di awal bahwa Anda tidak memerlukan terapis untuk hal ini. Tulisan ini juga dapat dinikmati di;
www.andrie-setiawan.blogspot.com
www.andriesetiawan.multiply.com
www.wikimu.com
www.ibhcenter.org
Note FB saya;
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/notes.php?id=1608542533¬es_tab=app_2347471856
Grup Easy Hypnosis yang saya kelola;
http://www.facebook.com/photo.php?pid=31126384&fbid=1426492948426&id=1415854530&ref=nf#!/group.php?gid=231098161825&ref=ts
Andrie Setiawan Fans Page
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/pages/Andrie-Setiawan/152369308123188
Saya pribadi sangat menyukai judul diatas, “Praktis-GRATIS-Gak perlu Terapis”. Sekali lagi saya membuktikan bahwa dunia kita ini banyak dikelilingi hal-hal yang nilainya Rp. 0,- alias Nol Rupiah alias Gratis dan kita dapat memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Bahkan yang memberi gratisan pun mendapatkan manfaat yang kalau dirupiahkan sangatlah besar. Lucu, aneh, dan paradoksikal, yang Gratisan malah menghasilkan banyak uang (dari ukuran material). Bahkan jika kita melihat dari batasan non-material, banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari hal-hal itu. Sederhananya, Anda tentu tahu FB, YM, twitter, Google doc, dan aplikasi lainnya yang kita manfaatkan secara Gratis. Tapi apakah Anda juga tahu bahwa penggagas Facebook, Mark Zuckerberg adalah anak muda yang sangat kaya. Bisnisnya adalah menciptakan jaringan sosial bagi orang-orang seluruh dunia dan memberikannya secara gratis dan hal tersebut malah dilirik para pengiklan karena FB, sebutannya, memiliki basis massa yang luar biasa.
Weleh-weleh...ini tulisan tentang hipnosis atau marketing sih? Hehehe...maaf Sahabat, saya terlalu bersemangat membagikan tulisan ini secara gratis dan penasaran dengan hasilnya. Baik hasil yang Anda peroleh maupun hasil yang akan kembali pada saya.
Saya sering kali bertemu dengan orang yang penasaran dengan hipnosis dan setiap bertemu orang jenis ini (hehehe...) mereka mesti minta dihipnosis. Banyak dari mereka yang kepingin banget malah merasa susah masuk dalam kondisi hipnosis. Lho? Apa pasal? Lha iya...kalau mereka terlalu kepingin, pikiran mereka malah sibuk menanti merasakan rasa hipnosis seperti apa. Nah, padahal hipnosis membutuhkan pikiran yang santai, tenang dan berkonsentrasi pada satu hal, yaitu sugesti sang terapis.
Ngomong-ngomong, apakah terapis dibutuhkan? Sebagai terapis saya menjawab, “ya dibutuhkan laaah!” hehehe.. tidak bermaksud subjektif tapi memang ada beberapa kondisi dimana Anda membutuhkan pemandu agar Anda dengan mudah berkonsentrasi dengan instruksi panduan tersebut ketimbang harus memikirkan sendiri sugesti yang diinginkan. Ketika Anda berkonsentrasi pada sugestinya, frekuensi gelombang otak Anda malah semakin tinggi dan tidak dapat mencapai tujuan terapi. Mirip-mirip rally Paris Dakar, seorang pengemudi hanya harus berkonsentrasi mengendalikan mobilnya dan disebelahnya seorang navigator yang menunjukkan arahnya tujuannya, dengan memegang peta.
Pikiran kita juga memiliki PETA. Apakah Anda, Sahabat, menyadarinya? Banyak sekali pembahasan tentang ini dan saya sudah menuliskannya pada beberapa artikel saya sebelumnya. Silakan baca kembali di www.andrie-setiawan.blogspot.com atau di www.andriesetiawan.multiply.com.
Sederhananya gini aja deh...Sesaat sebelum Anda berangkat ke suatu tempat (Kantor, Mall, Bioskop, dan lain sebagainya), apa yang Anda bayangkan? Tentu tempat yang akan Anda tuju, benar? Bahkan Anda dapat melihat dengan jelas tempat tersebut, dan orang-orang yang ada disanapun nampak begitu nyata. Banyak dari Anda bahkan setelah itu membayangkan proses perjalananan menuju kesana, suasana jalan dan hal-hal yang Anda lakukan saat itu. Anda tentu dapat mendengar suara-suara baik ditempat tujuan Anda nanti dan suara-suara sibuk jalanan. Juga seringkali mendengarkan suara hati Anda tentang bagaimana perasaaan Anda saat itu. Seketika setelah mendengar semua itu muncul perasaan-perasaan. Baik perasaan senang maupun perasaan sebaliknya. Sahabat, Perasaan-perasaan itu berasal dari PETA MENTAL Anda. Sekali lagi...dari PETA MENTAL Anda, ya..benar PETA MENTAL Anda. Hebatnya tentang PETA MENTAL adalah, apa yang Anda pikirkan, itu lah yang akan terjadi. Bagaimana bisa? Tentu bisa, Karena Anda telah membuat program dalam pikiran Anda bahwa itulah yang akan terjadi. Pikiran Anda sangatlah baik, apapun yang Anda inginkan, ia akan mengarahkan Anda.
Buatlah PETA MENTAL yang baik Perbaharui setiap hari dengan tambahan-tambahan informasi yang baik dan Anda tidak akan tersesat dari perasaan Bahagia dan akan terus merasakan Bahagia itu.
Bayangkan saja, Anda, yang tidak memahami jalan, berkendara di Jakarta tahun ini, 2010, dengan peta tahun 1960. Tentu sudah banyak yang berubah dengan Jakarta dan kemungkinan besar adalah, Anda tersesat.
Émile Coué seorang ahli farmasi yang memperkenalkan Auto Sugesti pertama kali dan menemukan efek yang kemudian dikenal sebagai efek Placebo. Placebo biasanya terbuat dari tepung biasa dan berbentuk tablet obat. Secara medis tidak mengandung zat penyembuhan apapun namun efek keyakinanlah yang menyembuhkan.
Ia juga menemukan bahwa subjek tidak bisa dihipnosis jika ia tidak menginginkannya dan efek hipnosis menjadi sangat lemah ketika seseorang dalam kondisi yang sangat sadar. Sampai kemudian ia menemukan metode ini. Disamping ia tetap percaya efek medis, dan ia juga percaya bahwa kondisi mental dapat berdampak bahkan mempercepat efek medis. Ia mengobservasi pasiennya yang merapalkan sugesti dalam kondisi sadar dan sugesti yang mirip mantra, aslinya dalam bahasa Perancis;
“Tous les jours à tous points de vue je vais de mieux en mieux”
Dan adaptasi dalam bahasa Inggris;
“Every day, in every way, I'm getting better and better”
Dan bahasa Indonesianya adalah;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Sugesti yang diucapkan berulang-ulang dan dilakukan untuk mengalihkan konsentrasi dari rasa sakit ini dapat memperbesar harapan akan rencana kesembuhannya dan menurutnya dengan terus mengulang-ulang “mantra” nya, maka sugesti itu akhirnya akan menembus bawah sadar juga.
Saya menggunakannya untuk hal yang berbeda. Saya mengucapkan “Mantra” ini setiap pagi dan malam dan kapanpun saya teringat impian saya untuk membuat jalur pada PETA MENTAL saya.
