Halo Sahabat, Wah sudah lama kita tidak bertegur sapa. Berapa lama tepatnya kita tidak berjumpa? Sebulan, kah? Setahun? atau lebih?
Saya senang dapat menjumpai Anda dan apakah juga demikian hal nya dengan Anda? Jika itu yang terjadi, artinya saya baru saja menarik Anda dengan pikiran saya. Ini dalah mekanisme alam semesta yang saat ini dikenal sebagai Law of Attraction.
Hampir setiap orang rasanya mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Batasan kebahagiaan tentu berbeda bagi setiap orang. Anda dan saya bisa jadi memiliki konsep kebahagiaan yang berbeda.
"Ndrie, saya gak tau apa Kebahagiaan saya." beberapa kali ada orang-orang yang seolah tidak dapat menemukan kebahagiaannya padahal Anda tahu, Sahabat? Bahwa kebahagiaan ada di sekitar kita. Lalu bagai mana orang itu tidak bisa melihat kebahagiaannya?
Sederhana.
Karena ia menutup pikirannya untuk berbahagia dengan caranya sendiri. Padahal, untuk mendapatkan kebahagiaan yang besar, kita harus memulainya dengan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang ada disekitar kita. Perhatikan sekitar Anda dan apa yang membuat Anda tersenyum? Bisa jadi itu adalah kebahagiaan Anda.
Bagaimana Law of Attraction mengajarkan kita menarik Keberlimpahan?
Dunia dan alam semesta terikat satu sama lain, kita hidup di dunia ini dan kita bagian dari pergerakan alam semesta. Apa yang kita lakukan akan berdampak bagi penghuni alam semesta lainnya. sekecil apapun itu.
Ilustrasi sederhananya, bayang kan Anda berada dipinggir kolam dan perhatikan air nya yang tenang dan ambil kerikil kecil yang ada disekitar dan lemparkan ke tengah kolam. Apa yang terjadi? air bergelombang dan mencapai pinggir kolam.
Satu lemparan kecil namum se isi kolam menerima gelombangnya. Alam semesta ini juga memiliki mekanisme yang sama. Setiap hari energi keberlimpahan dilemparkan banyak orang di dunia ini. Ada orang yang dapat menerima gelombang ini dan memanfaatkannya sehingga keberlimpahan juga menjadi miliknya dan banyak juga yang tidak dapat menerimanya.
Selaras...
Ini kuncinya. Lihat lagi kolam tadi dan perhatikan daun teratai yang mengambang selaras dipermukaan kolam. Daun itu ikut bergoyang dan menerima aliran gelombang itu. Berbeda dengan tonggak kayu yang juga ada di kolam itu, tetap tegak tidak terpengaruh gelombangnya.
Bagaimana menyelaraskan pikiran? Banyak teknik yang diajarkan, prinsip sederhananya, semakin Anda berada dalam kondisi yang santai, semakin gelombang pikiran Anda siap menerima dan peka terhadap gelombang yang Anda pilih. Seperti sebuah radio yang menangkap siaran stasiun-stasiun Radio dan Anda berhak memilih berada di frekuensi mana.
Ambil posisi santai sekarang, pikirkan apa yang membuat Anda bahagia yang henda Anda tarik kedalam hidup Anda. Agar lebih sensasional, gunakan seluruh Indera Anda. Bayangkan, dengar suaranya,rasakan sensasi tubuh Anda saat Anda berhasil membayangkan dan mendengarnya.
Buka pikiran Anda. Tetap santai mengatur nafas Anda. Anda dapat menutup mata Anda pada sesi ini jika Anda menginginkannya. Bayangkan sinar yang menyenangkan dengan warna kesukaan Anda di atas kening kepala Anda dan biarkan sinarnya terbuka dan semakin bersinar dan membesar dan sinarnya terus membesar. Melebar dan tinggi menjulang. Semakin besar sinarnya dan semakin tinggi itu, akan menarik banyak hal dengan mudah.
Panggil bayangan kebahagiaan Anda dan biarkan perlahan kebahagiaan itu tertarik masuk kedalam tubuh melalui kepala Anda. Satukan dengan diri Anda dan nikmati rasanya. Rasa saat Anda memilikinya.
Seelah masuk semua, silakan nikmati perasaah Anda seolah anda sedang memndapatkan yang diinginkan. Nikmati, Sahabat... Nikmati... Simpan pikiran itu dalam pikiran anda dan biarkan itu menjadi program dalam pikiran Anda yang menggerakkan tubuh dan pikiran pada hal-hal yang Anda inginkan.
Beberapatahun lalu, saat saya bekerja bersama seorang konsultan pendidikan dan saya terinspirasi melakukan seperti yang ia lakukan. Berdiri dan berbicara didepan ratusan orang tua dan berbicara tentang pendidikan. Hal itu sebentar lagi juga terjadi padaku setelah sebuah lembaga pendidikan memintaku untuk berbicara didepan ratusan orang tua siswa di lembaga itu. Benar-benar perasaan yang luar biasa.
Setelah saya mengetahui teknik ini, banyak hal yang saya tarik masuk kedalam hidup saya dan kebahagiaan selalu membanjiri hati dan pikiran ini.
Seandainya Aku mengetahui ilmu ini sejak awal, apa yang aku inginkan pasti akan terjadi lebih cepat sesuai keinginan.
Selamat Mempraktikkan, Sahabat!
"Jika Anda tidak mau membuka pikiran Anda, Bagaimana keberlimpahan bisa masuk kedalam hidup Anda?"
PERHATIAN: Anda tetap harus berdoa sesuai keyakinan masing-masing karena yang demikian membuat Anda menjadi lebih santai dan ikhlas dengan apa saja yang terjadi.
Blog yang diniatkan berisi inspirasi agar diri ini termotivasi dan menginspirasi banyak orang lagi.
Sunday, May 29, 2011
Sunday, March 13, 2011
Kalau kau Pernah Takut Mati, Sama… (Lemparkan saja!)
Halo Sahabat, sudah lama rasanya tidak menyapa Anda semua. Rindu rasanya menulis untuk Anda, berbagi manfaat untuk kemudian Anda bagikan kembali pada orang-orang tercinta disekitar Anda. Seperti tujuan setiap saya menulis, selalu ingin menjadi virus positif yang menyebar menginfeksi semua pikiran manusia disegala penjuru dunia. (Hehehe... gak bermaksud lebay, Sahabat... ini beneran)
Judul diatas saya ambil dari potongan lirik lagu Letto;”Sampai Nanti-Sampai Mati”. Secara tidak kebetulan cocok untuk menceritakan pengalaman saya membantu orang lain mengendalikan fobia.
Isu tentang kematian merupakann ide yang yang dapat menyebar ke setiap pikiran manusia bagaikan virus yang menginfeksi. Ketakutan akan mati membuat orang menggunakan cara-cara untuk menghindarinya atau paling tidak mempersiapkannya.
Itu mengapa ide tentang Asuransi menjadi menarik untuk dibeli karena isu kematian ini, dan ide menonton film horor yang penuh dengan adegan kematian juga masih tetap laris di masyarakat, Bahkan acara-acara yang berhubungan dengan kekerasan terus memeroleh rating tinggi di televisi. Acara terakhir yang masih hangat adalah terjadinya Tsunami Jepang baru-baru ini dan ancaman gelombangnya yang diperkirakan sampai ke Indonesia yang, Thanks God, tidak terjadi.
Fobia sendiri dapat diartikan sebagai ketakutan yang berlebihan pada hal-hal tertentu. Ketika stimulus (rangsangan) penyebab fobia dimunculkan, ketakutan yang luar biasa akan muncul dan akan sangat mengganggu aktifitas dalam hidup pengidapnya.
Mungkin bagi banyak orang ketakutan berlebih pada cicak adalah hal yang lucu karena cicak adalah hewan kecil yang lemah, tetapi bagi pengidap fobia binatang ini terlihat sangat besar dan menakutkan.
Saat berada di Timika-Papua dalam rangkaian pelatihan tiga hari disela-sela makan malam, saya berkesempatan membantu seseorang mengendalikan perasaan takutnya. Bukan menghilangkan, Sahabat. Tetapi mengendalikannya.
Saat itu kami berlima, tiga orang Agency Manager sebuah perusahaan asuransi dan Bu Anna (bukan nama sebenarnya), istri dari salah satu Manager tadi.
Bu Anna bercerita tentang Fobia Ketinggian nya. Bagaimana keringatnya bercucuran dan jantungnya berguncang seperti hampir copot, katanya.
“Bu, yang seperti ini sih saya sudah biasa hadapi, gampang Bu.” Kata saya yang tidak bermaksud sombong tetapi sedang membangun kredibilitas. Seperti seorang dokter yang membangun kredibilitas dengan jas putihnya, dan bukan kebetulan salah satu dari Manager itu adalah dokter bedah.
“Tapi Bu Anna tahu kan, bahwa kebanyakan orang takut mati? Atau Bu Anna bisa menanyakan pada setiap orang di rumah makan ini apakah mereka punya kekhawatiran saat berada dalam setiap penerbangan.”
“Iya, Pak.” Jawabnya.
Penting dalam sebuah terapi untuk memiliki batasan-batasan normal sehingga klien tahu apakah ia sudah berhasil keluar dari ketakutannya atau belum.
“Pertanyaan saya adalah apakah Bu Anna benar-benar ingin saya bantu dan apa pentingnya bagi Bu Anna terbebas dari ketakutan ini?” Ini adalah pertanyaan komitmen dan kontrak tidak tertulis antara klien dan terapisnya. Fungsi saya sebagai terapis hanya membantu dan usaha klien sendiri lah yang membuat ia terbebas dari ketakutan yang berlebih.
“Ya penting lah, Pak. Kami kan sering bepergian menggunakan pesawat dan setiap kali melakukan perjalanan saya menderita.” Jawab Bu Anna.
“Betul, Pak. Setiap kali lepas landas tangan saya di cengkeram kuat.” Timpal pak Baim, suaminya, sambil memperagakan bagaimana istrinya mencengkeram tangannya.
“Nah, malah bagus dong. Jadi lebih mesra...hehehe...” Sahut saya. Memaknai kembali cengkraman tangan dengan makna yang positif dapat mengurangi ketegangan.
“Iya juga sih, pak, hehehe...” Setuju pak Baim.
Canda dalam sesi terapi juga dibutuhkan untuk menunjukkan pada klien bahwa semuanya terkendali.
“Nah bapak-bapak, sekarang silakan diperhatikan dan teknik ini bisa saja bermanfaat untuk agen-agen yang trauma ditolak nasabah...hehehe...” Lanjut saya dan para leader itu pun memerhatikan.
“Bu Anna, saat ketakutan itu datang apa yang Bu Anna bayangkan?” Tanya saya.
