Certified Instructors-Indonesian Board of Hypnotherapy

Sunday, October 16, 2011

MOTIVATION (MOTIVE for ACTION)

Apa yang membuat seseorang cepat bagai kilat berlari menuju impiannya dan apa pula yang membuat ia terhenti dan tak tahu kemana ia harus melangkah lagi?
Dalam pelatihan dan seminar yang pernah saya bawakan, sebagian besar materi yang saya berikan adalah bagaimana setiap orang mencapai tujuan dalam hidupnya, tepatnya tujuan-tujuan hidupnya dan bukan tujuan hidupnya. Bingung dengan kalimat yang saya ulang-ulang diatas? Memang, kita hidup memiliki tujuan-tujuan. Disadari atau tidak, kita sedang menuju kesana. 

Jika Anda percaya bahwa Tuhan adalah Maha Baik, maka Tuhan memang sudah menyiapkan tujuan-tujuan baik bagi kita dalam menjalankan hidup. Hanya saja persoalannya, jalan mana yang Anda ambil dan bagaimana cara menjalaninya.

Pencarian jalan pintas menjadi hal yang paling dicari banyak orang namun banyak yang malah tersesat didalamnya. Menjalaninya saja tanpa tahu apa yang harus dilakukan saat mendapat tantangan dan rintangan membuat perjalanan hidup terseok-seok  mungkin terpuruk.

Sahabat, jalan pintas sebenarnya lebih sering tidak dibutuhkan dalam berjalan menuju tujuan. Mengapa demikian? Pernahkah Anda mendengar kata "Makan Asam Garam"? Pasti Pernah ya. Pengalaman hidup sangat penting bagi kita karena dengannya kita belajar agar di kemudian hari saat rintangan datang, Anda sudah terampil dalam menghadapinya. Nah ini dia persoalannya, saya sering melihat bahwa banyak orang tidak sabar menjalani ini.


MINDSET FIRST then STRATEGY

Dalam menjalani kehidupan butuh strategi-strategi dan itu benar, sepertinya sampai saat ini saya juga memercayai itu, tetapi dalam menjalankan strategi-strategi itu membutuhkan kepercayaan yang benar, keyakinan yang baik, dan pola pikir yang selalu berorientasi pada tujuan yang telah kita tetapkan. Apa yang dibutuhkan untuk menjaga semua itu berjalan lancar? MOTIVASI.

Anda membutuhkan Motive dalam setiap Anda melakukan Aksi, Yes... Motivasi adalah Motive untuk beraksi alias alasan/penyebab mengapa manusia mau melakukan apapun untuk mencapai tujuan-tujuannya. 

Sekarang saya akan berikan Anda alasan mengapa Anda harus segera bergerak. Jawablah pertanyaan-pertanyaan saya dalam hati dan cara menjawabnya adalah dengan membiarkan pikiran Anda menjawabnya tanpa intervensi diri Anda yang selalu menginginkan jawaban yang 'terdengar' sesuai. 

Karena Anda tahu bahwa pikiran Anda adalah jujur yang selalu mengatakan apa yang dirasakan dan merasakan apa yang dikatakan.
Pertanyaan Pertama:

Apakah Anda sadar bahwa ada orang-orang yang mencintai Anda dan selalu mendukung Anda untuk sukses? 

Pertanyaan Kedua:

Apakah Anda memiliki orang yang Anda cintai?

Pertanyaan Ketiga:

Apakah Anda sudah tahu apa yang akan Anda lakukan esok?

Jika semua pertanyaan terjawab "Ya", Anda adalah orang yang bahagia. Sahabat, pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang ditanyakan oleh Confucius dan selalu saya tanyakan pada diri saya. Saat saya tahu Kenapa, untuk Apa dan Siapa maka saya baru beralih ke Bagaimana. Tiga pertanyaan diatas layaknya ditanyakan berulang-ulang pada diri sendiri yang akan terus menjaga Mengapa kita melakukan apapun.

Sebagai Penutup, 

SEORANG PRIA YANG HEBAT, BERSAMANYA ADA ISTERI YANG MENGHEBATKAN SUAMINYA DENGAN KEKUATAN DAN KESABARANNYA.

Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang)
dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang),
maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang.
Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya
(dengan kasih & sayang)
... maka berjatuhanlahdosa-dosa dari segala jemari keduanya”

(HR. Abu Sa’id)


Tulisan ini saya dedikasikan bagi Isteri saya Dini Suryani yang hingga saat ini membuat saya terus menyadari MINDSET yang baik dan menjalankan STRATEGY untuk menjalani kehidupan dengan tujuannya agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang disekitar kami.





Thursday, October 13, 2011

Transderivational Search

Hal menarik lainnya adalah jika Anda sedang memegang buku psikologi terapan atau buku-buku self help dan saat yang sama perasaan Anda sedang galau, cobalah niatkan dalam diri bahwa Anda membuka pikiran Anda untuk mendapatkan solusi dari permasalahan Anda lalu cobalah buka buku itu secara acak dan bacalah bagian halaman buku yang Anda lihat. Perhatikan! Apakah Anda mendapatkan ilham solusi permasalahan Anda? DAPAT? Dahsyat!

TDS atau Transderivational Search dan mungkin beberapa dari Anda belum pernah mendengarnya, mungkin Anda lebih sering mendengar TDW alias Tung Desem Waringin seorang pembicara #1 (nomor satu) di Indonesia dan #2 nya adalah ya.. yang menulis note ini…(hehehe…). Anda tahu, Sahabat… orang  #2 selalu memiliki peluang menjadi #1 suatu saat nanti. Maka dari itu, banggalah dengan apa yang Anda miliki saat ini karena Anda selalu berpeluang dan berpotensi menjadi jauh lebih hebat dari Anda saat ini.