Contoh sederhana, Oktober tahun 2009 saya sangat ingin dapat menulis sebuah buku untuk kemudian diterbitkan paling tidak di Oktober 2010. Dan setiap hari saya mengulang-ulang kalimat tersebut. Magic! Saat ini naskah buku saya sudah siap diterbitkan menjadi sebuah buku dan sebentar lagi akan bertengger di rak toko buku kesayangan Anda. Bukan cuma ini hasil Auto Sugesti yang saya terima. Masih banyak yang saya dapatkan seperti rencana Lulus S2 tepat waktu.
Bagaimana saya melakukannya;
1.Pikirkanlah dan bayangkanlah impian Anda. Lihatlah dengan jelas impian itu, Anda juga bisa mendengarkan suara-suara saat Anda mendapatkannya. Rasakan bahagianya saat Anda mendapatkannya dan libatkan emosi Anda.
2.Masukkan semua dalam pikiran Anda seolah pikiran Anda menghisap semua bayangan itu.
3.Setiap Pagi dan Malam dan setiap kali mengingat impian Anda, ucapkan;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Diucapkan Pagi dan Malam, karena pada waktu-waktu tersebut pikiran kita masih sangat santai dan gelombang otak kita masih pada level sugestif, artinya mudah dimasuki sugesti.
4.Anda yang sudah mempelajari Law of Attraction tentu paham mengapa saya menambahkan kalimat;
“Setiap hari saya selalu menarik seluruh sumberdaya kesuksesan untuk mewujudkan yang kuinginkan.”
Saya selalu mengimajinasikan bagaimana energi sumberdaya entah dari mana datangnya saya tarik masuk kedalam tubuh saya.
5.Tersenyumlah dan percayalah pada diri Anda bahwa pikiran Anda akan menuntun Anda pada jalan yang baik untuk menuju impian Anda. Dan tentu Berdoalah pada Tuhan karena bagaimanapun semua adalah kehendak Tuhan. Yang menyenangkan adalah saat berdoa, percayalah bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan dengan mudahnya Dia mengabulkan keinginan Anda.
Sahabat, Auto Sugesti benar-benar membuat jalur pada Peta Mental saya. Saat saya membayangkan bahwa saya harus memiliki acara di Televisi dan saya mengarahkan pikiran saya untuk itu tentu dengan menarik selur sumberdaya disekeliling saya, seorang sahabat dari perusahaan penerbitan menginformasikan bahwa setelah buku saya terbit, saya berpeluang untuk beberapa kali mengisi acara talk show di TV melalui aksesnya. Sayapun yakin bahwa banyak juga dari para sahabat yang tentu akan selalu mendukung apa yang saya impikan karena sayapun sebaliknya demikian. Tulisan ini adalah satu dukungan saya untuk Anda.
Hmmm...Luar Biasa Pikiran kita ini. Dan Maha Dahsyat yang menciptakannya, Dialah Tuhan!
Buatlah Peta yang Baik dan Pergilah kemana Impianmu berada.
Tulisan ini GRATIS dan didedikasikan bagi mereka yang memanfaatkan barang GRATISAN. Maka benarlah yang saya katakan di awal bahwa Anda tidak memerlukan terapis untuk hal ini. Tulisan ini juga dapat dinikmati di;
www.andrie-setiawan.blogspot.com
www.andriesetiawan.multiply.com
www.wikimu.com
www.ibhcenter.org
Note FB saya;
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/notes.php?id=1608542533¬es_tab=app_2347471856
Grup Easy Hypnosis yang saya kelola;
http://www.facebook.com/photo.php?pid=31126384&fbid=1426492948426&id=1415854530&ref=nf#!/group.php?gid=231098161825&ref=ts
Andrie Setiawan Fans Page
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/pages/Andrie-Setiawan/152369308123188
Sunday, August 1, 2010
Hipnosis Bicara Tentang Cinta
Darimana datangnya lintah?
Dari Sawah turun ke kali.
Darimana datangnya Cinta?
Dari mata turun ke hati.
Mestinya Anda tahu dan hapal potongan pantun ini namun sedikit yang benar-benar menyadari makna di baliknya. Sayapun tidak tahu siapa yang pertamakali menulis dan mempopulerkan pantun ini namun dalam beberapa pembahasan psikologis pernah di bahas juga bagaimana Pria dan Wanita jatuh cinta.
Untuk masuk dalam hati, seorang pria lebih mengandalkan indera visualnya. Sedangkan wanita lebih mengandalkan apa yang didengarnya ketika harus memasukkan cinta kedalam hatinya. Ini bukan berarti pria mengabaikan pendengarannya dan wanita mengabaikan penglihatannya. Yang saya pahami, setiap informasi yang kita terima selalu kita inderakan, artinya disadari atau tidak semua informasi melalui panca indera kita; indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan.
Yang menarik dari pembahasan ini bagaimana CINTA dapat di vibrasikan sebelum kita menjumpai orang yang kita cintai?
Pikiran kita memiliki gelombang dan gelombang tersebut dapat kita pancarkan pada seseorang yang kita tuju. Wah hebat sekali pikiran kita, ya? Sahabat, jika Anda memahami ini, bersyukurlah! Bersyukurlah pada Tuhan yang telah menciptakannya, dengan segala keajaiban yang hanya sedikit saja terkuak rahasia kekuatan pikiran kita ini.
Hal ini pernah dibuktikan oleh Dr. Ihaleakala Hew Len yang menggunakan metode doa spiritualitas Hawaii yang di sebut Ho’oponopono. Ada empat kata didalamnya, “Aku Mencintaimu”, “Tolong maafkan aku”, “Aku menyesal”, “Terimakasih”. Suatu saat Dr. Hew Len harus menjalani sebuah proses penyembuhan seorang kriminal sakit mental yang perilakunya sangat berbahaya. Sebelum mengunjungi orang tersebut Dr. Hew Len mempelajari data-data orang tersebut sambil mengatakan dalam hati “Aku mencintaimu, Aku mencintaimu, Aku mencintaimu.” Begitu terus berulang-ulang dengan penuh perasaan dan dengan meniatkan kata-kata tersebut dikirimkan dan diterima oleh orang yang di tuju. Ajaib, Pelaku kriminalitas tersebut tidak melakukan perlawanan seperti yang biasanya dilakukan pada terapis lain, ia mematuhi apa yang di minta Dr. Hew Len.
Sahabat, Cinta benar-benar dapat dirasakan oleh orang yang ada disana jika kita benar-benar mengirimkannya. Seperti saya mengirimkannya pada Anda saat menuliskan ini seperti juga yang biasa saya lakukan sebelum saya memasuki kelas-kelas pelatihan saya. “Aku mencintaimu.”
Cara mengirimkannya;
1.Ambillah posisi dan tempat yang nyaman sehingga Anda dapat berkonsentrasi dengan baik.
2.Mulailah dengan doa yang Anda pahami. Saya biasanya memulainya dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ (Dengan Nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).
3.Rasakan Cinta yang Anda ingin kirimkan dan sebenar-benarnya Cinta.
4.Dalam pikiran Anda, munculkan diri orang tersebut, konsentrasi. Ini bukan berarti Anda harus berusaha keras memunculkannya. Relaks, panggillah orang tersebut sampai benar-benar dengan jelas Anda dapat melihat dirinya.