“Pesawatnya jatuh ke laut, Pak.” Jawabnya sambil menunjukkan wajah ketakutan..
“Dalam skala 1 – 10, 1 (satu) adalah tidak terlalu mengganggu dan 10 (sepuluh) sangat-sangat mengganggu. Ketakutan bu Anna skalanya berapa?” Periksa saya.
“10, Pak.” Jawabnya cepat.
“Ketika saya minta membayangkan ketakutan itu, apakah pesawatnya terlihat besar atau kecil, jauh atau dekat, terdengar suara?” Selidik saya.
“Besar sekali, Pak. Pesawatnya meledak di udara sebelum masuk ke laut.” Jawabnya dengan bahasa tubuh yang semakin ketakutan.
“Tenang Bu Anna, setiap yang saya minta pasti aman karena Bu Anna juga tahu bahwa kita masih tetap ada disini tapi memang saya ingin Bu Anna merasakan rasa yang selama ini mengganggu Bu Anna.” Saya memastikan pada klien bahwa cara ini aman dan saya tidak ingin ia mengalami serangan jantung.
“Bu Anna, sekarang buat gambarnya menjadi hitam putih dan perkecil gambarnya dan buat gambarnya semakin kecil dan menjauh.” Pinta saya sambil memerhatikan perubahan-perubahan yang ditunjukkan wajah dan bahasa tubuhnya tanpa ia sadari.
“Dari satu sampai sepuluh, apakah ada perubahan? Berapa angkanya sekarang?” Tanya saya.
“Lima, Pak.”
“Hebat, kunci gambarnya disana.”
“Apa yang Bu Anna bayangkan saat Bu Anna menginginkan ketenangan?.”
“Anak saya, Pak” Jawab Bu Anna.
“Baik, sekarang saya taruh bayangan ketakutan Bu Anna di kanan atas (sambil menggerakkan tangan kanan saya ke atas) dan saya menaruh bayangan anak Bu Anna di sebelah kiri atas (dan menggerakkan tangan kiri saya ke atas). Dan perhatikan saya menarik ketakutan Bu Anna ke tengah (saya menggerakkan tangan saya ke tengah) dan saya membawa bayangan anak Bu Anna menutupinya (saya menggerakkan tangan kiri saya menutupi tangan kanan saya). Sekarang dari 1 – 5 berapa skala nya?”
“3 (tiga), Pak.”
“Hebat...sekarang yang terakhir.” Sambil mengambil sebuah kotak tisu tangan dan bertanya padanya.
“Bu Anna tahu ini apa?
“Tisu, pak.”
“Apa yang akan terjadi dalam kotak ini kalau tisunya saya lempar-lempar seperti ini?” Sambil menarik tisu dengan tangan kanan dan kiri melempar beberapa tisu ke kanan dan ke kiri.
“Kotaknya kosong, Pak.”
“Benar, sekarang kita akan kosongkan angka 3 tadi dengan cara yang sama dalam bayangan Bu Anna. Setiap kali saya katakan ‘muncul’, Bu Anna lempar bayangannya ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Bu Anna bisa sambil menyuarakan prosesnya biar lebih asyik. Dengan suara apapun yang Bu Anna suka, seperti “Swis”, “Wuss”, “Tring”, dan lain sebagainya. Bu Anna akan sangat bersenang-senang dalam prosesnya. Bu Anna dapat menghentikan prosesnya saat dirasa cukup.”
“Siap, Bu.”
“Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”.
Bu Anna melakukannya dengan menutup mata dan dari mulutnya hanya terdengar bunyi “Wuss”. Terlihat wajahnya yang awalnya menegang kemudian menjadi berubah santai. Itu tanda bahwa ia sudah bisa mengatasi ketakutannya.
“Sudah, Pak.” Katanya dengan senyum dan membuka matanya.
“Sudah, Bu? Sekarang kalau saya minta memunculkan bayangan itu, apa yang Bu Anna rasakan?”
“Sudah tidak mengganggu seperti tadi, Pak.”
“Bagus, dan mulai saat ini, memang perasaan ini yang Bu Anna tahu dan setiap kali ada perasaan yang mengganggu, caranya mudah, Lemparkan saja!...hehehe....”
Rasa takut adalah manusiawi, dan rasa takut bukan untuk dihilangkan karena melakukannya berarti menghilangkan sisi kemanusiaan kita. Dan itu pentingnya Tuhan ada sehingga kita selalu berdoa terutama saat rasa takut itu datang. Manusia sebagai mahluk perasa, rasa takut datang dan pergi. Sadarilah bahwa rasa ini adalah biasa.
Jika rasa tidak nyaman datang? Lemparkan saja...
Judul diatas saya ambil dari potongan lirik lagu Letto;”Sampai Nanti-Sampai Mati”. Secara tidak kebetulan cocok untuk menceritakan pengalaman saya membantu orang lain mengendalikan fobia.
Isu tentang kematian merupakann ide yang yang dapat menyebar ke setiap pikiran manusia bagaikan virus yang menginfeksi. Ketakutan akan mati membuat orang menggunakan cara-cara untuk menghindarinya atau paling tidak mempersiapkannya.
Itu mengapa ide tentang Asuransi menjadi menarik untuk dibeli karena isu kematian ini, dan ide menonton film horor yang penuh dengan adegan kematian juga masih tetap laris di masyarakat, Bahkan acara-acara yang berhubungan dengan kekerasan terus memeroleh rating tinggi di televisi. Acara terakhir yang masih hangat adalah terjadinya Tsunami Jepang baru-baru ini dan ancaman gelombangnya yang diperkirakan sampai ke Indonesia yang, Thanks God, tidak terjadi.
Fobia sendiri dapat diartikan sebagai ketakutan yang berlebihan pada hal-hal tertentu. Ketika stimulus (rangsangan) penyebab fobia dimunculkan, ketakutan yang luar biasa akan muncul dan akan sangat mengganggu aktifitas dalam hidup pengidapnya.
Mungkin bagi banyak orang ketakutan berlebih pada cicak adalah hal yang lucu karena cicak adalah hewan kecil yang lemah, tetapi bagi pengidap fobia binatang ini terlihat sangat besar dan menakutkan.
Saat berada di Timika-Papua dalam rangkaian pelatihan tiga hari disela-sela makan malam, saya berkesempatan membantu seseorang mengendalikan perasaan takutnya. Bukan menghilangkan, Sahabat. Tetapi mengendalikannya.
Saat itu kami berlima, tiga orang Agency Manager sebuah perusahaan asuransi dan Bu Anna (bukan nama sebenarnya), istri dari salah satu Manager tadi.
Bu Anna bercerita tentang Fobia Ketinggian nya. Bagaimana keringatnya bercucuran dan jantungnya berguncang seperti hampir copot, katanya.
“Bu, yang seperti ini sih saya sudah biasa hadapi, gampang Bu.” Kata saya yang tidak bermaksud sombong tetapi sedang membangun kredibilitas. Seperti seorang dokter yang membangun kredibilitas dengan jas putihnya, dan bukan kebetulan salah satu dari Manager itu adalah dokter bedah.
“Tapi Bu Anna tahu kan, bahwa kebanyakan orang takut mati? Atau Bu Anna bisa menanyakan pada setiap orang di rumah makan ini apakah mereka punya kekhawatiran saat berada dalam setiap penerbangan.”
“Iya, Pak.” Jawabnya.
Penting dalam sebuah terapi untuk memiliki batasan-batasan normal sehingga klien tahu apakah ia sudah berhasil keluar dari ketakutannya atau belum.
“Pertanyaan saya adalah apakah Bu Anna benar-benar ingin saya bantu dan apa pentingnya bagi Bu Anna terbebas dari ketakutan ini?” Ini adalah pertanyaan komitmen dan kontrak tidak tertulis antara klien dan terapisnya. Fungsi saya sebagai terapis hanya membantu dan usaha klien sendiri lah yang membuat ia terbebas dari ketakutan yang berlebih.
“Ya penting lah, Pak. Kami kan sering bepergian menggunakan pesawat dan setiap kali melakukan perjalanan saya menderita.” Jawab Bu Anna.
“Betul, Pak. Setiap kali lepas landas tangan saya di cengkeram kuat.” Timpal pak Baim, suaminya, sambil memperagakan bagaimana istrinya mencengkeram tangannya.
“Nah, malah bagus dong. Jadi lebih mesra...hehehe...” Sahut saya. Memaknai kembali cengkraman tangan dengan makna yang positif dapat mengurangi ketegangan.
“Iya juga sih, pak, hehehe...” Setuju pak Baim.
Canda dalam sesi terapi juga dibutuhkan untuk menunjukkan pada klien bahwa semuanya terkendali.
“Nah bapak-bapak, sekarang silakan diperhatikan dan teknik ini bisa saja bermanfaat untuk agen-agen yang trauma ditolak nasabah...hehehe...” Lanjut saya dan para leader itu pun memerhatikan.
“Bu Anna, saat ketakutan itu datang apa yang Bu Anna bayangkan?” Tanya saya.
“Pesawatnya jatuh ke laut, Pak.” Jawabnya sambil menunjukkan wajah ketakutan..
“Dalam skala 1 – 10, 1 (satu) adalah tidak terlalu mengganggu dan 10 (sepuluh) sangat-sangat mengganggu. Ketakutan bu Anna skalanya berapa?” Periksa saya.
“10, Pak.” Jawabnya cepat.
“Ketika saya minta membayangkan ketakutan itu, apakah pesawatnya terlihat besar atau kecil, jauh atau dekat, terdengar suara?” Selidik saya.
“Besar sekali, Pak. Pesawatnya meledak di udara sebelum masuk ke laut.” Jawabnya dengan bahasa tubuh yang semakin ketakutan.
“Tenang Bu Anna, setiap yang saya minta pasti aman karena Bu Anna juga tahu bahwa kita masih tetap ada disini tapi memang saya ingin Bu Anna merasakan rasa yang selama ini mengganggu Bu Anna.” Saya memastikan pada klien bahwa cara ini aman dan saya tidak ingin ia mengalami serangan jantung.
“Bu Anna, sekarang buat gambarnya menjadi hitam putih dan perkecil gambarnya dan buat gambarnya semakin kecil dan menjauh.” Pinta saya sambil memerhatikan perubahan-perubahan yang ditunjukkan wajah dan bahasa tubuhnya tanpa ia sadari.
“Dari satu sampai sepuluh, apakah ada perubahan? Berapa angkanya sekarang?” Tanya saya.
“Lima, Pak.”
“Hebat, kunci gambarnya disana.”
“Apa yang Bu Anna bayangkan saat Bu Anna menginginkan ketenangan?.”
“Anak saya, Pak” Jawab Bu Anna.