Lho…! Apa hubungannya penyebutan #1, #2 dan mengulangnya #2 dan #1. Sepintas ini tidak ada hubungannya atau mungkin Anda belum mendapatkan hubungannya antara angka-angka itu dengan judul di atas dan pikiran Anda sedang berusaha mencari apa hubungannya bahkan beberapa dari Anda yang membaca itu mencari hubungannya dengan diri sendiri. Nah… Itu yang disebut TDS. Masih belum paham? Gak pa pa… teruslah membaca…
Saya contohkan lagi agar lebih menjelaskan. Silakan simak cerita berikut;

Di sebuah negeri yang memiliki keluasan seluas hati, kedalaman tak terbatas seperti jiwa, hidup seorang lelaki buta yang setiap malam melewati jalan-jalan di desa tempatnya tinggal. Saat menyusuri jalan-jalan yang gelap ia selalu menyalakan lampu minyak yang selalu ia bawa.
Seorang pria memerhatikan hal itu dan sampai kemudian ia bertanya pada lelaki buta itu, “Wahai pak tua, engkau adalah seorang tuna netra dan aku perhatikan kau selalu membawa lampu yang menyala padahal kau tetap saja tidak melihat apapun karena kau buta?”
Menjawablah lelaki buta itu, “Saudaraku, kau benar bahwa aku buta dan kau juga benar aku tidak dapat melihat apa yang aku terangi tapi aku tahu bahwa ini dapat bermanfaat bagimu orang-orang yang tidak buta sepertiku dan itupun bermanfaat bagiku dan dengan itu kalian tahu aku ada.”

Sahabat pembaca, apakah Anda mendapati sesuatu yang bermakna bagi diri Anda sendiri? Apakah Anda dapat mengambil manfaat dari nilai-nilai yang diberikan cerita ini? Apakah Anda merasa bahwa cerita ini menyemangati Anda atau bahkan sebaliknya?

Itulah yang disebut TDS, saat pikiran Anda mencari makna atas sesuatu dan hanya mendapati makna yang berguna bagi Anda. Sangat mungkin makna yang Anda dapati berbeda dengan apa yang orang lain dapatkan setelah membaca cerita ini. Anda mendapatkan pelajaran dan kemudian Anda dapat keluar dari masalah Anda begitu juga orang lain walaupun mereka memiliki masalah yang berbeda dari Anda.

Pikiran kita adalah mekanisme yang maha dahsyat sebuah Maha Karya Sang Pencipta, disadari atau tidak ia bekerja 24 jam untuk kita bahkan saat kita tertidur pikiran kita menyusun potongan informasi acak yang kita kumpulkan secara sadar atau tidak menjadi susunan yang sangat rapi sehingga kita memiliki makna dari kejadian-kejadian yang kita alami sebelum tidur. Maka kita seringkali mengatakan bahwa kita mendapatkan ilham dalam tidur kita. Ingat, pikiran kita selalu mencari makna sesuai dengan apa yang kita butuhkan.

Thomas Alfa Edison pun memanfaatkan mekanisme pikiran ini untuk mencari ilham menciptakan bola lampu hingga konon ia baru mendapatkan bola lampu yang dapat menyala setelah beberapa ratus kali percobaan. Setelah ia lelah bekerja memikirkan bola lampu yang sedang ia coba ciptakan, ia beristirahat di kursinya dengan menggengam bola besi dan menaruh piring kaleng disamping kursi tepat di bawah tangan dengan bola besi digenggamannya. Jika bolanya jatuh dan suara gaduh kaleng terdengar, itu berarti ia sudah tertidur lelap. Ia memanfaatkan kondisi yang sangat santai bagi pikirannya untuk menyusun informasi acak yang ia kumpulkan saat tersadar.

Apakah TDS hanya terjadi saat tidur saja? Tidak. Archimedes menemukan konsep menghitung volume benda tak beraturan saat ia bersantai berendam di tempat mandinya. Mahkota raja yang tidak beraturan itu jatuh kedalam tempat mandinya dan sejumlah air keluar dan sebesar itulah volume mahkota raja. Itu menyebabkan ia terhindar dari hukuman mati. Lihatlah sahabat, Mahkota yang jatuh dimaknai sebagai penjawab permasalahan Archimedes dan tentu kita memaknai kejadian itu berbeda sesuai dengan kepentingan kita.

Bukan hanya mereka yang nun jauh entah dimana dan sudah menjadi apa di alam sana yang dapat menjadi contoh. Isteri saya saat ia membutuhkan penyemangat ataupun ,beberapa kali, solusi dari permasalahannya ia membuka dan membaca lagi tulisan-tulisan di buku saya-Komunikasi Dahsyat Dengan Hipnosis. “Mas And, aku banyak mempraktikkan apa yang kamu tulis di bukumu dan itu membantu permasalahanku.” Aaah senangnya saya, isteri saya juga memanfaatkan tulisan saya yang biasanya mudah saja ia membicarakannya dan bukan hanya membaca bukunya.

Hal menarik lainnya adalah jika Anda sedang memegang buku psikologi terapan atau buku-buku self help dan saat yang sama perasaan Anda sedang galau, cobalah niatkan dalam diri bahwa Anda membuka pikiran Anda untuk mendapatkan solusi dari permasalahan Anda lalu cobalah buka buku itu secara acak dan bacalah bagian halaman buku yang Anda lihat. Perhatikan! Apakah Anda mendapatkan ilham solusi permasalahan Anda? DAPAT? Dahsyat!