5.Sekarang, kirimkan, “Aku mencintaimu”. Rasakan kalimat itu keluar dari hati kita dan selagi Anda mendengar kalimat yang Anda ucapkan itu, lihatlah warna-warni penuh cinta menyelubungi kalimat itu yang melayang menuju orang yang menjadi tujuan kalimat tersebut. Ulangi, ulangi, dan ulangi sampai Anda benar-benar merasa hal kalimat tersebut telah sampai disana. Sahabat, ketika Anda mengirimkannya, ucapkanlah sambil tersenyum penuh rasa cinta.
6.Selesai dan silakan temui dia dan lihat hasilnya.
Tak terkirimnya kalimat ini lebih sering disebabkan karena kita tidak benar-benar mencintai orang yang kita kirimi kalimat tersebut. Sahabat, segala sesuatu haruslah dimulai dari diri sendiri.
IMPROVEMENT begins with I
Nah berikut adalah mantra favorit saya tentang Cinta
Aku tercipta untuk Melindungimu dan Aku ada untuk Melayani...Memimpinmu dari depan...Membimbingmu ketika kita berdampingan dan mendukungmu saat aku di belakangmu...Aku pemimpinmu dan Aku pelayanmu...Bahagialah...saat kita Bersama dan Nantikan aku saat ku Tiada...Kau Kekasihku...Mencintaimu...
Dari Sawah turun ke kali.
Darimana datangnya Cinta?
Dari mata turun ke hati.
Mestinya Anda tahu dan hapal potongan pantun ini namun sedikit yang benar-benar menyadari makna di baliknya. Sayapun tidak tahu siapa yang pertamakali menulis dan mempopulerkan pantun ini namun dalam beberapa pembahasan psikologis pernah di bahas juga bagaimana Pria dan Wanita jatuh cinta.
Untuk masuk dalam hati, seorang pria lebih mengandalkan indera visualnya. Sedangkan wanita lebih mengandalkan apa yang didengarnya ketika harus memasukkan cinta kedalam hatinya. Ini bukan berarti pria mengabaikan pendengarannya dan wanita mengabaikan penglihatannya. Yang saya pahami, setiap informasi yang kita terima selalu kita inderakan, artinya disadari atau tidak semua informasi melalui panca indera kita; indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan.
Yang menarik dari pembahasan ini bagaimana CINTA dapat di vibrasikan sebelum kita menjumpai orang yang kita cintai?
Pikiran kita memiliki gelombang dan gelombang tersebut dapat kita pancarkan pada seseorang yang kita tuju. Wah hebat sekali pikiran kita, ya? Sahabat, jika Anda memahami ini, bersyukurlah! Bersyukurlah pada Tuhan yang telah menciptakannya, dengan segala keajaiban yang hanya sedikit saja terkuak rahasia kekuatan pikiran kita ini.
Hal ini pernah dibuktikan oleh Dr. Ihaleakala Hew Len yang menggunakan metode doa spiritualitas Hawaii yang di sebut Ho’oponopono. Ada empat kata didalamnya, “Aku Mencintaimu”, “Tolong maafkan aku”, “Aku menyesal”, “Terimakasih”. Suatu saat Dr. Hew Len harus menjalani sebuah proses penyembuhan seorang kriminal sakit mental yang perilakunya sangat berbahaya. Sebelum mengunjungi orang tersebut Dr. Hew Len mempelajari data-data orang tersebut sambil mengatakan dalam hati “Aku mencintaimu, Aku mencintaimu, Aku mencintaimu.” Begitu terus berulang-ulang dengan penuh perasaan dan dengan meniatkan kata-kata tersebut dikirimkan dan diterima oleh orang yang di tuju. Ajaib, Pelaku kriminalitas tersebut tidak melakukan perlawanan seperti yang biasanya dilakukan pada terapis lain, ia mematuhi apa yang di minta Dr. Hew Len.
Sahabat, Cinta benar-benar dapat dirasakan oleh orang yang ada disana jika kita benar-benar mengirimkannya. Seperti saya mengirimkannya pada Anda saat menuliskan ini seperti juga yang biasa saya lakukan sebelum saya memasuki kelas-kelas pelatihan saya. “Aku mencintaimu.”
Cara mengirimkannya;
1.Ambillah posisi dan tempat yang nyaman sehingga Anda dapat berkonsentrasi dengan baik.
2.Mulailah dengan doa yang Anda pahami. Saya biasanya memulainya dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ (Dengan Nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).
3.Rasakan Cinta yang Anda ingin kirimkan dan sebenar-benarnya Cinta.
4.Dalam pikiran Anda, munculkan diri orang tersebut, konsentrasi. Ini bukan berarti Anda harus berusaha keras memunculkannya. Relaks, panggillah orang tersebut sampai benar-benar dengan jelas Anda dapat melihat dirinya.
5.Sekarang, kirimkan, “Aku mencintaimu”. Rasakan kalimat itu keluar dari hati kita dan selagi Anda mendengar kalimat yang Anda ucapkan itu, lihatlah warna-warni penuh cinta menyelubungi kalimat itu yang melayang menuju orang yang menjadi tujuan kalimat tersebut. Ulangi, ulangi, dan ulangi sampai Anda benar-benar merasa hal kalimat tersebut telah sampai disana. Sahabat, ketika Anda mengirimkannya, ucapkanlah sambil tersenyum penuh rasa cinta.
6.Selesai dan silakan temui dia dan lihat hasilnya.
Tak terkirimnya kalimat ini lebih sering disebabkan karena kita tidak benar-benar mencintai orang yang kita kirimi kalimat tersebut. Sahabat, segala sesuatu haruslah dimulai dari diri sendiri.
IMPROVEMENT begins with I
Nah berikut adalah mantra favorit saya tentang Cinta
Aku tercipta untuk Melindungimu dan Aku ada untuk Melayani...Memimpinmu dari depan...Membimbingmu ketika kita berdampingan dan mendukungmu saat aku di belakangmu...Aku pemimpinmu dan Aku pelayanmu...Bahagialah...saat kita Bersama dan Nantikan aku saat ku Tiada...Kau Kekasihku...Mencintaimu...
Thursday, June 17, 2010
Penonton “Pasti” Lebih Hebat.
“Waduuuh...gitu aja gak bisa!” Teriak seseorang diluar sana. Sementara lainnya menyahut, “Guoblok!!, kan gak usah di oper lagi, tembak aja langsung.” Kurang puas satu orang lagi menambahkan, “Dasar, gitu aja gak gol!”
Hehe...tentu sahabat bisa menerka situasi seperti apa yang sedang terjadi diatas? Ya’ tepat sekali, pemandangan yang bisa dilihat selama sebulan ini. Perhelatan olah raga sepak bola terbesar di dunia digelar empat tahun-an yang berlangsung di Afrika Selatan. Banyak mata tertuju padanya sehingga, tahun 2006 saat pertandingan final di Jerman diperkirakan 715 juta lebih pasang mata melihatnya. Bagai hipnosis, setiap orang sangat TERASOSIASI dalam setiap pertandingan, serasa begitu dekat begitu nyata...hehe..seperti slogan operator telekomunikasi ya...
Oops! Terasosiasi? Bukannya malah Ter-disosiasi? Hmmm...betul juga. Apa pasal? Ya jika Anda mencermati kejadian diatas, mereka begitu ‘enteng’nya berkomentar tanpa mempertimbangkan hal-hal yang ada pada saat itu di lapangan atau pada diri si pemain sendiri. Pokoknya penontonnya lebih hebat deh...Sampai-sampai saya berkelakar pada diri sendiri, “Waaah dahsyat...ternyata aku selama ini bertetangga dengan juara-juara piala dunia...hahaha...”