“Baik, sekarang saya taruh bayangan ketakutan Bu Anna di kanan atas (sambil menggerakkan tangan kanan saya ke atas) dan saya menaruh bayangan anak Bu Anna di sebelah kiri atas (dan menggerakkan tangan kiri saya ke atas). Dan perhatikan saya menarik ketakutan Bu Anna ke tengah (saya menggerakkan tangan saya ke tengah) dan saya membawa bayangan anak Bu Anna menutupinya (saya menggerakkan tangan kiri saya menutupi tangan kanan saya). Sekarang dari 1 – 5 berapa skala nya?”
“3 (tiga), Pak.”
“Hebat...sekarang yang terakhir.” Sambil mengambil sebuah kotak tisu tangan dan bertanya padanya.
“Bu Anna tahu ini apa?
“Tisu, pak.”
“Apa yang akan terjadi dalam kotak ini kalau tisunya saya lempar-lempar seperti ini?” Sambil menarik tisu dengan tangan kanan dan kiri melempar beberapa tisu ke kanan dan ke kiri.
“Kotaknya kosong, Pak.”
“Benar, sekarang kita akan kosongkan angka 3 tadi dengan cara yang sama dalam bayangan Bu Anna. Setiap kali saya katakan ‘muncul’, Bu Anna lempar bayangannya ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Bu Anna bisa sambil menyuarakan prosesnya biar lebih asyik. Dengan suara apapun yang Bu Anna suka, seperti “Swis”, “Wuss”, “Tring”, dan lain sebagainya. Bu Anna akan sangat bersenang-senang dalam prosesnya. Bu Anna dapat menghentikan prosesnya saat dirasa cukup.”
“Siap, Bu.”
“Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”.
Bu Anna melakukannya dengan menutup mata dan dari mulutnya hanya terdengar bunyi “Wuss”. Terlihat wajahnya yang awalnya menegang kemudian menjadi berubah santai. Itu tanda bahwa ia sudah bisa mengatasi ketakutannya.
“Sudah, Pak.” Katanya dengan senyum dan membuka matanya.
“Sudah, Bu? Sekarang kalau saya minta memunculkan bayangan itu, apa yang Bu Anna rasakan?”
“Sudah tidak mengganggu seperti tadi, Pak.”
“Bagus, dan mulai saat ini, memang perasaan ini yang Bu Anna tahu dan setiap kali ada perasaan yang mengganggu, caranya mudah, Lemparkan saja!...hehehe....”
Rasa takut adalah manusiawi, dan rasa takut bukan untuk dihilangkan karena melakukannya berarti menghilangkan sisi kemanusiaan kita. Dan itu pentingnya Tuhan ada sehingga kita selalu berdoa terutama saat rasa takut itu datang. Manusia sebagai mahluk perasa, rasa takut datang dan pergi. Sadarilah bahwa rasa ini adalah biasa.
Jika rasa tidak nyaman datang? Lemparkan saja...
Friday, February 11, 2011
Kesadaran Internal Menjadi Kesadaran Eksternal dan Menjadi Internal Kembali
Satu asumsi menarik yang telah saya pelajari dan masih terus saya pelajari adalah bahwa, “Kita, manusia, tidak pernah tidak bisa tidak berkomunikasi.” Artinya kita semua disadari atau tidak selalu mengkomunikasikan apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Saat kita bahagia, tidak hanya mulut kita yang mengatakan kata ,”Bahagia” tetapi juga seluruh anggota tubuh kita mengatakannya; Mata, Rambut, Hidung, Bibir, Wajah, Warna kulit, Gerakan tubuh, Gerakan tangan, Nada bicara, dan lain masih banyak lagi.
Saya teringat pesan guru mengaji saya dimasa kanak-kanak bahwa di hari perhitungan nanti, ‘segalanya berbicara’, dan ini cocok dengan yang saya pelajari dalam ilmu psikologi. Wah makin seneng saya sama guru ngaji saya, jangan-jangan beliau sudah lebih dulu belajar tentang hipnosis dan ilmu teknologi pikiran lainnya...hehehe...
Sahabat, menariknya ilmu ini adalah bahwa Anda sebenarnya telah melakukannya dan kebanyakan dari Anda belum sadar. Nah, dari konsep inilah saya mengembangkan strategi Intenal-Eksternal-Internal.
Mari saya berikan contoh praktis dari konsep ini yang nantinya dapat diaplikasikan dalam komunikasi apapun yang Anda inginkan.
Sahabat saya di kantor, sebutlah Santi, sedang saya repotkan dengan beberapa pertanyaan tentang administrasi. Dan biasanya setelah saya merepotkan orang lain, saya harus bisa memberi manfaat supaya sahabat-sahabat disekitar saya dengan suka rela saya repotkan lagi nantinya.
Santi yang sedang mengandung bayinya yang kedua, saya lupa usia kandungannya saat itu karena saya bukan suaminya...hehehe..., mengeluhkan perut bagian atas dibawah dadanya serasa sakit. Sebagai ‘People Helper’ (Tukang bantu orang alias Pembantu) saya langsung memutuskan untuk membantu. Sebelum membantu, saya katakan bahwa teknik ini bisa mengurangi rasa sakit bahkan menghilangkannya, tapi tetap harus ada kontrol dari dokter karena bagaimanapun dokter tetap diperlukan, apa lagi jika kemudian sakitna berlanjut.
“San, mana tangan lo?” Saya meminta Santi untuk mengangkat kedua tangannya dan meletakkan diatas meja kerjanya dalam posisi punggung tangan diatas.
“Dua-duanya, Ndrie?”
“Kalo bisa Empat-empat nya, San!” Kami tertawa, dan Anda pasti juga tahu bahwa tertawa juga bisa mengurangi rasa sakit. Pada saat tertawa dan tersenyum dengan suka rela, enzim otak kita yang berfungsi sebagai “pain killer” diproduksi. Mirip morfin yang digunakan tentara Amerika saat perang Vietnam yang kemudian menjadi cikal bakal narkoba di seluruh dunia. Nah, dari pada kecanduan narkoba, bagaimana kalau kita setiap hari meluangkan waktu untuk tertawa?
Kembali ke cerita Santi, saya mengetuk punggung tangan kanannya sambil mengatakan, “Konsentrasi pada ketukannya dan konsentrasi pada rasa ketukannya. Yang menarik dari cara ini, ketukan yang gue lakukan disebelah kanan dapat dirasakan di tangan sebelah kiri.” Saya mengetuk punggung tangan kirinya untuk melatih sensasi ketukan di tangan kirinya. Bagi orang yang sangat sugestif, tanpa dilatih sensasi itu sudah dapat dirasakan. Karena pada prinsipnya yang saya percaya bahwa hipnoterapi adalah latihan mental.
Saya kembali mengetuk punggung tangan kanannya dan membiarkan Santi merasakan sensasi ketukan di punggung tangan kirinya. Saat bibirnya mulai senyum-senyum kecil, saya yakin ia sedang menikmati sensasi ketukan itu sambil mungkin sedikit bingung dalam pikirannya, “kok bisa,ya?” Seperti itulah kira-kira senyumnya mengatakan pada saya.
“San, yang lebih asyik lagi, lo bisa menyadari sakit di perut lo sekarang.” Saya menunggu sejenak Santi merasakan sakitnya dan kembali saya meminta Santi untuk merasakan ketukan jari saya.
“Sekarang, rasakan ketukan gue lagi dan hanya berkonsentrasi pada ketukan jari gue. Sambil menarik nafas panjang... dan menghembuskannya perlahan... menariknya lagi...dan menghembuskannya lagi... nikmati udara yang masuk dan keluar dan membuat lo menjadi sangat santai dan menjadi lebih peka terhadap ketukan gue. Begitu konsentrasi lo hanya pada ketukan ini dan perlahan, kekuatan pikiran lo mengalihkannya dari rasa sakit dan tetap berkonsentrasi pada ketukan sambil menarik dan menghembuskan nafas yang panjang dan dalam... santai... relaks... tenang....”
Ketukan yang semula saya lakukan lebih cepat dan saat ini saya lakukan dengan lebih lambat mengikuti tarikan dan hembusan nafasnya.
“San, yang lebih keren lagi, gue akan lepaskan ketukan gue tapi ketukan tersebut dengan iramanya masih terus terjadi pada diri lo dan lo rasakan itu. Rasakan sekarang, San.” Saya mulai melepas perlahan mengangkat jari saya namun masih memperagakan jari saya seolah mengetuk-ngetuk dan perlahan tapi pasti saya menyingkirkan jari saya dari pandangannya.
“Sambil merasakan ketukan ini, tetaplah mengatur nafas dengan baik, keluar dan masuk, dan rasakan kesegaran saat udara masuk dan biarkan kesegarannya memenuhi tubuh dan hembuskan segala rasa yang tidak diinginkan.”
Saya tetap membimbing Santi dan membiarkannya menikmati itu dan setelah beberapa saat menunggu, Santi pun terlihat berhenti dari latihan mentalnya.
“Sudah, Ndrie. Sakitnya sudah hilang.”
“Wow, Keren! San, sekali lagi gue tunjukkan... ini bukan karena gue yang hebat, tapi karena kekuatan pikiran lo yang sudah dilatih untuk berkonsentrasi. Hipnosis adalah konsentrasi” Saya mengatakan sambil senyum-senyum dan bangkit dari tempat duduk saya.
“Ndrie, padahal gue orang yang sulit berkonsentrasi?!”
“Hey... Look at you! Yang barusan lo lakukan itu adalah konsentrasi dan lo melakukannya dengan kesadaran penuh serta mata terbuka. Itu hipnosis.” Saya menjawab menyemangati.
“Ndrie, nanti waktu gue ngelahirin, suami gue minta tunggu diluar aja dan lo yang temenin gue ya!”
“Hahaha... mana bisa gitu? Suami lo aja yang datang ke gue,biar gue ajarin...” Menyadari percakapan sudah keluar jalur saya meninggalkannya ngeloyor untuk melanjutkan pekerjaan saya, eh kesenangan saya...hehehe...
Sahabat, yang baru saya lakukan pada Santi adalah mengajaknya untuk menyadari rasa yang ia rasakan pada dirinya dan membujuknya untuk merasakan sesuatu yang datangnya dari luar, menunjukkannya bahwa rasa ini juga rasa yang diperlukan. Bahkan rasa tersebut dapat dinikmati seolah nyata sedang terjadi padahal stimulus sebenarnya sudah dihentikan.
Konsep ini dapat kita gunakan untuk segala bentuk komunikasi, salah satunya adalah dalam penjualan.
Bagaimana konsep ini dimanfaatkan dalam komunikasi penjualan?