Saya mengira bukan 100% peranan buku itu tetapi juga karena pikiran Anda yang dengan tepat mencari jawaban untuk permasalahan Anda. Jadi yang lebih Dahsyat adalah pikiran anda, kan!
Nah, terakhir… Bagaimana kita bisa memanfaatkan mekanisme ini? Ingat, TDS sering terjadi pada saat kondisi pikiran Anda tenang setelah itu barulah saya senang membagi ‘MANTRA’ ajaib saya.

“Setiap hari dengan cara apapun, aku menjadi semakin baik, semakin baik, dan terus semakin baik. Aku menarik seluruh sumberdaya kesuksesan sesuai dengan keingin dan impian untuk kebaikan ku dan orang-orang di sekelilingku.”

Semoga TDS ini bermanfaat bagi Anda semua, Sahabat dan lain waktu kita akan membahas TDS yang digunakan dalam praktik penjualan yang akan membuat setiap praktisi penjualan menjual lebih banyak.

Sunday, May 29, 2011

Jika Anda tidak mau membuka pikiran Anda, Bagaimana keberlimpahan bisa masuk kedalam hidup Anda?

Halo Sahabat, Wah sudah lama kita tidak bertegur sapa. Berapa lama tepatnya kita tidak berjumpa? Sebulan, kah? Setahun? atau lebih?
Saya senang dapat menjumpai Anda dan apakah juga demikian hal nya dengan Anda? Jika itu yang terjadi, artinya saya baru saja menarik Anda dengan pikiran saya. Ini dalah mekanisme alam semesta yang saat ini dikenal sebagai Law of Attraction.

Hampir setiap orang rasanya mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Batasan kebahagiaan tentu berbeda bagi setiap orang. Anda dan saya bisa jadi memiliki konsep kebahagiaan yang berbeda.

"Ndrie, saya gak tau apa Kebahagiaan saya." beberapa kali ada orang-orang yang seolah tidak dapat menemukan kebahagiaannya padahal Anda tahu, Sahabat? Bahwa kebahagiaan ada di sekitar kita. Lalu bagai mana orang itu tidak bisa melihat kebahagiaannya?

Sederhana.

Karena ia menutup pikirannya untuk berbahagia dengan caranya sendiri. Padahal, untuk mendapatkan kebahagiaan yang besar, kita harus memulainya dengan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang ada disekitar kita. Perhatikan sekitar Anda dan apa yang membuat Anda tersenyum? Bisa jadi itu adalah kebahagiaan Anda.

Bagaimana Law of Attraction mengajarkan kita menarik Keberlimpahan?

Dunia dan alam semesta terikat satu sama lain, kita hidup di dunia ini dan kita bagian dari pergerakan alam semesta. Apa yang kita lakukan akan berdampak bagi penghuni alam semesta lainnya. sekecil apapun itu.

Ilustrasi sederhananya, bayang kan Anda berada dipinggir kolam dan perhatikan air nya yang tenang dan ambil kerikil kecil yang ada disekitar dan lemparkan ke tengah kolam. Apa yang terjadi? air bergelombang dan mencapai pinggir kolam.

Satu lemparan kecil namum se isi kolam menerima gelombangnya. Alam semesta ini juga memiliki mekanisme yang sama. Setiap hari energi keberlimpahan dilemparkan banyak orang di dunia ini. Ada orang yang dapat menerima gelombang ini dan memanfaatkannya sehingga keberlimpahan juga menjadi miliknya dan banyak juga yang tidak dapat menerimanya.



Selaras...

Ini kuncinya. Lihat lagi kolam tadi dan perhatikan daun teratai yang mengambang selaras dipermukaan kolam. Daun itu ikut bergoyang dan menerima aliran gelombang itu. Berbeda dengan tonggak kayu yang juga ada di kolam itu, tetap tegak tidak terpengaruh gelombangnya.

Bagaimana menyelaraskan pikiran? Banyak teknik yang diajarkan, prinsip sederhananya, semakin Anda berada dalam kondisi yang santai, semakin gelombang pikiran Anda siap menerima dan peka terhadap gelombang yang Anda pilih. Seperti sebuah radio yang menangkap siaran stasiun-stasiun Radio dan Anda berhak memilih berada di frekuensi mana.

Ambil posisi santai sekarang, pikirkan apa yang membuat Anda bahagia yang henda Anda tarik kedalam hidup Anda. Agar lebih sensasional, gunakan seluruh Indera Anda. Bayangkan, dengar suaranya,rasakan sensasi tubuh Anda saat Anda berhasil membayangkan dan mendengarnya.

Buka pikiran Anda. Tetap santai mengatur nafas Anda. Anda dapat menutup mata Anda pada sesi ini jika Anda menginginkannya. Bayangkan sinar yang menyenangkan dengan warna kesukaan Anda di atas kening kepala Anda dan biarkan sinarnya terbuka dan semakin bersinar dan membesar dan sinarnya terus membesar. Melebar dan tinggi menjulang. Semakin besar sinarnya dan semakin tinggi itu, akan menarik banyak hal dengan mudah.

Panggil bayangan kebahagiaan Anda dan biarkan perlahan kebahagiaan itu tertarik masuk kedalam tubuh melalui kepala Anda. Satukan dengan diri Anda dan nikmati rasanya. Rasa saat Anda memilikinya.

Seelah masuk semua, silakan nikmati perasaah Anda seolah anda sedang memndapatkan yang diinginkan. Nikmati, Sahabat... Nikmati... Simpan pikiran itu dalam pikiran anda dan biarkan itu menjadi program dalam pikiran Anda yang menggerakkan tubuh dan pikiran pada hal-hal yang Anda inginkan.