Tentu Sahabat masih ingat yang dimaksud dengan terasosiasi dan disosiasi. Ketika Anda dapat dengan jelas merasakan, mendengar, serta melihat kejadian yang telah terjadi, yang sedang berlangsung, atau yang masih dalam bayangan Anda atau bahkan kejadian yang terjadi pada orang lain, itu disebut terasosiasi. Pernah melihat seseorang yang menangis ketika menonton film? Nah kondisi terasosiasi ya seperti itu. Seolah yang tengah ditonton terjadi ada dirinya. Sedangkan Anda disampingnya sambil ‘nyengir-nyengir’ merasa aneh berkata, “Walah...begitu aja kok nangis sih! Mereka nangis dibayar...lha kamu?” hehe...orang tersebut tentu akan berkata, paling tidak dalam hati, “Bebas dong, mata punya gue...kan sedih tauk!!”. Teman Anda terasosiasi sedang Anda disosiasi, Anda merasa berada diluar kejadian itu sehingga pikiran Anda tidak dipengaruhi apa yang sedang ditonton. Ingat...Hal ini bukan berarti Anda tidak menonton. Anda melakukan hal yang sama, menonton tontonan yang sama tetapi Anda memilih berada di ‘luar’ yang dirasakan teman Anda.
Bicara tentang asosiatif dan disosiatif, saya menjawab pesan dalam Dinding Facebook saya. Pesan dari seorang sahabat yang ingin menjadi lebih percaya diri. Mungkin karena ia melihat saya berdiri di depan kelas menyampaikan materi dan ia pikir saya percaya diri. Hmmm...itu salah, yang benar adalah saya sudah terlampau percaya diri bahkan bisa disebut kurang waras..hahaha...
Pesannya berbunyi demikian, “Pagi Pak Andrie, thanks sudah di confirm...kapan-kapan pengen ngobrol nih supaya ketularan PD nya.”
Saya menjawab, “PD (Percaya Diri) adalah perkara kita mempercayai diri sendiri atau tidak. Jika tidak,lalu siapa lagi yg lebih dipercaya?Atau ganti saja PD dgn POL (Percaya Orang Lain) atau PAS (Percaya Andrie Saja)...hehehehe...
Menggunakan cara orang-orang menonton sepak bola dapat membuat seseorang yang belum percaya diri menjadi percaya diri. Percaya deh! Tapi jangan percaya saya. Sekali Anda percaya saya, Dosa Anda tidak terampuni alias Musyrik...hehehe...lebih baik percaya pada Tuhan!.
Bedanya dengan penonton sepak bola, mereka hanya dapat melihat kekurangan pemain tanpa dapat memperbaikinya alias Cuma teriak-teriak hingga suara serak dan bisa-bisa tenggorokan tersedak.
Dengan teknik ini, Anda dapat menjadi penonton sekaligus pemain. Penonton yang bersorak sorasi tanpa beban den mengomentari permainan dan pemain yang selalu mendedikasikan dirinya bagi penonton untuk menyajikan permainan-permainan indah. Hebatnya jika ada koreksi dari penonton, sang pemain dapat langsung memperbaiki dengan ikhlas tentunya, karena penonton dan pemain orangnya ya itu-itu juga.
Kalau sudah paham, mari kita lanjut ke permainannya.
Pertama, silakan pilih satu situasi ketika anda kurang PD alias Percaya Diri. Misalnya ketika harus berbicara didepan umum. Lutut gemetar, keringat bercucuran besar-besar, bibir terkunci dan mata terpatri hanya melihat kearah kaki. Suara serak, tangan tak bisa bergerak. Pandangan berkunang-kunang sepertinya tekanan darah berkurang. Rasakan sekali lagi situasinya. Tentu Anda masih dapat melihat dengan jelas apa yang ada disana. Orang-orang dan benda-benda disekitarnya dengan warna-warna yang sangat jelas, juga tentu Anda masih dapat mendengar suara-suara pada kejadian itu. Jelas dan jernih sekali. Seperti memutar sebuah film, Anda dapat menyaksikan kembali kejadian dari awal hingga akhir.
Langkah berikutnya, silakan Anda “keluar” dari diri Anda...Sekarang! Biarkan situasinya dalam kondisi “pause” beku tidak bergerak dan cari lah tempat yang aman untk menonton. Mungkin dari jarak yang agak jauh itu lebih baik. Putar lagi Filmnya dan perhatikan. Lihat dengar dan rasakan, apa yang membuat Anda tidak PD saat itu. Bisa jadi cara bicara Anda atau mungkin pemilihan kata-katanya, bahkan pengetahuan yang pada saat itu belum memadai, atau pakaian Anda, mungkin cara duduk dan postur tubuh Anda yang harus diperbaiki, dan sebagainya. Catat dengan cermat sehingga Anda dengan mudah mencari jawabannya.
Kini saatnya mencari jawaban. Jika pada saat itu situasinya berbeda dari saat ini, jika saat itu Anda masih kekurangan sumberdaya dan saat ini sudah cukup dengan pelatihan-pelatihan dan lokakarya, maka dengan mudah Anda dapat memperbaiki alias sebagai penonton Anda dapat berkomentar terhadap apa yang baru saja Anda tonton. Namun jika Anda belum mendapatkan jawabannya dari dalam diri Anda sendiri, silakan cari dari orang yang Anda tahu memiliki kemampuan dalam mengatasi situasi ini. Putar filmnya bagaimana ia melakukannya. Setelah mengulang-ulangnya beberapa kali, masuklah dalam tubuh orang itu dan ikutlah bergerak den bertindak seperti orang itu melakukannya. Setelah Anda mahir. Stop dan keluarlah dari tubuh orang itu. Anda telah mendapatkan sumberdaya baru.
Putar lagi film pertama Anda. Perhatikan sekali lagi. Bagus! Siap memutar lagi filmnya saat ini dengan perubahan skenario sesuai sumberdaya yang baru. Jadilah sutradaranya. Dengan begitu Anda tetap dapat melihat secara keseluruhan dan dengan bebas dapat berkomentar. Ulangi sampai setiap adegan berjalan sangat baik. Jika sudah, silakan lanjut ke tahap selanjutnya.
Sang bintang siap beraksi. Sebagai sutradara, sudah sepantasnya Anda memainkan film Anda sendiri, seperti Jackie Chan yang dapat melihat keseluruhan adegan dan sekaligus membintanginya, di Indonesia seperti Deddy Mizwar dalam film-filmnya. Mainkan berulang-ulang sampai Anda merasa puas.
Nikmati film Anda, sekarang bagaimana rasanya. Saya yakin dengan ini Anda menjadi semakin percaya diri. Setelah itu, Anda dapat melakukannya secara nyata dalam kehidupan sehari hari.
Kepercayaan diri adaah bagai mana kita mempercayai diri sendiri. Percaya diri sendiri setelah kita menyadari bahwa kita penuh dengan sumberdaya yang dibutuhkan. Jika saat ini masih kekurangan, cari lah. Dengan mudah Anda dapat langsung meng”ambil”nya dari orang yang Anda kenal. Jika masih cukup waktu Anda dapat menambahkannya dari buku-buku.