Salah satu hukum pikiran dalam persuasi adalah Law of Reciprocity. Konsepnya sederhana, beri dulu dan kemudian meminta. Manusia memiliki kecenderungan berbalas-balasan, dan alam diciptakan dengan keseimbangannya. Merasa tidak nyaman jika orang lain melakukan untuk kita dan kita tidak dapat memberikan sesuatu untuk orang itu. Dan saya melakukan sedikit modifikasi dalam hukum ini yaitu beri dulu dan kemudian berilah lebih banyak, semakin banyak memberi, semakin banyak orang yang kita beri akan kembali memberi yang lebih banyak untuk kita. Ingat! Konsentrasi kita hanya memberi. Menjual adalah persoalan memberi dan orang lain akan memberikan kembali pada kita sama besarnya dengan yang kita beri.
“Saya tidak butuh asuransi!”
“Jika Pak Ali tidak butuh asuransi, apakah itu sama artinya anak dan istri bapak juga tidak butuh asuransi?”
“Baiklah pak, Saya tidak akan membicarakan asuransi tetapi membagi pengetahuan saya dan ini saya berikan untuk anak Pak Ali. Karena anak Pak Ali tidak ada di kantor ini, saya ceritakan pada Pak Ali saja. Setuju?
“Pak, saya yakin Pak Ali selalu ingin memiliki sekolah terbaik dan bergengsi bagi anak Pak Ali. Dan bapak tentu juga tahu bahwa anak Pak Ali yang berusia delapan tahun saat ini, baru akan berkuliah 10 tahun lagi. Jika biaya saat ini adalah Rp. 200 juta (misalnya) maka dengan memerhatikan kenaikan biaya pendidikan sekitar 20% pertahun, berarti biaya yag dibutuhkan nanti adalah Rp. 1.236.347.284,48.(buka laptop/netbook anda, gunakan Excel SpreadSheet untuk menghitung Future Value) Nah, agar saya bisa memberikan pengetahuan saya lagi, saya harus bertanya. Apakah sudah disiapkan dana sebanyak ini? Dan jika sudah, apakah Pak Ali sudah melindungi dana ini agar tidak berkurang karena banyak hal?”
Berasumsi pak Ali sudah menjawab yang ditanyakan. “Baik, Pak. Besok saya akan datang kembali untuk memberikan ilustrasi perencanaan. FYI,Pak. Gratis untuk anak pak Ali (Sebutkan namanya).
Jika pak ali membiarkan Anda datang lagi, itu artinya 80% ia sudah ingin memberikan kita kembali.
20% nya gimana, Ndrie?
20% nya ya kehadiran Anda tepat waktu dengan kredibiltas tetap terjaga dan cara presentasi yang penuh percaya diri.
Kesadaran tentang Anak, yang merupakan kesadaran internal sang bapak, kita bawa keluar dan menggabungkannya dengan kesadaran tentang pendidikan (Eksternal) dimasa mendatang yang pada saat itu mungkin belum terpikirkan. Ketika kita bisa membuatnya menjadi penting, kesadaran itu akan disimpan oleh sang bapak.
Internal-Eksternal-Internal
Membutuhkan Workshop tentang Komunikasi yang dipandu oleh Andrie Setiawan?
Hubungi 123 MIND INDONESIA
123mindindonesia@gmail.com
setiawan.andrie@gmail.com
Andrie Setiawan 0811 187 5432
Buthonk 0818 0808 96 46
Saat kita bahagia, tidak hanya mulut kita yang mengatakan kata ,”Bahagia” tetapi juga seluruh anggota tubuh kita mengatakannya; Mata, Rambut, Hidung, Bibir, Wajah, Warna kulit, Gerakan tubuh, Gerakan tangan, Nada bicara, dan lain masih banyak lagi.
Saya teringat pesan guru mengaji saya dimasa kanak-kanak bahwa di hari perhitungan nanti, ‘segalanya berbicara’, dan ini cocok dengan yang saya pelajari dalam ilmu psikologi. Wah makin seneng saya sama guru ngaji saya, jangan-jangan beliau sudah lebih dulu belajar tentang hipnosis dan ilmu teknologi pikiran lainnya...hehehe...
Sahabat, menariknya ilmu ini adalah bahwa Anda sebenarnya telah melakukannya dan kebanyakan dari Anda belum sadar. Nah, dari konsep inilah saya mengembangkan strategi Intenal-Eksternal-Internal.
Mari saya berikan contoh praktis dari konsep ini yang nantinya dapat diaplikasikan dalam komunikasi apapun yang Anda inginkan.
Sahabat saya di kantor, sebutlah Santi, sedang saya repotkan dengan beberapa pertanyaan tentang administrasi. Dan biasanya setelah saya merepotkan orang lain, saya harus bisa memberi manfaat supaya sahabat-sahabat disekitar saya dengan suka rela saya repotkan lagi nantinya.
Santi yang sedang mengandung bayinya yang kedua, saya lupa usia kandungannya saat itu karena saya bukan suaminya...hehehe..., mengeluhkan perut bagian atas dibawah dadanya serasa sakit. Sebagai ‘People Helper’ (Tukang bantu orang alias Pembantu) saya langsung memutuskan untuk membantu. Sebelum membantu, saya katakan bahwa teknik ini bisa mengurangi rasa sakit bahkan menghilangkannya, tapi tetap harus ada kontrol dari dokter karena bagaimanapun dokter tetap diperlukan, apa lagi jika kemudian sakitna berlanjut.
“San, mana tangan lo?” Saya meminta Santi untuk mengangkat kedua tangannya dan meletakkan diatas meja kerjanya dalam posisi punggung tangan diatas.
“Dua-duanya, Ndrie?”
“Kalo bisa Empat-empat nya, San!” Kami tertawa, dan Anda pasti juga tahu bahwa tertawa juga bisa mengurangi rasa sakit. Pada saat tertawa dan tersenyum dengan suka rela, enzim otak kita yang berfungsi sebagai “pain killer” diproduksi. Mirip morfin yang digunakan tentara Amerika saat perang Vietnam yang kemudian menjadi cikal bakal narkoba di seluruh dunia. Nah, dari pada kecanduan narkoba, bagaimana kalau kita setiap hari meluangkan waktu untuk tertawa?
Kembali ke cerita Santi, saya mengetuk punggung tangan kanannya sambil mengatakan, “Konsentrasi pada ketukannya dan konsentrasi pada rasa ketukannya. Yang menarik dari cara ini, ketukan yang gue lakukan disebelah kanan dapat dirasakan di tangan sebelah kiri.” Saya mengetuk punggung tangan kirinya untuk melatih sensasi ketukan di tangan kirinya. Bagi orang yang sangat sugestif, tanpa dilatih sensasi itu sudah dapat dirasakan. Karena pada prinsipnya yang saya percaya bahwa hipnoterapi adalah latihan mental.
Saya kembali mengetuk punggung tangan kanannya dan membiarkan Santi merasakan sensasi ketukan di punggung tangan kirinya. Saat bibirnya mulai senyum-senyum kecil, saya yakin ia sedang menikmati sensasi ketukan itu sambil mungkin sedikit bingung dalam pikirannya, “kok bisa,ya?” Seperti itulah kira-kira senyumnya mengatakan pada saya.
“San, yang lebih asyik lagi, lo bisa menyadari sakit di perut lo sekarang.” Saya menunggu sejenak Santi merasakan sakitnya dan kembali saya meminta Santi untuk merasakan ketukan jari saya.
“Sekarang, rasakan ketukan gue lagi dan hanya berkonsentrasi pada ketukan jari gue. Sambil menarik nafas panjang... dan menghembuskannya perlahan... menariknya lagi...dan menghembuskannya lagi... nikmati udara yang masuk dan keluar dan membuat lo menjadi sangat santai dan menjadi lebih peka terhadap ketukan gue. Begitu konsentrasi lo hanya pada ketukan ini dan perlahan, kekuatan pikiran lo mengalihkannya dari rasa sakit dan tetap berkonsentrasi pada ketukan sambil menarik dan menghembuskan nafas yang panjang dan dalam... santai... relaks... tenang....”
Ketukan yang semula saya lakukan lebih cepat dan saat ini saya lakukan dengan lebih lambat mengikuti tarikan dan hembusan nafasnya.
“San, yang lebih keren lagi, gue akan lepaskan ketukan gue tapi ketukan tersebut dengan iramanya masih terus terjadi pada diri lo dan lo rasakan itu. Rasakan sekarang, San.” Saya mulai melepas perlahan mengangkat jari saya namun masih memperagakan jari saya seolah mengetuk-ngetuk dan perlahan tapi pasti saya menyingkirkan jari saya dari pandangannya.
“Sambil merasakan ketukan ini, tetaplah mengatur nafas dengan baik, keluar dan masuk, dan rasakan kesegaran saat udara masuk dan biarkan kesegarannya memenuhi tubuh dan hembuskan segala rasa yang tidak diinginkan.”
Saya tetap membimbing Santi dan membiarkannya menikmati itu dan setelah beberapa saat menunggu, Santi pun terlihat berhenti dari latihan mentalnya.
“Sudah, Ndrie. Sakitnya sudah hilang.”
“Wow, Keren! San, sekali lagi gue tunjukkan... ini bukan karena gue yang hebat, tapi karena kekuatan pikiran lo yang sudah dilatih untuk berkonsentrasi. Hipnosis adalah konsentrasi” Saya mengatakan sambil senyum-senyum dan bangkit dari tempat duduk saya.
“Ndrie, padahal gue orang yang sulit berkonsentrasi?!”
“Hey... Look at you! Yang barusan lo lakukan itu adalah konsentrasi dan lo melakukannya dengan kesadaran penuh serta mata terbuka. Itu hipnosis.” Saya menjawab menyemangati.
“Ndrie, nanti waktu gue ngelahirin, suami gue minta tunggu diluar aja dan lo yang temenin gue ya!”
“Hahaha... mana bisa gitu? Suami lo aja yang datang ke gue,biar gue ajarin...” Menyadari percakapan sudah keluar jalur saya meninggalkannya ngeloyor untuk melanjutkan pekerjaan saya, eh kesenangan saya...hehehe...
Sahabat, yang baru saya lakukan pada Santi adalah mengajaknya untuk menyadari rasa yang ia rasakan pada dirinya dan membujuknya untuk merasakan sesuatu yang datangnya dari luar, menunjukkannya bahwa rasa ini juga rasa yang diperlukan. Bahkan rasa tersebut dapat dinikmati seolah nyata sedang terjadi padahal stimulus sebenarnya sudah dihentikan.
Konsep ini dapat kita gunakan untuk segala bentuk komunikasi, salah satunya adalah dalam penjualan.
Bagaimana konsep ini dimanfaatkan dalam komunikasi penjualan?