Beberapatahun lalu, saat saya bekerja bersama seorang konsultan pendidikan dan saya terinspirasi melakukan seperti yang ia lakukan. Berdiri dan berbicara didepan ratusan orang tua dan berbicara tentang pendidikan. Hal itu sebentar lagi juga terjadi padaku setelah sebuah lembaga pendidikan memintaku untuk berbicara didepan ratusan orang tua siswa di lembaga itu. Benar-benar perasaan yang luar biasa.

Setelah saya mengetahui teknik ini, banyak hal yang saya tarik masuk kedalam hidup saya dan kebahagiaan selalu membanjiri hati dan pikiran ini.

Seandainya Aku mengetahui ilmu ini sejak awal, apa yang aku inginkan pasti akan terjadi lebih cepat sesuai keinginan.

Selamat Mempraktikkan, Sahabat!

"Jika Anda tidak mau membuka pikiran Anda, Bagaimana keberlimpahan bisa masuk kedalam hidup Anda?"

PERHATIAN: Anda tetap harus berdoa sesuai keyakinan masing-masing karena yang demikian membuat Anda menjadi lebih santai dan ikhlas dengan apa saja yang terjadi.

Sunday, March 13, 2011

Kalau kau Pernah Takut Mati, Sama… (Lemparkan saja!)

Halo Sahabat, sudah lama rasanya tidak menyapa Anda semua. Rindu rasanya menulis untuk Anda, berbagi manfaat untuk kemudian Anda bagikan kembali pada orang-orang tercinta disekitar Anda. Seperti tujuan setiap saya menulis, selalu ingin menjadi virus positif yang menyebar menginfeksi semua pikiran manusia disegala penjuru dunia. (Hehehe... gak bermaksud lebay, Sahabat... ini beneran)

Judul diatas saya ambil dari potongan lirik lagu Letto;”Sampai Nanti-Sampai Mati”. Secara tidak kebetulan cocok untuk menceritakan pengalaman saya membantu orang lain mengendalikan fobia.

Isu tentang kematian merupakann ide yang yang dapat menyebar ke setiap pikiran manusia bagaikan virus yang menginfeksi. Ketakutan akan mati membuat orang menggunakan cara-cara untuk menghindarinya atau paling tidak mempersiapkannya.

Itu mengapa ide tentang Asuransi menjadi menarik untuk dibeli karena isu kematian ini, dan ide menonton film horor yang penuh dengan adegan kematian juga masih tetap laris di masyarakat, Bahkan acara-acara yang berhubungan dengan kekerasan terus memeroleh rating tinggi di televisi. Acara terakhir yang masih hangat adalah terjadinya Tsunami Jepang baru-baru ini dan ancaman gelombangnya yang diperkirakan sampai ke Indonesia yang, Thanks God, tidak terjadi.

Fobia sendiri dapat diartikan sebagai ketakutan yang berlebihan pada hal-hal tertentu. Ketika stimulus (rangsangan) penyebab fobia dimunculkan, ketakutan yang luar biasa akan muncul dan akan sangat mengganggu aktifitas dalam hidup pengidapnya.

Mungkin bagi banyak orang ketakutan berlebih pada cicak adalah hal yang lucu karena cicak adalah hewan kecil yang lemah, tetapi bagi pengidap fobia binatang ini terlihat sangat besar dan menakutkan.

Saat berada di Timika-Papua dalam rangkaian pelatihan tiga hari disela-sela makan malam, saya berkesempatan membantu seseorang mengendalikan perasaan takutnya. Bukan menghilangkan, Sahabat. Tetapi mengendalikannya.

Saat itu kami berlima, tiga orang Agency Manager sebuah perusahaan asuransi dan Bu Anna (bukan nama sebenarnya), istri dari salah satu Manager tadi.

Bu Anna bercerita tentang Fobia Ketinggian nya. Bagaimana keringatnya bercucuran dan jantungnya berguncang seperti hampir copot, katanya.

“Bu, yang seperti ini sih saya sudah biasa hadapi, gampang Bu.” Kata saya yang tidak bermaksud sombong tetapi sedang membangun kredibilitas. Seperti seorang dokter yang membangun kredibilitas dengan jas putihnya, dan bukan kebetulan salah satu dari Manager itu adalah dokter bedah.
“Tapi Bu Anna tahu kan, bahwa kebanyakan orang takut mati? Atau Bu Anna bisa menanyakan pada setiap orang di rumah makan ini apakah mereka punya kekhawatiran saat berada dalam setiap penerbangan.”

“Iya, Pak.” Jawabnya.

Penting dalam sebuah terapi untuk memiliki batasan-batasan normal sehingga klien tahu apakah ia sudah berhasil keluar dari ketakutannya atau belum.

“Pertanyaan saya adalah apakah Bu Anna benar-benar ingin saya bantu dan apa pentingnya bagi Bu Anna terbebas dari ketakutan ini?” Ini adalah pertanyaan komitmen dan kontrak tidak tertulis antara klien dan terapisnya. Fungsi saya sebagai terapis hanya membantu dan usaha klien sendiri lah yang membuat ia terbebas dari ketakutan yang berlebih.

“Ya penting lah, Pak. Kami kan sering bepergian menggunakan pesawat dan setiap kali melakukan perjalanan saya menderita.” Jawab Bu Anna.

“Betul, Pak. Setiap kali lepas landas tangan saya di cengkeram kuat.” Timpal pak Baim, suaminya, sambil memperagakan bagaimana istrinya mencengkeram tangannya.

“Nah, malah bagus dong. Jadi lebih mesra...hehehe...” Sahut saya. Memaknai kembali cengkraman tangan dengan makna yang positif dapat mengurangi ketegangan.