Beberapa waktu lalu ketika sedang dirumah menikmati waktu bersama keluarga dan saya sedang berperan sebagai petugas dapur yang sedang membersih perabotan makan, alias NyuPir...Nyuci Piring...Anak saya sekonyong-konyong berujar,
“Pak, temen Irfan lebih kaya lho dari kita.”
Sambil melanjutkan cucian ditangan dan belum sempat menjawab, istri saya menimpali, “Fan, berapa banyak buku yang sudah dia baca?”
“Kekayaan yang Kamu maksud tadi bisa rusak dan hancur, tetapi pengetahuanmu akan menjadi keterampilan yang bermanfaat dan itulah kekayaan yang sebenarnya.”
Wah...senang saya mendengarnya, dan memang itu juga yang saya pikirkan namun istri saya dengan cepat merangkainya menjadi kalimat yang apik dan menawarkan anak saya jawaban yang penuh dengan sumberdaya.
Saya belajar dari Anak saya karena ia begitu Percaya Diri.
Hehe...tentu sahabat bisa menerka situasi seperti apa yang sedang terjadi diatas? Ya’ tepat sekali, pemandangan yang bisa dilihat selama sebulan ini. Perhelatan olah raga sepak bola terbesar di dunia digelar empat tahun-an yang berlangsung di Afrika Selatan. Banyak mata tertuju padanya sehingga, tahun 2006 saat pertandingan final di Jerman diperkirakan 715 juta lebih pasang mata melihatnya. Bagai hipnosis, setiap orang sangat TERASOSIASI dalam setiap pertandingan, serasa begitu dekat begitu nyata...hehe..seperti slogan operator telekomunikasi ya...
Oops! Terasosiasi? Bukannya malah Ter-disosiasi? Hmmm...betul juga. Apa pasal? Ya jika Anda mencermati kejadian diatas, mereka begitu ‘enteng’nya berkomentar tanpa mempertimbangkan hal-hal yang ada pada saat itu di lapangan atau pada diri si pemain sendiri. Pokoknya penontonnya lebih hebat deh...Sampai-sampai saya berkelakar pada diri sendiri, “Waaah dahsyat...ternyata aku selama ini bertetangga dengan juara-juara piala dunia...hahaha...”
Tentu Sahabat masih ingat yang dimaksud dengan terasosiasi dan disosiasi. Ketika Anda dapat dengan jelas merasakan, mendengar, serta melihat kejadian yang telah terjadi, yang sedang berlangsung, atau yang masih dalam bayangan Anda atau bahkan kejadian yang terjadi pada orang lain, itu disebut terasosiasi. Pernah melihat seseorang yang menangis ketika menonton film? Nah kondisi terasosiasi ya seperti itu. Seolah yang tengah ditonton terjadi ada dirinya. Sedangkan Anda disampingnya sambil ‘nyengir-nyengir’ merasa aneh berkata, “Walah...begitu aja kok nangis sih! Mereka nangis dibayar...lha kamu?” hehe...orang tersebut tentu akan berkata, paling tidak dalam hati, “Bebas dong, mata punya gue...kan sedih tauk!!”. Teman Anda terasosiasi sedang Anda disosiasi, Anda merasa berada diluar kejadian itu sehingga pikiran Anda tidak dipengaruhi apa yang sedang ditonton. Ingat...Hal ini bukan berarti Anda tidak menonton. Anda melakukan hal yang sama, menonton tontonan yang sama tetapi Anda memilih berada di ‘luar’ yang dirasakan teman Anda.
Bicara tentang asosiatif dan disosiatif, saya menjawab pesan dalam Dinding Facebook saya. Pesan dari seorang sahabat yang ingin menjadi lebih percaya diri. Mungkin karena ia melihat saya berdiri di depan kelas menyampaikan materi dan ia pikir saya percaya diri. Hmmm...itu salah, yang benar adalah saya sudah terlampau percaya diri bahkan bisa disebut kurang waras..hahaha...
Pesannya berbunyi demikian, “Pagi Pak Andrie, thanks sudah di confirm...kapan-kapan pengen ngobrol nih supaya ketularan PD nya.”
Saya menjawab, “PD (Percaya Diri) adalah perkara kita mempercayai diri sendiri atau tidak. Jika tidak,lalu siapa lagi yg lebih dipercaya?Atau ganti saja PD dgn POL (Percaya Orang Lain) atau PAS (Percaya Andrie Saja)...hehehehe...
Menggunakan cara orang-orang menonton sepak bola dapat membuat seseorang yang belum percaya diri menjadi percaya diri. Percaya deh! Tapi jangan percaya saya. Sekali Anda percaya saya, Dosa Anda tidak terampuni alias Musyrik...hehehe...lebih baik percaya pada Tuhan!.
Bedanya dengan penonton sepak bola, mereka hanya dapat melihat kekurangan pemain tanpa dapat memperbaikinya alias Cuma teriak-teriak hingga suara serak dan bisa-bisa tenggorokan tersedak.
Dengan teknik ini, Anda dapat menjadi penonton sekaligus pemain. Penonton yang bersorak sorasi tanpa beban den mengomentari permainan dan pemain yang selalu mendedikasikan dirinya bagi penonton untuk menyajikan permainan-permainan indah. Hebatnya jika ada koreksi dari penonton, sang pemain dapat langsung memperbaiki dengan ikhlas tentunya, karena penonton dan pemain orangnya ya itu-itu juga.
Kalau sudah paham, mari kita lanjut ke permainannya.
Pertama, silakan pilih satu situasi ketika anda kurang PD alias Percaya Diri. Misalnya ketika harus berbicara didepan umum. Lutut gemetar, keringat bercucuran besar-besar, bibir terkunci dan mata terpatri hanya melihat kearah kaki. Suara serak, tangan tak bisa bergerak. Pandangan berkunang-kunang sepertinya tekanan darah berkurang. Rasakan sekali lagi situasinya. Tentu Anda masih dapat melihat dengan jelas apa yang ada disana. Orang-orang dan benda-benda disekitarnya dengan warna-warna yang sangat jelas, juga tentu Anda masih dapat mendengar suara-suara pada kejadian itu. Jelas dan jernih sekali. Seperti memutar sebuah film, Anda dapat menyaksikan kembali kejadian dari awal hingga akhir.
Langkah berikutnya, silakan Anda “keluar” dari diri Anda...Sekarang! Biarkan situasinya dalam kondisi “pause” beku tidak bergerak dan cari lah tempat yang aman untk menonton. Mungkin dari jarak yang agak jauh itu lebih baik. Putar lagi Filmnya dan perhatikan. Lihat dengar dan rasakan, apa yang membuat Anda tidak PD saat itu. Bisa jadi cara bicara Anda atau mungkin pemilihan kata-katanya, bahkan pengetahuan yang pada saat itu belum memadai, atau pakaian Anda, mungkin cara duduk dan postur tubuh Anda yang harus diperbaiki, dan sebagainya. Catat dengan cermat sehingga Anda dengan mudah mencari jawabannya.