Salah satu hukum pikiran dalam persuasi adalah Law of Reciprocity. Konsepnya sederhana, beri dulu dan kemudian meminta. Manusia memiliki kecenderungan berbalas-balasan, dan alam diciptakan dengan keseimbangannya. Merasa tidak nyaman jika orang lain melakukan untuk kita dan kita tidak dapat memberikan sesuatu untuk orang itu. Dan saya melakukan sedikit modifikasi dalam hukum ini yaitu beri dulu dan kemudian berilah lebih banyak, semakin banyak memberi, semakin banyak orang yang kita beri akan kembali memberi yang lebih banyak untuk kita. Ingat! Konsentrasi kita hanya memberi. Menjual adalah persoalan memberi dan orang lain akan memberikan kembali pada kita sama besarnya dengan yang kita beri.
“Saya tidak butuh asuransi!”
“Jika Pak Ali tidak butuh asuransi, apakah itu sama artinya anak dan istri bapak juga tidak butuh asuransi?”
“Baiklah pak, Saya tidak akan membicarakan asuransi tetapi membagi pengetahuan saya dan ini saya berikan untuk anak Pak Ali. Karena anak Pak Ali tidak ada di kantor ini, saya ceritakan pada Pak Ali saja. Setuju?
“Pak, saya yakin Pak Ali selalu ingin memiliki sekolah terbaik dan bergengsi bagi anak Pak Ali. Dan bapak tentu juga tahu bahwa anak Pak Ali yang berusia delapan tahun saat ini, baru akan berkuliah 10 tahun lagi. Jika biaya saat ini adalah Rp. 200 juta (misalnya) maka dengan memerhatikan kenaikan biaya pendidikan sekitar 20% pertahun, berarti biaya yag dibutuhkan nanti adalah Rp. 1.236.347.284,48.(buka laptop/netbook anda, gunakan Excel SpreadSheet untuk menghitung Future Value) Nah, agar saya bisa memberikan pengetahuan saya lagi, saya harus bertanya. Apakah sudah disiapkan dana sebanyak ini? Dan jika sudah, apakah Pak Ali sudah melindungi dana ini agar tidak berkurang karena banyak hal?”
Berasumsi pak Ali sudah menjawab yang ditanyakan. “Baik, Pak. Besok saya akan datang kembali untuk memberikan ilustrasi perencanaan. FYI,Pak. Gratis untuk anak pak Ali (Sebutkan namanya).
Jika pak ali membiarkan Anda datang lagi, itu artinya 80% ia sudah ingin memberikan kita kembali.
20% nya gimana, Ndrie?
20% nya ya kehadiran Anda tepat waktu dengan kredibiltas tetap terjaga dan cara presentasi yang penuh percaya diri.
Kesadaran tentang Anak, yang merupakan kesadaran internal sang bapak, kita bawa keluar dan menggabungkannya dengan kesadaran tentang pendidikan (Eksternal) dimasa mendatang yang pada saat itu mungkin belum terpikirkan. Ketika kita bisa membuatnya menjadi penting, kesadaran itu akan disimpan oleh sang bapak.
Internal-Eksternal-Internal
Membutuhkan Workshop tentang Komunikasi yang dipandu oleh Andrie Setiawan?
Hubungi 123 MIND INDONESIA
123mindindonesia@gmail.com
setiawan.andrie@gmail.com
Andrie Setiawan 0811 187 5432
Buthonk 0818 0808 96 46
Saturday, December 25, 2010
Permisi! Apa Misi mu?
Hobi saya yang suka memperhatikan bahasa tubuh seseorang dan mencoba membaca pikiran orang-orang tersebut sampai pada beberapa orang yang saat melakukan ‘pekerjaan’ nya sangat jarang tersenyum, postur tubuh tidak seperti orang yang semangat, dan tambah lagi informasi bahwa ia lebih sering terserang flu ketimbang yang lainnya.
Nah Lho...?? Kok sampai sakit Flu segala? Apa hubungannya?
Aaaah...mereka hubungannya baik-baik saja...tapi kadang-kadang memang kurang intim...(hehehe...kita lagi ngomongin apa seeeh?)
Sahabat, Flu sering menyerang orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Orang yang terlalu lelah, atau sering mengalami tekanan pikiran akan sangat mudah terjangkit virus ini. Orang yang berdaya tahan tubuh kuat, selalu ceria (seperti saya...hehehe...), berpikiran positif, lebih jarang terjangkit Flu.
Pekerjaan oh pekerjaan, dari Senin hingga Jum’at bahkan Sabtu atau Minggu. Ketika Jum’at datang, ramai-ramai status Facebook bertajuk TGIF –Thanks God It’s Friday- dan ketika Senin kembali datang, mereka menulis OSIMA hehehe..berbau-bau Jepang ya? Bukan! Tapi Oh S**t It’s Monday Again. Oh Man!...You know what? Ini yang membedakan PEKERJAAN dari MISI.
Banyak orang kurang bahagia dengan apa yang dikerjakannya. “Ini bukan aku!” atau beberapa orang yang lebih muda mengatakan, “Iiiih, gak gue banget deh...!” Anak gaul yang sering keluar masuk salon berkata, “Bete deh eike, Ciiyyyn.!” Sahabat-Sahabat saya yang meRASAkan ini bertanya dan meminta diberi TAHU apakah ada yang salah dengan dirinya atau paling tidak apa yang bisa mereka lakukan agar lebih bahagia dengan apa yang mereka lakukan sekarang.
Lalu apa bedanya PEKERJAAN dan MISI?
Tanyakan pada tukang batu yang membangun Masjidil Haram dan Katedral Saint Peter Basilica.
Tukang batu yang menjawab, “Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Ia sedang melakukan PEKERJAANnya.
Lain lagi jika ia menjawab, “Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.” Nah..tukang batu ini sedang melakukan MISI nya. Tukang batu ini berhasil memadukan Keyakinan, Nilai-nilai, Tindakan, dan Rasa yang berasal dari berbagai ketertarikan, kepentingan, minat, dan tujuan.
Mudah, kan membedakannya? Orang yang melakukan apa yang memang harus dilakukan hanya melakukan pekerjaannya sedangkan orang yang menjalankan misi nya akan sangat menikmati apa yang sedang dikerjakannya.
Tentu banyak dari Anda yang sudah pernah mendengar
“Do What You Love and Love What You Do.”
“Yah...Ndrie, dah bagus dapet kerjaan. Hareee geneee, cari kerjaan yang kita sukai...Susah Man! Bisa-bisa gue gak makan.” Ada diantara Anda, pembaca, yang mengatakan ini. HATI-HATI!...saya dapat mendengar suara hati Anda dari sini...(gunakan echo secukupnya agar kalimat saya terdengar dramatis...hehehe...).
Sederhana, Sahabat. Anda tetap dapat mencari MISI Anda dengan apapun pekerjaan Anda saat ini, yaitu dengan mengubah Kalimat-Kalimat berdaya rendah yang sering berseliweran di kepala Anda menjadi pernyataan Misi untuk Anda sendiri. Ingat! Kalimat ini untuk kepentingan Anda sendiri dan bukan orang lain.
Contoh tukang batu diatas dapat dijadikan teladan dalam mengubah kalimat berdaya rendah menjadi kalimat yang memberdayakan.
“Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Menjadi,
“Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.”
Untuk seorang Trainer seperti saya, kalimat berdaya rendah seperti;
“Saya membawakan materi pelatihan bagi para peserta pelatihan saya.” Menjadi,
“Saya melatih dan menyediakan inspirasi bagi banyak orang untuk membuat mereka mencapai impian-impian mereka dan kesuksesan mereka menjadi bukti bahwa saya telah berhasil menjalankan MISI saya dengan VISI kesuksesan untuk setiap orang atas dasar cinta dan kasih pada sesama.”
Untuk seorang kasir yang kurang senyum yang saya temui tadi siang di sebuah Supermarket yang tidak perlu saya sebutkan namanya yang berasal dari Perancis (hehehe...mudah-mudahan masih samar informasinya.)
“Saya melakukan transaksi dengan pelanggan.” Menjadi,
“Saya menukar nilai uang pelanggan dengan barang yang bernilai lebih tinggi dari nilai uang yang dibayarkan dan menyediakan kebahagiaan bagi kepuasan pelanggan yang menggunakan barang-barang dari toko kami.”
Sahabat, dengan mengubah kalimat-kalimat berdaya rendah menjadi berdaya tinggi, kita akan benar-benar melihat VISI kita karena mengetahui MISI kita.
“This is my December”, Katanya. Momentum yang kita butuhkan sedang terjadi. Tanggal 7 Desember lalu adalah Tahun Baru bagi Umat Muslim, tanggal 25 ini adalah Hari Natal yang artinya “Terlahir” dan setelah ujung Desmber ini adalah pergantian tahun yang menyimbolkan dimulainya semua ukuran untuk mencapat target-target yang ditentukan.
OTAK KITA BUTUH MOMENTUM
dan menutup tulisan ini saya berkata,
PERMISI! APA MISIMU?
Nah Lho...?? Kok sampai sakit Flu segala? Apa hubungannya?
Aaaah...mereka hubungannya baik-baik saja...tapi kadang-kadang memang kurang intim...(hehehe...kita lagi ngomongin apa seeeh?)
Sahabat, Flu sering menyerang orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Orang yang terlalu lelah, atau sering mengalami tekanan pikiran akan sangat mudah terjangkit virus ini. Orang yang berdaya tahan tubuh kuat, selalu ceria (seperti saya...hehehe...), berpikiran positif, lebih jarang terjangkit Flu.
Pekerjaan oh pekerjaan, dari Senin hingga Jum’at bahkan Sabtu atau Minggu. Ketika Jum’at datang, ramai-ramai status Facebook bertajuk TGIF –Thanks God It’s Friday- dan ketika Senin kembali datang, mereka menulis OSIMA hehehe..berbau-bau Jepang ya? Bukan! Tapi Oh S**t It’s Monday Again. Oh Man!...You know what? Ini yang membedakan PEKERJAAN dari MISI.
Banyak orang kurang bahagia dengan apa yang dikerjakannya. “Ini bukan aku!” atau beberapa orang yang lebih muda mengatakan, “Iiiih, gak gue banget deh...!” Anak gaul yang sering keluar masuk salon berkata, “Bete deh eike, Ciiyyyn.!” Sahabat-Sahabat saya yang meRASAkan ini bertanya dan meminta diberi TAHU apakah ada yang salah dengan dirinya atau paling tidak apa yang bisa mereka lakukan agar lebih bahagia dengan apa yang mereka lakukan sekarang.
Lalu apa bedanya PEKERJAAN dan MISI?
Tanyakan pada tukang batu yang membangun Masjidil Haram dan Katedral Saint Peter Basilica.
Tukang batu yang menjawab, “Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Ia sedang melakukan PEKERJAANnya.