“Iya juga sih, pak, hehehe...” Setuju pak Baim.

Canda dalam sesi terapi juga dibutuhkan untuk menunjukkan pada klien bahwa semuanya terkendali.

“Nah bapak-bapak, sekarang silakan diperhatikan dan teknik ini bisa saja bermanfaat untuk agen-agen yang trauma ditolak nasabah...hehehe...” Lanjut saya dan para leader itu pun memerhatikan.

“Bu Anna, saat ketakutan itu datang apa yang Bu Anna bayangkan?” Tanya saya.

“Pesawatnya jatuh ke laut, Pak.” Jawabnya sambil menunjukkan wajah ketakutan..

“Dalam skala 1 – 10, 1 (satu) adalah tidak terlalu mengganggu dan 10 (sepuluh) sangat-sangat mengganggu. Ketakutan bu Anna skalanya berapa?” Periksa saya.

“10, Pak.” Jawabnya cepat.

“Ketika saya minta membayangkan ketakutan itu, apakah pesawatnya terlihat besar atau kecil, jauh atau dekat, terdengar suara?” Selidik saya.

“Besar sekali, Pak. Pesawatnya meledak di udara sebelum masuk ke laut.” Jawabnya dengan bahasa tubuh yang semakin ketakutan.

“Tenang Bu Anna, setiap yang saya minta pasti aman karena Bu Anna juga tahu bahwa kita masih tetap ada disini tapi memang saya ingin Bu Anna merasakan rasa yang selama ini mengganggu Bu Anna.” Saya memastikan pada klien bahwa cara ini aman dan saya tidak ingin ia mengalami serangan jantung.

“Bu Anna, sekarang buat gambarnya menjadi hitam putih dan perkecil gambarnya dan buat gambarnya semakin kecil dan menjauh.” Pinta saya sambil memerhatikan perubahan-perubahan yang ditunjukkan wajah dan bahasa tubuhnya tanpa ia sadari.

“Dari satu sampai sepuluh, apakah ada perubahan? Berapa angkanya sekarang?” Tanya saya.

“Lima, Pak.”

“Hebat, kunci gambarnya disana.”

“Apa yang Bu Anna bayangkan saat Bu Anna menginginkan ketenangan?.”

“Anak saya, Pak” Jawab Bu Anna.

“Baik, sekarang saya taruh bayangan ketakutan Bu Anna di kanan atas (sambil menggerakkan tangan kanan saya ke atas) dan saya menaruh bayangan anak Bu Anna di sebelah kiri atas (dan menggerakkan tangan kiri saya ke atas). Dan perhatikan saya menarik ketakutan Bu Anna ke tengah (saya menggerakkan tangan saya ke tengah) dan saya membawa bayangan anak Bu Anna menutupinya (saya menggerakkan tangan kiri saya menutupi tangan kanan saya). Sekarang dari 1 – 5 berapa skala nya?”

“3 (tiga), Pak.”

“Hebat...sekarang yang terakhir.” Sambil mengambil sebuah kotak tisu tangan dan bertanya padanya.

“Bu Anna tahu ini apa?

“Tisu, pak.”

“Apa yang akan terjadi dalam kotak ini kalau tisunya saya lempar-lempar seperti ini?” Sambil menarik tisu dengan tangan kanan dan kiri melempar beberapa tisu ke kanan dan ke kiri.

“Kotaknya kosong, Pak.”

“Benar, sekarang kita akan kosongkan angka 3 tadi dengan cara yang sama dalam bayangan Bu Anna. Setiap kali saya katakan ‘muncul’, Bu Anna lempar bayangannya ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Bu Anna bisa sambil menyuarakan prosesnya biar lebih asyik. Dengan suara apapun yang Bu Anna suka, seperti “Swis”, “Wuss”, “Tring”, dan lain sebagainya. Bu Anna akan sangat bersenang-senang dalam prosesnya. Bu Anna dapat menghentikan prosesnya saat dirasa cukup.”

“Siap, Bu.”

“Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”, “Muncul”, “Wuss”.

Bu Anna melakukannya dengan menutup mata dan dari mulutnya hanya terdengar bunyi “Wuss”. Terlihat wajahnya yang awalnya menegang kemudian menjadi berubah santai. Itu tanda bahwa ia sudah bisa mengatasi ketakutannya.

“Sudah, Pak.” Katanya dengan senyum dan membuka matanya.

“Sudah, Bu? Sekarang kalau saya minta memunculkan bayangan itu, apa yang Bu Anna rasakan?”

“Sudah tidak mengganggu seperti tadi, Pak.”

“Bagus, dan mulai saat ini, memang perasaan ini yang Bu Anna tahu dan setiap kali ada perasaan yang mengganggu, caranya mudah, Lemparkan saja!...hehehe....”

Rasa takut adalah manusiawi, dan rasa takut bukan untuk dihilangkan karena melakukannya berarti menghilangkan sisi kemanusiaan kita. Dan itu pentingnya Tuhan ada sehingga kita selalu berdoa terutama saat rasa takut itu datang. Manusia sebagai mahluk perasa, rasa takut datang dan pergi. Sadarilah bahwa rasa ini adalah biasa.

Jika rasa tidak nyaman datang? Lemparkan saja...

Friday, February 11, 2011

Kesadaran Internal Menjadi Kesadaran Eksternal dan Menjadi Internal Kembali

Satu asumsi menarik yang telah saya pelajari dan masih terus saya pelajari adalah bahwa, “Kita, manusia, tidak pernah tidak bisa tidak berkomunikasi.” Artinya kita semua disadari atau tidak selalu mengkomunikasikan apa yang kita pikirkan dan rasakan.