Kini saatnya mencari jawaban. Jika pada saat itu situasinya berbeda dari saat ini, jika saat itu Anda masih kekurangan sumberdaya dan saat ini sudah cukup dengan pelatihan-pelatihan dan lokakarya, maka dengan mudah Anda dapat memperbaiki alias sebagai penonton Anda dapat berkomentar terhadap apa yang baru saja Anda tonton. Namun jika Anda belum mendapatkan jawabannya dari dalam diri Anda sendiri, silakan cari dari orang yang Anda tahu memiliki kemampuan dalam mengatasi situasi ini. Putar filmnya bagaimana ia melakukannya. Setelah mengulang-ulangnya beberapa kali, masuklah dalam tubuh orang itu dan ikutlah bergerak den bertindak seperti orang itu melakukannya. Setelah Anda mahir. Stop dan keluarlah dari tubuh orang itu. Anda telah mendapatkan sumberdaya baru.
Putar lagi film pertama Anda. Perhatikan sekali lagi. Bagus! Siap memutar lagi filmnya saat ini dengan perubahan skenario sesuai sumberdaya yang baru. Jadilah sutradaranya. Dengan begitu Anda tetap dapat melihat secara keseluruhan dan dengan bebas dapat berkomentar. Ulangi sampai setiap adegan berjalan sangat baik. Jika sudah, silakan lanjut ke tahap selanjutnya.
Sang bintang siap beraksi. Sebagai sutradara, sudah sepantasnya Anda memainkan film Anda sendiri, seperti Jackie Chan yang dapat melihat keseluruhan adegan dan sekaligus membintanginya, di Indonesia seperti Deddy Mizwar dalam film-filmnya. Mainkan berulang-ulang sampai Anda merasa puas.
Nikmati film Anda, sekarang bagaimana rasanya. Saya yakin dengan ini Anda menjadi semakin percaya diri. Setelah itu, Anda dapat melakukannya secara nyata dalam kehidupan sehari hari.
Kepercayaan diri adaah bagai mana kita mempercayai diri sendiri. Percaya diri sendiri setelah kita menyadari bahwa kita penuh dengan sumberdaya yang dibutuhkan. Jika saat ini masih kekurangan, cari lah. Dengan mudah Anda dapat langsung meng”ambil”nya dari orang yang Anda kenal. Jika masih cukup waktu Anda dapat menambahkannya dari buku-buku.
Beberapa waktu lalu ketika sedang dirumah menikmati waktu bersama keluarga dan saya sedang berperan sebagai petugas dapur yang sedang membersih perabotan makan, alias NyuPir...Nyuci Piring...Anak saya sekonyong-konyong berujar,
“Pak, temen Irfan lebih kaya lho dari kita.”
Sambil melanjutkan cucian ditangan dan belum sempat menjawab, istri saya menimpali, “Fan, berapa banyak buku yang sudah dia baca?”
“Kekayaan yang Kamu maksud tadi bisa rusak dan hancur, tetapi pengetahuanmu akan menjadi keterampilan yang bermanfaat dan itulah kekayaan yang sebenarnya.”
Wah...senang saya mendengarnya, dan memang itu juga yang saya pikirkan namun istri saya dengan cepat merangkainya menjadi kalimat yang apik dan menawarkan anak saya jawaban yang penuh dengan sumberdaya.
Saya belajar dari Anak saya karena ia begitu Percaya Diri.
Sunday, June 13, 2010
Saya Tidak Bertanggung Jawab Jika Membaca ini Anda Hebat dalam Berkomunikasi.
Cara berkomunikasi dipercaya memberikan kontribusi besar dalam kesuksesan dalam hidup. Mungkin ini mengapa pelajaran Bahasa dan Logika menjadi dianggap penting di hampir semua tingkatan pendidikan, walaupun seringkali pelajaran bahasa sekedar mempelajari struktur kalimat. Dan itupun terpisah dari pembahasan makna yang dihasilkan dari setiap struktur kalimat yang di bentuk. Dulu ketika saya belajar bahasa dan sangat berminat menjadi ahli bahasa, saya mempelajari Phonology (Ilmu Bunyi), Morphology (Ilmu pembentukkan kata), Syntax (Ilmu pembentukan kalimat), dan Semantic (Ilmu tentang makna kalimat). Batasan kesuksesan yang kita bahas disini tentu secara luas dimana setiap kali Anda, Sahabat, mendapatkan yang Anda inginkan, hal itu dapat disebut Anda sukses.
Seringkali tantangan yang banyak dihadapi adalah ketika seseorang tidak mampu memaknai peristiwa yang sedang terjadi pada dirinya dan kemudian menjadi beban dalam pikirannya. Jelas hal ini akan memberatkan langkahnya kearah kesuksesan yang dituju.
Inti dari terapi pikiran adalah memaknai ulang peristiwa-peristiwa bermuatan negatif dan melihat dari sudut pandang berbeda sehingga peristiwa tersebut menjadi bermuatan netral atau bahkan positif.
“Cuma itu doang, Ndrie, intinya?” Lha iya...butuh apa lagi, ketika sebuah kejadian terus teringat dan menjadi trauma kemudian dengan mengubah sudut pandangnya malah menjadi positif dan hilanglah traumanya. Dan kalau Cuma begitu saja, bagi setiap orang yang mau, proses penyembuhan begitu mudahnya.
Trauma merupakan program bawah sadar yang akan muncul dan menyusahkan orang tersebut ketika pemicunya dimunculkan. Banyak kasus trauma terselesaikan hanya dengan mengubah sudut pandang yang bersangkutan terhadap trauma tersebut.
Seseorang yang trauma karena bencana alam yang menghabisi seluruh keluarganya, hanya menyisakan dirinya, sembuh setelah diajak memaknai ulang kejadian atau bencana alam tersebut. “Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Anda tidak mati dalam bencana yang sama? Itu karena Tuhan ingin Anda menceritakan pada umat manusia dahsyatnya bencana ini dan menjadikannya sebagai pelajaran, dan Tuhan...memilih Anda untuk melakukannya.”
Ketika mengobati luka pada kaki anak saya, ia bertanya, “Sakit gak pak?” Kemudian apa yang harus saya jawab? Apakah harus mengatakan bahwa hal ini tidak sakit dan menyenangkan? Wah... ketika nantinya anak saya menyadari bahwa hal ini memang sakit, ia tidak akan mempercayai saya lagi untuk mengobati lukanya. Yang saya katakan adalah, “Ini memang sakit, dan rasa sakit ini artinya proses penyembuhan.” Begitu ia benar-benar merasakan sakit, ia bertanya, “Ini proses penyembuhan ya, pak?” saya mengangguk.
Seorang sahabat menelpon saya mengatakan bahwa ia baru saja berbincang dengan ‘Leader’ nya. Dalam perbincangan itu ‘Leader’nya mengatakan bahwa ‘Mindset’ sahabat saya dalam bisnis ini SALAH dan itu yang katanya menyebabkan Leader nya melihat dia tidak ‘berlari’ kencang dalam bidang ini. Setelah kami mendiskusikannya, saya, secara pribadi, tidak melihat ada yang salah dari Mindset-nya. Sahabat saya ini percaya ia akan berhasil jika ia dapat membuat orang-orang dibawahnya mencapai harapan mereka. Namun inilah yang ditentang Leader nya bahwa dalam berbisnis seharusnya ia memikirkan diri sendiri.
Sahabat saya ini sangat percaya pada ‘Leadernya’ dan memang seharusnya demikian, namun tetap terjadi konflik dalam dirinya. Tentu, karena disisi lain Mindset ini telah di pegang sejak lama. Untuk mengubahnya tentu membutuhkan waktu dan keikhlasan yang besar.