Lain lagi jika ia menjawab, “Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.” Nah..tukang batu ini sedang melakukan MISI nya. Tukang batu ini berhasil memadukan Keyakinan, Nilai-nilai, Tindakan, dan Rasa yang berasal dari berbagai ketertarikan, kepentingan, minat, dan tujuan.
Mudah, kan membedakannya? Orang yang melakukan apa yang memang harus dilakukan hanya melakukan pekerjaannya sedangkan orang yang menjalankan misi nya akan sangat menikmati apa yang sedang dikerjakannya.
Tentu banyak dari Anda yang sudah pernah mendengar
“Do What You Love and Love What You Do.”
“Yah...Ndrie, dah bagus dapet kerjaan. Hareee geneee, cari kerjaan yang kita sukai...Susah Man! Bisa-bisa gue gak makan.” Ada diantara Anda, pembaca, yang mengatakan ini. HATI-HATI!...saya dapat mendengar suara hati Anda dari sini...(gunakan echo secukupnya agar kalimat saya terdengar dramatis...hehehe...).
Sederhana, Sahabat. Anda tetap dapat mencari MISI Anda dengan apapun pekerjaan Anda saat ini, yaitu dengan mengubah Kalimat-Kalimat berdaya rendah yang sering berseliweran di kepala Anda menjadi pernyataan Misi untuk Anda sendiri. Ingat! Kalimat ini untuk kepentingan Anda sendiri dan bukan orang lain.
Contoh tukang batu diatas dapat dijadikan teladan dalam mengubah kalimat berdaya rendah menjadi kalimat yang memberdayakan.
“Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Menjadi,
“Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.”
Untuk seorang Trainer seperti saya, kalimat berdaya rendah seperti;
“Saya membawakan materi pelatihan bagi para peserta pelatihan saya.” Menjadi,
“Saya melatih dan menyediakan inspirasi bagi banyak orang untuk membuat mereka mencapai impian-impian mereka dan kesuksesan mereka menjadi bukti bahwa saya telah berhasil menjalankan MISI saya dengan VISI kesuksesan untuk setiap orang atas dasar cinta dan kasih pada sesama.”
Untuk seorang kasir yang kurang senyum yang saya temui tadi siang di sebuah Supermarket yang tidak perlu saya sebutkan namanya yang berasal dari Perancis (hehehe...mudah-mudahan masih samar informasinya.)
“Saya melakukan transaksi dengan pelanggan.” Menjadi,
“Saya menukar nilai uang pelanggan dengan barang yang bernilai lebih tinggi dari nilai uang yang dibayarkan dan menyediakan kebahagiaan bagi kepuasan pelanggan yang menggunakan barang-barang dari toko kami.”
Sahabat, dengan mengubah kalimat-kalimat berdaya rendah menjadi berdaya tinggi, kita akan benar-benar melihat VISI kita karena mengetahui MISI kita.
“This is my December”, Katanya. Momentum yang kita butuhkan sedang terjadi. Tanggal 7 Desember lalu adalah Tahun Baru bagi Umat Muslim, tanggal 25 ini adalah Hari Natal yang artinya “Terlahir” dan setelah ujung Desmber ini adalah pergantian tahun yang menyimbolkan dimulainya semua ukuran untuk mencapat target-target yang ditentukan.
OTAK KITA BUTUH MOMENTUM
dan menutup tulisan ini saya berkata,
PERMISI! APA MISIMU?
Oleh-Oleh dari Bali (setiap perilaku memiliki tujuan positif)
“Bagi saya berpikir positif itu tidak wajib. Tapi setelah Anda tahu manfaatnya, Anda akan terus membutuhkannya. Bukan untuk menyenangkan orang lain namun untuk kesenangan diri sendiri.(Andrie Setiawan-ASLI KDDH-)”
Kedamaian hapuskan keraguan,
Ketenangan hilangkan kegelisahan,
Cinta luruhkan benci...
Mataharimu juga matahariku...
Lautmu juga milikku...
Bali...Hmmm...walaupun ini bukan pertama kalinya mengunjungi Bali, pulau ini terasa selalu menyenangkan. Mungkin karena Lautnya, mungkin juga karena budaya dari orang-orang sekitar, mungkin juga memang anugrah Tuhan yang menjadikan pulau ini untuk, khususnya saya, menjadi pelajaran hidup. Walaupun saya tahu bahwa pelajaran hidup itu bisa didapat dimana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dengan acara apapun.
Saya memilih Bali karena tentunya bisa menjadi oleh-oleh bagi Anda, para sahabat pembaca. Itung-itung saya tidak perlu membeli kacang Bali dan membagikannya satu-persatu pada Anda. hehehe...itung-itungannya keluar deh. Tapi saya yakin, tulisan ini lebih nikmat dan lebih gurih dari kacang Bali.
Kembali bicara tentang Bali maka tidak lepas berbicara tentang pantai dan lautnya padahal Bali tidak hanya tentang itu saja. Anda tahu bahwa Laut memiliki keuatan penyeimbang di alam ini? Anda tahu bahwa keseimbangan iklim panas bumi juga menjadi fungsi laut? Dan sudahkah Anda mengerti bahwa racun-racun yang di bawa menuju laut dan menjadi netral sesampainya di sana? Tak heran ini adalah hhal yang membuat saya betah berlama-lama duduk dipantainya walaupun tanpa teman dan diwaktu-waktu apapun bahkan saat malam larut dan hari siap berganti menyambut matahari pagi.
Pikiran kita pun memiliki mekanisme yang sama dengan alam ini. Itu kalau saya gak salah yaaa...hehehehe...Para ahli menyebut bahwa otak kita adalah alam semesta dalam ukuran mini. Semua mekanisme alam semesta juga terjadi dalam otak dan pikiran kita.Jika sebagian pikiran kita kotor alias negatif, kita dapat menetralkannya dengan bagian lain dari pikiran kita. Wow... Hebat, kan?
Suatu malam, saya dan beberapa sahabat berada dalam perbincangan seru di sela makan malam kedua kami, angin laut membuat perut lebih cepat lapar. Hampir jam 12 malam di restoran cepat saji sekitar pantai Kuta. Pembicaraan tentang pengalaman kami masing-masing pada siang harinya. Anda bisa bayangkan tentunya, lima orang dengan pengalaman berbeda sangat bersemangat membagi pada lainnya. Sambil menikmati setiap gigitan burger keju ganda, saya mendengarkan dan ikut merasakan keseruannya sambil membayangkan apa yang sebenarnya terjadi saat cerita itu dialami (yaaah...ketahuan deh nama restorannya...*gakbermaksudiklandotcom*).
Sampai kemudian pada satu cerita salah satu diantara kami tentang seorang temannya yang perilakunya ia nilai ‘Ajaib’ berbeda dari lainnya bin ‘aneh’. Temannya yang kerap kali berbicara dengan potongan-potongan bahasa Inggris (mungkin karena sedang berada di Bali..hehehe...) diimbangi dengan bahasa tubuh yang berlebih melebihi artis remaja yang namanya sedang naik daun saat ini, katanya.
Satu cerita lucu tentang orang yang sedang dibicarakan oleh sahabat saya ini, suatu malam di sekitar Legian, sebut saja orang yang sedang kita bahas ini bernama Putri. Dua orang teman Putri sedang menikmati es krim masing-masing di tangannya dan berkata lah Putri, “Can I try it?” (silakan baca kalimat ini dengan aksen yang agak di lebih-lebihkan alias lebay yang bahkan penutur asli tidak menggunakan aksen ini...hehehe...biar anda tambah menjiwai). Putri mencicip es krim dari tangan Sari dan berkata, “oooh standa...ard!” dengan kedua pundak diangkat dan kepala agak miring ke kanan wajah menunjukkan bahwa rasa es krim itu biasa saja sambil ia melirik kearah es krim Iwan dan kembali berkata, “Can I try it?” Tak kuasa Iwan pun menyodorkan es krimnya. Putri memberi penilaian, “Yours is bette..eer.” Sontak membuat Sari menjawab agak berteriak, “Heh...Putri! es Krim kita tuh sama..gimana bisa rasanya beda?!?!” Mendengar cerita ini kami pun tertawa.
Bagi beberapa orang termasuk sahabat saya yang bercerita, perilaku Putri sangat mengganggu pikirannya walau kejadian demi kejadian telah berlalu cukup lama tetapi perasaan kesal dan sebalnya ia rasakan kembali.
Bagi sebagian besar kita, dengan cepat merespon cerita dan kejadian serta menyimpulkannya sebagai hal yang negatif. Tahukah kita bahwa hal ini tanpa kita sadari akan men-sabotase pikiran kita dan ikut menjadi negatif. Ujung-ujung nya malah membuat kepala kita pusing padahal orang yang dimaksud saja tidak merasakan apa-apa alias biasa saja.
Aneh, kan? Seharusnya ini bukan masalah tapi malah terasa masalah. Bukankah masalah bergantung bagai mana kita meresponnya. Masalah adalah bukan masalah sebelum masalah tersebut diberi nama MASALAH.
Lalu caranya seperti apa? Sahabat, sadarilah bahwa bersamaan dengan setiap perilaku ada tujuan positif. Paling tidak bagi dirinya sendiri. Seorang perokok pun memiliki tujuan positif mengapa ia membutuhkan rokok padahal ia tahu rokok tidak baik untuk kesehatan. Kebanyakan dari mereka adalah untuk mengembalikan ketenangan dan konsentrasi. Positif, kan? Memang caranya mungkin harus dicari yang lebih baik. Peminum pun demikian, meminum minuman beralkohol sampai mabuk dengan maksud melupakan masalahnya. Tujuan yang positif juga, kan? Lagi-lagi, caranya yang mungkin harus dicari yang lebih bermanfaat. Silakan Anda cari perilaku lainnya yang Anda pikir negatif dan setelah mengetahui ini tentu Anda menyadari bahwa tujuannya ia melakukan ini adalah positif.
Sahabat, dengan cara berpikir kita seperti ini, tentu kita terhindar dari beban pikiran yang tidak perlu sehingga kita dapat tetap bahagia tanpa terganggu perilaku orang lain. Hidup penuh toleransi. Menyenangkan , bukan?
Tulisan saya tutup dengan perbincangan saya dengan seorang sahabat yang sudah lama tinggal di Bali saat melintasi toko oleh-oleh. Di depan toko terpajang patung besar alat kelamin pria, “Orang sini cuek-cuek ya Zul?” ia pun menjawab, “Ndrie, orang sini bukannya cuek, tapi mereka berpikir positif.”
Well, itcu dhiya jhawhabhanniya...(dengan gaya bicara Cinta Laura...hehehe..)Positif Thinking, Right?