Saat kita bahagia, tidak hanya mulut kita yang mengatakan kata ,”Bahagia” tetapi juga seluruh anggota tubuh kita mengatakannya; Mata, Rambut, Hidung, Bibir, Wajah, Warna kulit, Gerakan tubuh, Gerakan tangan, Nada bicara, dan lain masih banyak lagi.



Saya teringat pesan guru mengaji saya dimasa kanak-kanak bahwa di hari perhitungan nanti, ‘segalanya berbicara’, dan ini cocok dengan yang saya pelajari dalam ilmu psikologi. Wah makin seneng saya sama guru ngaji saya, jangan-jangan beliau sudah lebih dulu belajar tentang hipnosis dan ilmu teknologi pikiran lainnya...hehehe...



Sahabat, menariknya ilmu ini adalah bahwa Anda sebenarnya telah melakukannya dan kebanyakan dari Anda belum sadar. Nah, dari konsep inilah saya mengembangkan strategi Intenal-Eksternal-Internal.



Mari saya berikan contoh praktis dari konsep ini yang nantinya dapat diaplikasikan dalam komunikasi apapun yang Anda inginkan.



Sahabat saya di kantor, sebutlah Santi, sedang saya repotkan dengan beberapa pertanyaan tentang administrasi. Dan biasanya setelah saya merepotkan orang lain, saya harus bisa memberi manfaat supaya sahabat-sahabat disekitar saya dengan suka rela saya repotkan lagi nantinya.



Santi yang sedang mengandung bayinya yang kedua, saya lupa usia kandungannya saat itu karena saya bukan suaminya...hehehe..., mengeluhkan perut bagian atas dibawah dadanya serasa sakit. Sebagai ‘People Helper’ (Tukang bantu orang alias Pembantu) saya langsung memutuskan untuk membantu. Sebelum membantu, saya katakan bahwa teknik ini bisa mengurangi rasa sakit bahkan menghilangkannya, tapi tetap harus ada kontrol dari dokter karena bagaimanapun dokter tetap diperlukan, apa lagi jika kemudian sakitna berlanjut.



“San, mana tangan lo?” Saya meminta Santi untuk mengangkat kedua tangannya dan meletakkan diatas meja kerjanya dalam posisi punggung tangan diatas.



“Dua-duanya, Ndrie?”



“Kalo bisa Empat-empat nya, San!” Kami tertawa, dan Anda pasti juga tahu bahwa tertawa juga bisa mengurangi rasa sakit. Pada saat tertawa dan tersenyum dengan suka rela, enzim otak kita yang berfungsi sebagai “pain killer” diproduksi. Mirip morfin yang digunakan tentara Amerika saat perang Vietnam yang kemudian menjadi cikal bakal narkoba di seluruh dunia. Nah, dari pada kecanduan narkoba, bagaimana kalau kita setiap hari meluangkan waktu untuk tertawa?



Kembali ke cerita Santi, saya mengetuk punggung tangan kanannya sambil mengatakan, “Konsentrasi pada ketukannya dan konsentrasi pada rasa ketukannya. Yang menarik dari cara ini, ketukan yang gue lakukan disebelah kanan dapat dirasakan di tangan sebelah kiri.” Saya mengetuk punggung tangan kirinya untuk melatih sensasi ketukan di tangan kirinya. Bagi orang yang sangat sugestif, tanpa dilatih sensasi itu sudah dapat dirasakan. Karena pada prinsipnya yang saya percaya bahwa hipnoterapi adalah latihan mental.



Saya kembali mengetuk punggung tangan kanannya dan membiarkan Santi merasakan sensasi ketukan di punggung tangan kirinya. Saat bibirnya mulai senyum-senyum kecil, saya yakin ia sedang menikmati sensasi ketukan itu sambil mungkin sedikit bingung dalam pikirannya, “kok bisa,ya?” Seperti itulah kira-kira senyumnya mengatakan pada saya.



“San, yang lebih asyik lagi, lo bisa menyadari sakit di perut lo sekarang.” Saya menunggu sejenak Santi merasakan sakitnya dan kembali saya meminta Santi untuk merasakan ketukan jari saya.



“Sekarang, rasakan ketukan gue lagi dan hanya berkonsentrasi pada ketukan jari gue. Sambil menarik nafas panjang... dan menghembuskannya perlahan... menariknya lagi...dan menghembuskannya lagi... nikmati udara yang masuk dan keluar dan membuat lo menjadi sangat santai dan menjadi lebih peka terhadap ketukan gue. Begitu konsentrasi lo hanya pada ketukan ini dan perlahan, kekuatan pikiran lo mengalihkannya dari rasa sakit dan tetap berkonsentrasi pada ketukan sambil menarik dan menghembuskan nafas yang panjang dan dalam... santai... relaks... tenang....”



Ketukan yang semula saya lakukan lebih cepat dan saat ini saya lakukan dengan lebih lambat mengikuti tarikan dan hembusan nafasnya.



“San, yang lebih keren lagi, gue akan lepaskan ketukan gue tapi ketukan tersebut dengan iramanya masih terus terjadi pada diri lo dan lo rasakan itu. Rasakan sekarang, San.” Saya mulai melepas perlahan mengangkat jari saya namun masih memperagakan jari saya seolah mengetuk-ngetuk dan perlahan tapi pasti saya menyingkirkan jari saya dari pandangannya.



“Sambil merasakan ketukan ini, tetaplah mengatur nafas dengan baik, keluar dan masuk, dan rasakan kesegaran saat udara masuk dan biarkan kesegarannya memenuhi tubuh dan hembuskan segala rasa yang tidak diinginkan.”