Jika diibaratkan buah mangga, Mindset adalah bijinya, sedangkan daging buah adalah Sikap (Attitude) dan kulitnya merupakan Perilaku (Behavior). Biji lah yang membentuk daging dan kulit. Sehingga mengubah Mindset hampir tidak mudah. Yang paling mungkin dilakukan adalah mengeser Mindset tersebut dan melakukannya tentu ada rasa “sakit” didalamnya. Ya...hampir tidak mungkin menggeser Biji mangga tanpa merusak Dagingnya. Bukan begitu, Bapak-Bapak? Jika Anda tidak percaya Bapak-Bapak, silakan Anda menggeser Biji nya...”Hah?”...maksudnya Biji Mangga nya...hehehe...
Yang saya lakukan adalah bukan Mindset yang diubah tetapi strateginya yg perlu diubah.
Saya mengajaknya untuk melihat Mindset “Salah” itu dari sudut pandang yang berbeda.
“Coba Kamu lihat Mindset ini dari sudut yang berbeda! Dengan keyakinan ini, artinya Kamu akan memimpin berdasarkan hati dan orang-orang di bawahmu tentu akan merasakan bahwa Kamu memimpinnya dengan Cinta. Dalam konteks yang berbeda jika hal ini Kamu terapkan pada klien-klien Kamu, hal ini akan menyisakan bekas mendalam karena Kamu melayani dengan hati. Tentu mereka yakin bahwa Kamu adalah yang terbaik dan mereka dengan senang hati akan mereferensikan namamu pada orang-orang lain.”
Dan ia pun menjawab “Nah, itu Ndrie! Yang sepertinya tidak ditangkap oleh Leaderku.”
“Nah pertanyaan berikutnya adalah jika Kamu masih memegang Outcome yang sama, dan sedang Kamu menghadapi masalah sekarang, apakah Sumberdayanya sudah mencukupi? Apakah Kamu memiliki orang yang siap di Model, tentu orang dengan Mindset serupa? Perhatikan dan pelajari, kemudian Model orang itu.”
Ia menjawab, “Ada, Ndrie!”
“Bagus lakukan sekarang!”
Tujuan haruslah tetap sama, yang diubah adalah Caranya atau Strateginya, dan selalu ada tujuan positif dari pilihan yang dibuat oleh setiap orang. Sahabat saya telah memilih Mindsetnya dan tentu saya harus menunjukkan tujuan positifnya dan memandang hal yang katanya “SALAH” dari sudut pandang yang berbeda sehingga ia menyadari bahwa yang ia pegang teguh selama ini memiliki makna yang baik dan tetap bermanfaat jika ditempatkan dalam konteks yang berbeda.
Jadi, kesimpulannya adalah memaknai ulang dari apa yang dimiliki. Dengan pemahaman yang berbeda proses pemaknaan ulang dapat dilakukan dengan baik. Tentu dalam proses Coaching, harus diikuti oleh tindakan.
Bagi Anda yang berurusan dengan banyak orang, teknik pemaknaan ulang ini merupakan teknik yang sangat ampuh dalam membantu mereka melihat masalahnya dan merasakan bahwa kemudian hal tersebut bukan lagi masalah. Menyelesaikan masalah tambah masalah...eh..tanpa masalah..hehehe..
Konon ada seorang suami mengeluhkan bahwa istrinya marah-marah lantaran sang suami tidak mau di cium oleh istrinya. Ternyata sang suami memegang keyakinan bahwa, “berciuman adalah pertukaran bakteri uniseksual dalam air liur.” Hal ini yang menyebabkan sang suami merasa jijik melakukannya.
Jika Anda adalah sang suami, saya akan mengajak anda melihat hal ini dari sudut pandang yang berbeda para ahli dibidangnya;
Ahli Fisika:
Ciuman adalah gaya tarik menarik antara dua mulut dimana jarak antara satu titik dan titik lain adalah nol.
Ahli Kimia:
Ciuman adalah reaksi akibat interaksi dari senyawa yang dikeluarkan dua hati.
Ahli Biologi:
Ciuman adalah menyatunya dua otot orbicularisoris dalam keadaan kontraksi.
Ahli Ekonomi:
Ciuman adalah sesuatu dimana permintaan lebih besar dari penawaran.
Ahli Elektro:
Ciuman adalah pertemuan antara ion positif dan negatif yang mengakibatkan arus lemah menjadi arus kuat.
Ahli Kedokteran:
Ciuman adalah proses pendiagnosisan fisik secara langsung yang mengakibatkan aliran darah ke organ reproduksi meningkat.
Ahli Psikologi:
Ciuman adalah proses penjiwaan terhadap pola pikir seseorang untuk mengetahui akan kenikmatan.
Ahli Senirupa:
Ciuman adalah sesuatu yang indah bila dinikmati bersama.
Ahli Ilmu Politik:
Ciuman adalah kemampuan untuk mentransformasi gesekan-gesekan konflik dari dua kelompok berbeda sehingga bisa menghasilkan hal positif (win-win solution).
Ahli Matematika:
Ciuman itu Gambling, sekarang mencium tinggal tunggu balasannya di tampar atau di balas cium.
Ahli Olahraga:
Ciuman adalah peregangan, pemanasan untuk olah raga yang lebih berat.
Hahahaha...tentu saja hal-hal diatas adalah guyon yang banyak terdapat dalam buku-buku humor yang kali ini saya kutip dari buku Super Great Memory, yang tentu seringkali guyon dibutuhkan dalam komunikasi.
Sekali lagi dilarang menghakimi orang lain dan lihat tujuan positif dibalik semua pilihan.
Jika Anda sudah merasa terprovokasi oleh tulisan ini, kirimkan DONASI berupa DOA yang dikirimkan ke REKENING SURGA milik saya... :)
Seringkali tantangan yang banyak dihadapi adalah ketika seseorang tidak mampu memaknai peristiwa yang sedang terjadi pada dirinya dan kemudian menjadi beban dalam pikirannya. Jelas hal ini akan memberatkan langkahnya kearah kesuksesan yang dituju.
Inti dari terapi pikiran adalah memaknai ulang peristiwa-peristiwa bermuatan negatif dan melihat dari sudut pandang berbeda sehingga peristiwa tersebut menjadi bermuatan netral atau bahkan positif.
“Cuma itu doang, Ndrie, intinya?” Lha iya...butuh apa lagi, ketika sebuah kejadian terus teringat dan menjadi trauma kemudian dengan mengubah sudut pandangnya malah menjadi positif dan hilanglah traumanya. Dan kalau Cuma begitu saja, bagi setiap orang yang mau, proses penyembuhan begitu mudahnya.
Trauma merupakan program bawah sadar yang akan muncul dan menyusahkan orang tersebut ketika pemicunya dimunculkan. Banyak kasus trauma terselesaikan hanya dengan mengubah sudut pandang yang bersangkutan terhadap trauma tersebut.
Seseorang yang trauma karena bencana alam yang menghabisi seluruh keluarganya, hanya menyisakan dirinya, sembuh setelah diajak memaknai ulang kejadian atau bencana alam tersebut. “Anda tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Anda tidak mati dalam bencana yang sama? Itu karena Tuhan ingin Anda menceritakan pada umat manusia dahsyatnya bencana ini dan menjadikannya sebagai pelajaran, dan Tuhan...memilih Anda untuk melakukannya.”