Saturday, September 18, 2010
Auto Sugesti, Praktis-GRATIS-Gak perlu Terapis
Halo Sahabat, wuaaah sudah lama sepertinya saya tidak menyapa Anda. Walaupun demikian, pikiran dan hati saya tetap bersama-sama. Saat-saat seperti ini adalah yang paling saya sukai. Berbagi, untuk meningkatkan pemberdayaan diri, dah harapannya dengan ini kita semua hepi dengan hasil yang didapat dari membaca tulisan saya ini.
Saya pribadi sangat menyukai judul diatas, “Praktis-GRATIS-Gak perlu Terapis”. Sekali lagi saya membuktikan bahwa dunia kita ini banyak dikelilingi hal-hal yang nilainya Rp. 0,- alias Nol Rupiah alias Gratis dan kita dapat memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Bahkan yang memberi gratisan pun mendapatkan manfaat yang kalau dirupiahkan sangatlah besar. Lucu, aneh, dan paradoksikal, yang Gratisan malah menghasilkan banyak uang (dari ukuran material). Bahkan jika kita melihat dari batasan non-material, banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari hal-hal itu. Sederhananya, Anda tentu tahu FB, YM, twitter, Google doc, dan aplikasi lainnya yang kita manfaatkan secara Gratis. Tapi apakah Anda juga tahu bahwa penggagas Facebook, Mark Zuckerberg adalah anak muda yang sangat kaya. Bisnisnya adalah menciptakan jaringan sosial bagi orang-orang seluruh dunia dan memberikannya secara gratis dan hal tersebut malah dilirik para pengiklan karena FB, sebutannya, memiliki basis massa yang luar biasa.
Weleh-weleh...ini tulisan tentang hipnosis atau marketing sih? Hehehe...maaf Sahabat, saya terlalu bersemangat membagikan tulisan ini secara gratis dan penasaran dengan hasilnya. Baik hasil yang Anda peroleh maupun hasil yang akan kembali pada saya.
Saya sering kali bertemu dengan orang yang penasaran dengan hipnosis dan setiap bertemu orang jenis ini (hehehe...) mereka mesti minta dihipnosis. Banyak dari mereka yang kepingin banget malah merasa susah masuk dalam kondisi hipnosis. Lho? Apa pasal? Lha iya...kalau mereka terlalu kepingin, pikiran mereka malah sibuk menanti merasakan rasa hipnosis seperti apa. Nah, padahal hipnosis membutuhkan pikiran yang santai, tenang dan berkonsentrasi pada satu hal, yaitu sugesti sang terapis.
Ngomong-ngomong, apakah terapis dibutuhkan? Sebagai terapis saya menjawab, “ya dibutuhkan laaah!” hehehe.. tidak bermaksud subjektif tapi memang ada beberapa kondisi dimana Anda membutuhkan pemandu agar Anda dengan mudah berkonsentrasi dengan instruksi panduan tersebut ketimbang harus memikirkan sendiri sugesti yang diinginkan. Ketika Anda berkonsentrasi pada sugestinya, frekuensi gelombang otak Anda malah semakin tinggi dan tidak dapat mencapai tujuan terapi. Mirip-mirip rally Paris Dakar, seorang pengemudi hanya harus berkonsentrasi mengendalikan mobilnya dan disebelahnya seorang navigator yang menunjukkan arahnya tujuannya, dengan memegang peta.
Pikiran kita juga memiliki PETA. Apakah Anda, Sahabat, menyadarinya? Banyak sekali pembahasan tentang ini dan saya sudah menuliskannya pada beberapa artikel saya sebelumnya. Silakan baca kembali di www.andrie-setiawan.blogspot.com atau di www.andriesetiawan.multiply.com.
Sederhananya gini aja deh...Sesaat sebelum Anda berangkat ke suatu tempat (Kantor, Mall, Bioskop, dan lain sebagainya), apa yang Anda bayangkan? Tentu tempat yang akan Anda tuju, benar? Bahkan Anda dapat melihat dengan jelas tempat tersebut, dan orang-orang yang ada disanapun nampak begitu nyata. Banyak dari Anda bahkan setelah itu membayangkan proses perjalananan menuju kesana, suasana jalan dan hal-hal yang Anda lakukan saat itu. Anda tentu dapat mendengar suara-suara baik ditempat tujuan Anda nanti dan suara-suara sibuk jalanan. Juga seringkali mendengarkan suara hati Anda tentang bagaimana perasaaan Anda saat itu. Seketika setelah mendengar semua itu muncul perasaan-perasaan. Baik perasaan senang maupun perasaan sebaliknya. Sahabat, Perasaan-perasaan itu berasal dari PETA MENTAL Anda. Sekali lagi...dari PETA MENTAL Anda, ya..benar PETA MENTAL Anda. Hebatnya tentang PETA MENTAL adalah, apa yang Anda pikirkan, itu lah yang akan terjadi. Bagaimana bisa? Tentu bisa, Karena Anda telah membuat program dalam pikiran Anda bahwa itulah yang akan terjadi. Pikiran Anda sangatlah baik, apapun yang Anda inginkan, ia akan mengarahkan Anda.
Buatlah PETA MENTAL yang baik Perbaharui setiap hari dengan tambahan-tambahan informasi yang baik dan Anda tidak akan tersesat dari perasaan Bahagia dan akan terus merasakan Bahagia itu.
Bayangkan saja, Anda, yang tidak memahami jalan, berkendara di Jakarta tahun ini, 2010, dengan peta tahun 1960. Tentu sudah banyak yang berubah dengan Jakarta dan kemungkinan besar adalah, Anda tersesat.
Émile Coué seorang ahli farmasi yang memperkenalkan Auto Sugesti pertama kali dan menemukan efek yang kemudian dikenal sebagai efek Placebo. Placebo biasanya terbuat dari tepung biasa dan berbentuk tablet obat. Secara medis tidak mengandung zat penyembuhan apapun namun efek keyakinanlah yang menyembuhkan.
Ia juga menemukan bahwa subjek tidak bisa dihipnosis jika ia tidak menginginkannya dan efek hipnosis menjadi sangat lemah ketika seseorang dalam kondisi yang sangat sadar. Sampai kemudian ia menemukan metode ini. Disamping ia tetap percaya efek medis, dan ia juga percaya bahwa kondisi mental dapat berdampak bahkan mempercepat efek medis. Ia mengobservasi pasiennya yang merapalkan sugesti dalam kondisi sadar dan sugesti yang mirip mantra, aslinya dalam bahasa Perancis;
“Tous les jours à tous points de vue je vais de mieux en mieux”
Dan adaptasi dalam bahasa Inggris;
“Every day, in every way, I'm getting better and better”
Dan bahasa Indonesianya adalah;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Sugesti yang diucapkan berulang-ulang dan dilakukan untuk mengalihkan konsentrasi dari rasa sakit ini dapat memperbesar harapan akan rencana kesembuhannya dan menurutnya dengan terus mengulang-ulang “mantra” nya, maka sugesti itu akhirnya akan menembus bawah sadar juga.
Saya menggunakannya untuk hal yang berbeda. Saya mengucapkan “Mantra” ini setiap pagi dan malam dan kapanpun saya teringat impian saya untuk membuat jalur pada PETA MENTAL saya.
Contoh sederhana, Oktober tahun 2009 saya sangat ingin dapat menulis sebuah buku untuk kemudian diterbitkan paling tidak di Oktober 2010. Dan setiap hari saya mengulang-ulang kalimat tersebut. Magic! Saat ini naskah buku saya sudah siap diterbitkan menjadi sebuah buku dan sebentar lagi akan bertengger di rak toko buku kesayangan Anda. Bukan cuma ini hasil Auto Sugesti yang saya terima. Masih banyak yang saya dapatkan seperti rencana Lulus S2 tepat waktu.
Bagaimana saya melakukannya;
1.Pikirkanlah dan bayangkanlah impian Anda. Lihatlah dengan jelas impian itu, Anda juga bisa mendengarkan suara-suara saat Anda mendapatkannya. Rasakan bahagianya saat Anda mendapatkannya dan libatkan emosi Anda.
2.Masukkan semua dalam pikiran Anda seolah pikiran Anda menghisap semua bayangan itu.
3.Setiap Pagi dan Malam dan setiap kali mengingat impian Anda, ucapkan;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Diucapkan Pagi dan Malam, karena pada waktu-waktu tersebut pikiran kita masih sangat santai dan gelombang otak kita masih pada level sugestif, artinya mudah dimasuki sugesti.
4.Anda yang sudah mempelajari Law of Attraction tentu paham mengapa saya menambahkan kalimat;
“Setiap hari saya selalu menarik seluruh sumberdaya kesuksesan untuk mewujudkan yang kuinginkan.”
Saya selalu mengimajinasikan bagaimana energi sumberdaya entah dari mana datangnya saya tarik masuk kedalam tubuh saya.
5.Tersenyumlah dan percayalah pada diri Anda bahwa pikiran Anda akan menuntun Anda pada jalan yang baik untuk menuju impian Anda. Dan tentu Berdoalah pada Tuhan karena bagaimanapun semua adalah kehendak Tuhan. Yang menyenangkan adalah saat berdoa, percayalah bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan dengan mudahnya Dia mengabulkan keinginan Anda.
Sahabat, Auto Sugesti benar-benar membuat jalur pada Peta Mental saya. Saat saya membayangkan bahwa saya harus memiliki acara di Televisi dan saya mengarahkan pikiran saya untuk itu tentu dengan menarik selur sumberdaya disekeliling saya, seorang sahabat dari perusahaan penerbitan menginformasikan bahwa setelah buku saya terbit, saya berpeluang untuk beberapa kali mengisi acara talk show di TV melalui aksesnya. Sayapun yakin bahwa banyak juga dari para sahabat yang tentu akan selalu mendukung apa yang saya impikan karena sayapun sebaliknya demikian. Tulisan ini adalah satu dukungan saya untuk Anda.
Hmmm...Luar Biasa Pikiran kita ini. Dan Maha Dahsyat yang menciptakannya, Dialah Tuhan!
Buatlah Peta yang Baik dan Pergilah kemana Impianmu berada.