Saya tetap membimbing Santi dan membiarkannya menikmati itu dan setelah beberapa saat menunggu, Santi pun terlihat berhenti dari latihan mentalnya.



“Sudah, Ndrie. Sakitnya sudah hilang.”



“Wow, Keren! San, sekali lagi gue tunjukkan... ini bukan karena gue yang hebat, tapi karena kekuatan pikiran lo yang sudah dilatih untuk berkonsentrasi. Hipnosis adalah konsentrasi” Saya mengatakan sambil senyum-senyum dan bangkit dari tempat duduk saya.



“Ndrie, padahal gue orang yang sulit berkonsentrasi?!”



“Hey... Look at you! Yang barusan lo lakukan itu adalah konsentrasi dan lo melakukannya dengan kesadaran penuh serta mata terbuka. Itu hipnosis.” Saya menjawab menyemangati.



“Ndrie, nanti waktu gue ngelahirin, suami gue minta tunggu diluar aja dan lo yang temenin gue ya!”



“Hahaha... mana bisa gitu? Suami lo aja yang datang ke gue,biar gue ajarin...” Menyadari percakapan sudah keluar jalur saya meninggalkannya ngeloyor untuk melanjutkan pekerjaan saya, eh kesenangan saya...hehehe...



Sahabat, yang baru saya lakukan pada Santi adalah mengajaknya untuk menyadari rasa yang ia rasakan pada dirinya dan membujuknya untuk merasakan sesuatu yang datangnya dari luar, menunjukkannya bahwa rasa ini juga rasa yang diperlukan. Bahkan rasa tersebut dapat dinikmati seolah nyata sedang terjadi padahal stimulus sebenarnya sudah dihentikan.



Konsep ini dapat kita gunakan untuk segala bentuk komunikasi, salah satunya adalah dalam penjualan.



Bagaimana konsep ini dimanfaatkan dalam komunikasi penjualan?



Salah satu hukum pikiran dalam persuasi adalah Law of Reciprocity. Konsepnya sederhana, beri dulu dan kemudian meminta. Manusia memiliki kecenderungan berbalas-balasan, dan alam diciptakan dengan keseimbangannya. Merasa tidak nyaman jika orang lain melakukan untuk kita dan kita tidak dapat memberikan sesuatu untuk orang itu. Dan saya melakukan sedikit modifikasi dalam hukum ini yaitu beri dulu dan kemudian berilah lebih banyak, semakin banyak memberi, semakin banyak orang yang kita beri akan kembali memberi yang lebih banyak untuk kita. Ingat! Konsentrasi kita hanya memberi. Menjual adalah persoalan memberi dan orang lain akan memberikan kembali pada kita sama besarnya dengan yang kita beri.



“Saya tidak butuh asuransi!”



“Jika Pak Ali tidak butuh asuransi, apakah itu sama artinya anak dan istri bapak juga tidak butuh asuransi?”



“Baiklah pak, Saya tidak akan membicarakan asuransi tetapi membagi pengetahuan saya dan ini saya berikan untuk anak Pak Ali. Karena anak Pak Ali tidak ada di kantor ini, saya ceritakan pada Pak Ali saja. Setuju?



“Pak, saya yakin Pak Ali selalu ingin memiliki sekolah terbaik dan bergengsi bagi anak Pak Ali. Dan bapak tentu juga tahu bahwa anak Pak Ali yang berusia delapan tahun saat ini, baru akan berkuliah 10 tahun lagi. Jika biaya saat ini adalah Rp. 200 juta (misalnya) maka dengan memerhatikan kenaikan biaya pendidikan sekitar 20% pertahun, berarti biaya yag dibutuhkan nanti adalah Rp. 1.236.347.284,48.(buka laptop/netbook anda, gunakan Excel SpreadSheet untuk menghitung Future Value) Nah, agar saya bisa memberikan pengetahuan saya lagi, saya harus bertanya. Apakah sudah disiapkan dana sebanyak ini? Dan jika sudah, apakah Pak Ali sudah melindungi dana ini agar tidak berkurang karena banyak hal?”



Berasumsi pak Ali sudah menjawab yang ditanyakan. “Baik, Pak. Besok saya akan datang kembali untuk memberikan ilustrasi perencanaan. FYI,Pak. Gratis untuk anak pak Ali (Sebutkan namanya).



Jika pak ali membiarkan Anda datang lagi, itu artinya 80% ia sudah ingin memberikan kita kembali.



20% nya gimana, Ndrie?



20% nya ya kehadiran Anda tepat waktu dengan kredibiltas tetap terjaga dan cara presentasi yang penuh percaya diri.



Kesadaran tentang Anak, yang merupakan kesadaran internal sang bapak, kita bawa keluar dan menggabungkannya dengan kesadaran tentang pendidikan (Eksternal) dimasa mendatang yang pada saat itu mungkin belum terpikirkan. Ketika kita bisa membuatnya menjadi penting, kesadaran itu akan disimpan oleh sang bapak.



Internal-Eksternal-Internal



Membutuhkan Workshop tentang Komunikasi yang dipandu oleh Andrie Setiawan?

Hubungi 123 MIND INDONESIA



123mindindonesia@gmail.com

setiawan.andrie@gmail.com

Andrie Setiawan 0811 187 5432

Buthonk 0818 0808 96 46

Saturday, December 25, 2010

Permisi! Apa Misi mu?

Hobi saya yang suka memperhatikan bahasa tubuh seseorang dan mencoba membaca pikiran orang-orang tersebut sampai pada beberapa orang yang saat melakukan ‘pekerjaan’ nya sangat jarang tersenyum, postur tubuh tidak seperti orang yang semangat, dan tambah lagi informasi bahwa ia lebih sering terserang flu ketimbang yang lainnya.