Ketika mengobati luka pada kaki anak saya, ia bertanya, “Sakit gak pak?” Kemudian apa yang harus saya jawab? Apakah harus mengatakan bahwa hal ini tidak sakit dan menyenangkan? Wah... ketika nantinya anak saya menyadari bahwa hal ini memang sakit, ia tidak akan mempercayai saya lagi untuk mengobati lukanya. Yang saya katakan adalah, “Ini memang sakit, dan rasa sakit ini artinya proses penyembuhan.” Begitu ia benar-benar merasakan sakit, ia bertanya, “Ini proses penyembuhan ya, pak?” saya mengangguk.
Seorang sahabat menelpon saya mengatakan bahwa ia baru saja berbincang dengan ‘Leader’ nya. Dalam perbincangan itu ‘Leader’nya mengatakan bahwa ‘Mindset’ sahabat saya dalam bisnis ini SALAH dan itu yang katanya menyebabkan Leader nya melihat dia tidak ‘berlari’ kencang dalam bidang ini. Setelah kami mendiskusikannya, saya, secara pribadi, tidak melihat ada yang salah dari Mindset-nya. Sahabat saya ini percaya ia akan berhasil jika ia dapat membuat orang-orang dibawahnya mencapai harapan mereka. Namun inilah yang ditentang Leader nya bahwa dalam berbisnis seharusnya ia memikirkan diri sendiri.
Sahabat saya ini sangat percaya pada ‘Leadernya’ dan memang seharusnya demikian, namun tetap terjadi konflik dalam dirinya. Tentu, karena disisi lain Mindset ini telah di pegang sejak lama. Untuk mengubahnya tentu membutuhkan waktu dan keikhlasan yang besar.
Jika diibaratkan buah mangga, Mindset adalah bijinya, sedangkan daging buah adalah Sikap (Attitude) dan kulitnya merupakan Perilaku (Behavior). Biji lah yang membentuk daging dan kulit. Sehingga mengubah Mindset hampir tidak mudah. Yang paling mungkin dilakukan adalah mengeser Mindset tersebut dan melakukannya tentu ada rasa “sakit” didalamnya. Ya...hampir tidak mungkin menggeser Biji mangga tanpa merusak Dagingnya. Bukan begitu, Bapak-Bapak? Jika Anda tidak percaya Bapak-Bapak, silakan Anda menggeser Biji nya...”Hah?”...maksudnya Biji Mangga nya...hehehe...
Yang saya lakukan adalah bukan Mindset yang diubah tetapi strateginya yg perlu diubah.
Saya mengajaknya untuk melihat Mindset “Salah” itu dari sudut pandang yang berbeda.
“Coba Kamu lihat Mindset ini dari sudut yang berbeda! Dengan keyakinan ini, artinya Kamu akan memimpin berdasarkan hati dan orang-orang di bawahmu tentu akan merasakan bahwa Kamu memimpinnya dengan Cinta. Dalam konteks yang berbeda jika hal ini Kamu terapkan pada klien-klien Kamu, hal ini akan menyisakan bekas mendalam karena Kamu melayani dengan hati. Tentu mereka yakin bahwa Kamu adalah yang terbaik dan mereka dengan senang hati akan mereferensikan namamu pada orang-orang lain.”
Dan ia pun menjawab “Nah, itu Ndrie! Yang sepertinya tidak ditangkap oleh Leaderku.”
“Nah pertanyaan berikutnya adalah jika Kamu masih memegang Outcome yang sama, dan sedang Kamu menghadapi masalah sekarang, apakah Sumberdayanya sudah mencukupi? Apakah Kamu memiliki orang yang siap di Model, tentu orang dengan Mindset serupa? Perhatikan dan pelajari, kemudian Model orang itu.”
Ia menjawab, “Ada, Ndrie!”
“Bagus lakukan sekarang!”
Tujuan haruslah tetap sama, yang diubah adalah Caranya atau Strateginya, dan selalu ada tujuan positif dari pilihan yang dibuat oleh setiap orang. Sahabat saya telah memilih Mindsetnya dan tentu saya harus menunjukkan tujuan positifnya dan memandang hal yang katanya “SALAH” dari sudut pandang yang berbeda sehingga ia menyadari bahwa yang ia pegang teguh selama ini memiliki makna yang baik dan tetap bermanfaat jika ditempatkan dalam konteks yang berbeda.
Jadi, kesimpulannya adalah memaknai ulang dari apa yang dimiliki. Dengan pemahaman yang berbeda proses pemaknaan ulang dapat dilakukan dengan baik. Tentu dalam proses Coaching, harus diikuti oleh tindakan.
Bagi Anda yang berurusan dengan banyak orang, teknik pemaknaan ulang ini merupakan teknik yang sangat ampuh dalam membantu mereka melihat masalahnya dan merasakan bahwa kemudian hal tersebut bukan lagi masalah. Menyelesaikan masalah tambah masalah...eh..tanpa masalah..hehehe..
Konon ada seorang suami mengeluhkan bahwa istrinya marah-marah lantaran sang suami tidak mau di cium oleh istrinya. Ternyata sang suami memegang keyakinan bahwa, “berciuman adalah pertukaran bakteri uniseksual dalam air liur.” Hal ini yang menyebabkan sang suami merasa jijik melakukannya.
Jika Anda adalah sang suami, saya akan mengajak anda melihat hal ini dari sudut pandang yang berbeda para ahli dibidangnya;
Ahli Fisika:
Ciuman adalah gaya tarik menarik antara dua mulut dimana jarak antara satu titik dan titik lain adalah nol.
Ahli Kimia:
Ciuman adalah reaksi akibat interaksi dari senyawa yang dikeluarkan dua hati.
Ahli Biologi:
Ciuman adalah menyatunya dua otot orbicularisoris dalam keadaan kontraksi.
Ahli Ekonomi:
Ciuman adalah sesuatu dimana permintaan lebih besar dari penawaran.
Ahli Elektro:
Ciuman adalah pertemuan antara ion positif dan negatif yang mengakibatkan arus lemah menjadi arus kuat.
Ahli Kedokteran:
Ciuman adalah proses pendiagnosisan fisik secara langsung yang mengakibatkan aliran darah ke organ reproduksi meningkat.
Ahli Psikologi:
Ciuman adalah proses penjiwaan terhadap pola pikir seseorang untuk mengetahui akan kenikmatan.
Ahli Senirupa:
Ciuman adalah sesuatu yang indah bila dinikmati bersama.
Ahli Ilmu Politik:
Ciuman adalah kemampuan untuk mentransformasi gesekan-gesekan konflik dari dua kelompok berbeda sehingga bisa menghasilkan hal positif (win-win solution).
Ahli Matematika:
Ciuman itu Gambling, sekarang mencium tinggal tunggu balasannya di tampar atau di balas cium.
Ahli Olahraga:
Ciuman adalah peregangan, pemanasan untuk olah raga yang lebih berat.
Hahahaha...tentu saja hal-hal diatas adalah guyon yang banyak terdapat dalam buku-buku humor yang kali ini saya kutip dari buku Super Great Memory, yang tentu seringkali guyon dibutuhkan dalam komunikasi.
Sekali lagi dilarang menghakimi orang lain dan lihat tujuan positif dibalik semua pilihan.
Jika Anda sudah merasa terprovokasi oleh tulisan ini, kirimkan DONASI berupa DOA yang dikirimkan ke REKENING SURGA milik saya... :)
Subscribe to:
Posts (Atom)