Tulisan ini GRATIS dan didedikasikan bagi mereka yang memanfaatkan barang GRATISAN. Maka benarlah yang saya katakan di awal bahwa Anda tidak memerlukan terapis untuk hal ini. Tulisan ini juga dapat dinikmati di;
www.andrie-setiawan.blogspot.com
www.andriesetiawan.multiply.com
www.wikimu.com
www.ibhcenter.org
Note FB saya;
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/notes.php?id=1608542533¬es_tab=app_2347471856
Grup Easy Hypnosis yang saya kelola;
http://www.facebook.com/photo.php?pid=31126384&fbid=1426492948426&id=1415854530&ref=nf#!/group.php?gid=231098161825&ref=ts
Andrie Setiawan Fans Page
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/pages/Andrie-Setiawan/152369308123188
Saya pribadi sangat menyukai judul diatas, “Praktis-GRATIS-Gak perlu Terapis”. Sekali lagi saya membuktikan bahwa dunia kita ini banyak dikelilingi hal-hal yang nilainya Rp. 0,- alias Nol Rupiah alias Gratis dan kita dapat memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Bahkan yang memberi gratisan pun mendapatkan manfaat yang kalau dirupiahkan sangatlah besar. Lucu, aneh, dan paradoksikal, yang Gratisan malah menghasilkan banyak uang (dari ukuran material). Bahkan jika kita melihat dari batasan non-material, banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari hal-hal itu. Sederhananya, Anda tentu tahu FB, YM, twitter, Google doc, dan aplikasi lainnya yang kita manfaatkan secara Gratis. Tapi apakah Anda juga tahu bahwa penggagas Facebook, Mark Zuckerberg adalah anak muda yang sangat kaya. Bisnisnya adalah menciptakan jaringan sosial bagi orang-orang seluruh dunia dan memberikannya secara gratis dan hal tersebut malah dilirik para pengiklan karena FB, sebutannya, memiliki basis massa yang luar biasa.
Weleh-weleh...ini tulisan tentang hipnosis atau marketing sih? Hehehe...maaf Sahabat, saya terlalu bersemangat membagikan tulisan ini secara gratis dan penasaran dengan hasilnya. Baik hasil yang Anda peroleh maupun hasil yang akan kembali pada saya.
Saya sering kali bertemu dengan orang yang penasaran dengan hipnosis dan setiap bertemu orang jenis ini (hehehe...) mereka mesti minta dihipnosis. Banyak dari mereka yang kepingin banget malah merasa susah masuk dalam kondisi hipnosis. Lho? Apa pasal? Lha iya...kalau mereka terlalu kepingin, pikiran mereka malah sibuk menanti merasakan rasa hipnosis seperti apa. Nah, padahal hipnosis membutuhkan pikiran yang santai, tenang dan berkonsentrasi pada satu hal, yaitu sugesti sang terapis.
Ngomong-ngomong, apakah terapis dibutuhkan? Sebagai terapis saya menjawab, “ya dibutuhkan laaah!” hehehe.. tidak bermaksud subjektif tapi memang ada beberapa kondisi dimana Anda membutuhkan pemandu agar Anda dengan mudah berkonsentrasi dengan instruksi panduan tersebut ketimbang harus memikirkan sendiri sugesti yang diinginkan. Ketika Anda berkonsentrasi pada sugestinya, frekuensi gelombang otak Anda malah semakin tinggi dan tidak dapat mencapai tujuan terapi. Mirip-mirip rally Paris Dakar, seorang pengemudi hanya harus berkonsentrasi mengendalikan mobilnya dan disebelahnya seorang navigator yang menunjukkan arahnya tujuannya, dengan memegang peta.
Pikiran kita juga memiliki PETA. Apakah Anda, Sahabat, menyadarinya? Banyak sekali pembahasan tentang ini dan saya sudah menuliskannya pada beberapa artikel saya sebelumnya. Silakan baca kembali di www.andrie-setiawan.blogspot.com atau di www.andriesetiawan.multiply.com.
Sederhananya gini aja deh...Sesaat sebelum Anda berangkat ke suatu tempat (Kantor, Mall, Bioskop, dan lain sebagainya), apa yang Anda bayangkan? Tentu tempat yang akan Anda tuju, benar? Bahkan Anda dapat melihat dengan jelas tempat tersebut, dan orang-orang yang ada disanapun nampak begitu nyata. Banyak dari Anda bahkan setelah itu membayangkan proses perjalananan menuju kesana, suasana jalan dan hal-hal yang Anda lakukan saat itu. Anda tentu dapat mendengar suara-suara baik ditempat tujuan Anda nanti dan suara-suara sibuk jalanan. Juga seringkali mendengarkan suara hati Anda tentang bagaimana perasaaan Anda saat itu. Seketika setelah mendengar semua itu muncul perasaan-perasaan. Baik perasaan senang maupun perasaan sebaliknya. Sahabat, Perasaan-perasaan itu berasal dari PETA MENTAL Anda. Sekali lagi...dari PETA MENTAL Anda, ya..benar PETA MENTAL Anda. Hebatnya tentang PETA MENTAL adalah, apa yang Anda pikirkan, itu lah yang akan terjadi. Bagaimana bisa? Tentu bisa, Karena Anda telah membuat program dalam pikiran Anda bahwa itulah yang akan terjadi. Pikiran Anda sangatlah baik, apapun yang Anda inginkan, ia akan mengarahkan Anda.
Buatlah PETA MENTAL yang baik Perbaharui setiap hari dengan tambahan-tambahan informasi yang baik dan Anda tidak akan tersesat dari perasaan Bahagia dan akan terus merasakan Bahagia itu.
Bayangkan saja, Anda, yang tidak memahami jalan, berkendara di Jakarta tahun ini, 2010, dengan peta tahun 1960. Tentu sudah banyak yang berubah dengan Jakarta dan kemungkinan besar adalah, Anda tersesat.
Émile Coué seorang ahli farmasi yang memperkenalkan Auto Sugesti pertama kali dan menemukan efek yang kemudian dikenal sebagai efek Placebo. Placebo biasanya terbuat dari tepung biasa dan berbentuk tablet obat. Secara medis tidak mengandung zat penyembuhan apapun namun efek keyakinanlah yang menyembuhkan.
Ia juga menemukan bahwa subjek tidak bisa dihipnosis jika ia tidak menginginkannya dan efek hipnosis menjadi sangat lemah ketika seseorang dalam kondisi yang sangat sadar. Sampai kemudian ia menemukan metode ini. Disamping ia tetap percaya efek medis, dan ia juga percaya bahwa kondisi mental dapat berdampak bahkan mempercepat efek medis. Ia mengobservasi pasiennya yang merapalkan sugesti dalam kondisi sadar dan sugesti yang mirip mantra, aslinya dalam bahasa Perancis;
“Tous les jours à tous points de vue je vais de mieux en mieux”
Dan adaptasi dalam bahasa Inggris;
“Every day, in every way, I'm getting better and better”
Dan bahasa Indonesianya adalah;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Sugesti yang diucapkan berulang-ulang dan dilakukan untuk mengalihkan konsentrasi dari rasa sakit ini dapat memperbesar harapan akan rencana kesembuhannya dan menurutnya dengan terus mengulang-ulang “mantra” nya, maka sugesti itu akhirnya akan menembus bawah sadar juga.
Saya menggunakannya untuk hal yang berbeda. Saya mengucapkan “Mantra” ini setiap pagi dan malam dan kapanpun saya teringat impian saya untuk membuat jalur pada PETA MENTAL saya.
Contoh sederhana, Oktober tahun 2009 saya sangat ingin dapat menulis sebuah buku untuk kemudian diterbitkan paling tidak di Oktober 2010. Dan setiap hari saya mengulang-ulang kalimat tersebut. Magic! Saat ini naskah buku saya sudah siap diterbitkan menjadi sebuah buku dan sebentar lagi akan bertengger di rak toko buku kesayangan Anda. Bukan cuma ini hasil Auto Sugesti yang saya terima. Masih banyak yang saya dapatkan seperti rencana Lulus S2 tepat waktu.
Bagaimana saya melakukannya;
1.Pikirkanlah dan bayangkanlah impian Anda. Lihatlah dengan jelas impian itu, Anda juga bisa mendengarkan suara-suara saat Anda mendapatkannya. Rasakan bahagianya saat Anda mendapatkannya dan libatkan emosi Anda.
2.Masukkan semua dalam pikiran Anda seolah pikiran Anda menghisap semua bayangan itu.
3.Setiap Pagi dan Malam dan setiap kali mengingat impian Anda, ucapkan;
“Setiap hari dengan cara apapun, saya menjadi semakin baik dan semakin baik.”
Diucapkan Pagi dan Malam, karena pada waktu-waktu tersebut pikiran kita masih sangat santai dan gelombang otak kita masih pada level sugestif, artinya mudah dimasuki sugesti.
4.Anda yang sudah mempelajari Law of Attraction tentu paham mengapa saya menambahkan kalimat;
“Setiap hari saya selalu menarik seluruh sumberdaya kesuksesan untuk mewujudkan yang kuinginkan.”
Saya selalu mengimajinasikan bagaimana energi sumberdaya entah dari mana datangnya saya tarik masuk kedalam tubuh saya.
5.Tersenyumlah dan percayalah pada diri Anda bahwa pikiran Anda akan menuntun Anda pada jalan yang baik untuk menuju impian Anda. Dan tentu Berdoalah pada Tuhan karena bagaimanapun semua adalah kehendak Tuhan. Yang menyenangkan adalah saat berdoa, percayalah bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan dengan mudahnya Dia mengabulkan keinginan Anda.
Sahabat, Auto Sugesti benar-benar membuat jalur pada Peta Mental saya. Saat saya membayangkan bahwa saya harus memiliki acara di Televisi dan saya mengarahkan pikiran saya untuk itu tentu dengan menarik selur sumberdaya disekeliling saya, seorang sahabat dari perusahaan penerbitan menginformasikan bahwa setelah buku saya terbit, saya berpeluang untuk beberapa kali mengisi acara talk show di TV melalui aksesnya. Sayapun yakin bahwa banyak juga dari para sahabat yang tentu akan selalu mendukung apa yang saya impikan karena sayapun sebaliknya demikian. Tulisan ini adalah satu dukungan saya untuk Anda.
Hmmm...Luar Biasa Pikiran kita ini. Dan Maha Dahsyat yang menciptakannya, Dialah Tuhan!
Buatlah Peta yang Baik dan Pergilah kemana Impianmu berada.
Tulisan ini GRATIS dan didedikasikan bagi mereka yang memanfaatkan barang GRATISAN. Maka benarlah yang saya katakan di awal bahwa Anda tidak memerlukan terapis untuk hal ini. Tulisan ini juga dapat dinikmati di;
www.andrie-setiawan.blogspot.com
www.andriesetiawan.multiply.com
www.wikimu.com
www.ibhcenter.org
Note FB saya;
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/notes.php?id=1608542533¬es_tab=app_2347471856
Grup Easy Hypnosis yang saya kelola;
http://www.facebook.com/photo.php?pid=31126384&fbid=1426492948426&id=1415854530&ref=nf#!/group.php?gid=231098161825&ref=ts
Andrie Setiawan Fans Page
http://www.facebook.com/pages/manage/#!/pages/Andrie-Setiawan/152369308123188
Subscribe to:
Posts (Atom)