Nah Lho...?? Kok sampai sakit Flu segala? Apa hubungannya?

Aaaah...mereka hubungannya baik-baik saja...tapi kadang-kadang memang kurang intim...(hehehe...kita lagi ngomongin apa seeeh?)

Sahabat, Flu sering menyerang orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Orang yang terlalu lelah, atau sering mengalami tekanan pikiran akan sangat mudah terjangkit virus ini. Orang yang berdaya tahan tubuh kuat, selalu ceria (seperti saya...hehehe...), berpikiran positif, lebih jarang terjangkit Flu.

Pekerjaan oh pekerjaan, dari Senin hingga Jum’at bahkan Sabtu atau Minggu. Ketika Jum’at datang, ramai-ramai status Facebook bertajuk TGIF –Thanks God It’s Friday- dan ketika Senin kembali datang, mereka menulis OSIMA hehehe..berbau-bau Jepang ya? Bukan! Tapi Oh S**t It’s Monday Again. Oh Man!...You know what? Ini yang membedakan PEKERJAAN dari MISI.

Banyak orang kurang bahagia dengan apa yang dikerjakannya. “Ini bukan aku!” atau beberapa orang yang lebih muda mengatakan, “Iiiih, gak gue banget deh...!” Anak gaul yang sering keluar masuk salon berkata, “Bete deh eike, Ciiyyyn.!” Sahabat-Sahabat saya yang meRASAkan ini bertanya dan meminta diberi TAHU apakah ada yang salah dengan dirinya atau paling tidak apa yang bisa mereka lakukan agar lebih bahagia dengan apa yang mereka lakukan sekarang.

Lalu apa bedanya PEKERJAAN dan MISI?

Tanyakan pada tukang batu yang membangun Masjidil Haram dan Katedral Saint Peter Basilica.

Tukang batu yang menjawab, “Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Ia sedang melakukan PEKERJAANnya.

Lain lagi jika ia menjawab, “Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.” Nah..tukang batu ini sedang melakukan MISI nya. Tukang batu ini berhasil memadukan Keyakinan, Nilai-nilai, Tindakan, dan Rasa yang berasal dari berbagai ketertarikan, kepentingan, minat, dan tujuan.

Mudah, kan membedakannya? Orang yang melakukan apa yang memang harus dilakukan hanya melakukan pekerjaannya sedangkan orang yang menjalankan misi nya akan sangat menikmati apa yang sedang dikerjakannya.

Tentu banyak dari Anda yang sudah pernah mendengar

“Do What You Love and Love What You Do.”

“Yah...Ndrie, dah bagus dapet kerjaan. Hareee geneee, cari kerjaan yang kita sukai...Susah Man! Bisa-bisa gue gak makan.” Ada diantara Anda, pembaca, yang mengatakan ini. HATI-HATI!...saya dapat mendengar suara hati Anda dari sini...(gunakan echo secukupnya agar kalimat saya terdengar dramatis...hehehe...).

Sederhana, Sahabat. Anda tetap dapat mencari MISI Anda dengan apapun pekerjaan Anda saat ini, yaitu dengan mengubah Kalimat-Kalimat berdaya rendah yang sering berseliweran di kepala Anda menjadi pernyataan Misi untuk Anda sendiri. Ingat! Kalimat ini untuk kepentingan Anda sendiri dan bukan orang lain.

Contoh tukang batu diatas dapat dijadikan teladan dalam mengubah kalimat berdaya rendah menjadi kalimat yang memberdayakan.

“Aku menumpuk batu hingga menjadi dinding.” Menjadi,

“Aku sedang membangun tempat suci umat berAgama dengan kemegahannya yang membuat pengikutnya semakin larut dalam kecintaannya pada Tuhan dan akan terus berdiri selama berabad-abad karena semua terinspirasi oleh Keagungan Tuhan.”

Untuk seorang Trainer seperti saya, kalimat berdaya rendah seperti;

“Saya membawakan materi pelatihan bagi para peserta pelatihan saya.” Menjadi,

“Saya melatih dan menyediakan inspirasi bagi banyak orang untuk membuat mereka mencapai impian-impian mereka dan kesuksesan mereka menjadi bukti bahwa saya telah berhasil menjalankan MISI saya dengan VISI kesuksesan untuk setiap orang atas dasar cinta dan kasih pada sesama.”

Untuk seorang kasir yang kurang senyum yang saya temui tadi siang di sebuah Supermarket yang tidak perlu saya sebutkan namanya yang berasal dari Perancis (hehehe...mudah-mudahan masih samar informasinya.)

“Saya melakukan transaksi dengan pelanggan.” Menjadi,

“Saya menukar nilai uang pelanggan dengan barang yang bernilai lebih tinggi dari nilai uang yang dibayarkan dan menyediakan kebahagiaan bagi kepuasan pelanggan yang menggunakan barang-barang dari toko kami.”

Sahabat, dengan mengubah kalimat-kalimat berdaya rendah menjadi berdaya tinggi, kita akan benar-benar melihat VISI kita karena mengetahui MISI kita.

“This is my December”, Katanya. Momentum yang kita butuhkan sedang terjadi. Tanggal 7 Desember lalu adalah Tahun Baru bagi Umat Muslim, tanggal 25 ini adalah Hari Natal yang artinya “Terlahir” dan setelah ujung Desmber ini adalah pergantian tahun yang menyimbolkan dimulainya semua ukuran untuk mencapat target-target yang ditentukan.

OTAK KITA BUTUH MOMENTUM

dan menutup tulisan ini saya berkata,

PERMISI! APA MISIMU?