Certified Instructors-Indonesian Board of Hypnotherapy

Showing posts with label Financial Coach. Show all posts
Showing posts with label Financial Coach. Show all posts

Sunday, April 5, 2015

LARI DARI TAKDIR ALLAH MENUJU TAKDIR ALLAH YANG LAIN

SETUJUI KEBERATAN PELANGGAN, BUKAN MENDEBATNYA

Masih ingat apa yang kita bahas dalam tulisan sebelumnya, PELANGGAN SELALU BENAR (?)? Kebanyakan penjual bersusah payah belajar dan berlatih untuk menjawab dan bahkan menyanggah keberatan pelanggan dan berusaha keras membalikkan keberatan tersebut agar pelanggan setuju membeli.

Sebagai penjual kita bisa menggunakan cara lain yang masih jarang dilakukan orang lain dan ingatlah bahwa rejeki kita ada dan berasal dari Allah. Sekeras apapun Anda menyanggah keberatan pelanggan bahkan sampai terjerumus kedalam kata-kata yang berlebihan apalagi sampai berbohong, jika Allah belum berkenan maka mereka tidak akan menjadi pelanggan Anda. Jadi, santai dan terus berusaha ya...

Dari pada menangani keberatan, akan lebih ringan jika Anda menyetujui keberatan. Stres tidak perlu terjadi dan kita akan dengan santai serta bahagia menjalani pekerjaan ini, in syaa Allah, Amiiin.

Ijin kan saya memberikan ilustrasi dari ide ini, yang saya tawarkan pada Anda.

Sebuah perusahaan Asuransi jiwa memiliki produk syariah namun dalam kelas pelatihan, mereka masih menghadapi persoalan keberatan pelanggan. 

Sebelum memiliki produk syariah, para tenaga pemasarnya kerap mendapatkan keberatan bahwa berasuransi sama dengan LARI dari Takdir Allah. Tidak pasrah dan menyerahkan diri pada Allah. Namun setelah perusahaan tersebut memiliki produk syariah, para tenaga pemasar pun masih menghadapi keberatan yang sama, Asuransi sama dengan lari dari takdir Allah!

Beginilah cara menyetujui keberatan pelanggan;

Pelanggan: "Berasuransi itu sama dengan lari dari takdir Allah."

Tenaga Pemasar: "Bapak benar, Berasuransi itu sama dengan lari dari takdir Allah. (Ulangi kalimatnya sebagai tanda bahwa Anda mendengarkan, memahami, dan menyetujui kata-kata nya)."

"Ingatkah Bapak ketika Umar ibnul Khaththab pergi ke Syam. Kemudian ketika ia sampai di sebuah desa antara perbatasan Hijaz dan Syam, Umar bertemu dengan panglima pasukan, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan teman-temannya."

"Mereka menginformasikan bahwa di Syam sedang terjadi wabah lepra Amwas. Kemudian para sahabatnya berbeda pendapat. Ada yang menyarankan untuk terus ke Syam dan ada yang menyarankan untuk kembali ke Madinah. Beberapa kelompok lain dari para sahabat dimintai pendapat dan hasilnya sama, yaitu berbeda pendapat."

"Mendapati dua suara berbeda yang sama banyak, Umar memutuskan kembali ke Madinah dan kemudian Abu Ubaidah berkata, "Hendak lari dari takdir Allah?""

"Umar menjawab, "... Apa pendapatmu jika untamu jatuh pada lembah yang memiliki dua sisi. Satu sisi dari lembah itu subur, dan sisi lainnya tandus? Bukankah jika kamu menggembalakan untamu di lembah yang subur maka sama saja kamu menggembalakannya dengan takdir Allah, sedangkan jika kamu gembalakan di tanah yang tandus maka kamu juga menggembalakannya dengan takdir Allah?"

"Beberapa waktu kemudian Abdurrahman bin Auf datang dan memberitahukan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Jika kalian mendengar sebuah wabah tengah melanda satu daerah, maka jangan kalian mendatanginya. Sedangkan jika terjadi wabah pada satu daerah dan kebetulan kalian berada di tempat itu maka janganlah kalian keluar lari darinya!"

Tenaga Pemasar: "Saya yakin Bapak memahami maksud dari perkataan Rasulullah SAW dan berkaitan dengan urusan kita, Bapak tahu bahwa kita cepat atau lambat akan meninggalkan dunia ini menuju kepada-Nya, dan Bapak memiliki pilihan  atas dua Takdir Allah dalam meninggalkan keluarga Bapak, dalam kondisi kecukupan atau meminta-minta dan bergantung pada manusia. Bapak lari dari takdir dan menuju takdir Allah yang lain. Silakan Bapak tandatangani ilustrasi manfaat asuransinya disini (sambil menunjuk tempat tandatangan)."

SEMOGA BERMANFAAT.




Saturday, March 14, 2015

PERUBAHAN INSTAN (ANGAN-ANGAN ATAU KENYATAAN?)

Kemajuan cara pikir manusia berdampak pada kesabaran manusia. Bagaimana tidak, setelah banyak penemuan-penemuan yang mempermudah kehidupan manusia, kita, termasuk saya, terlatih untuk menjadi tidak sabar. Apa contohnya? Hasil buah pikir manusia dalam membuat kendaraan yang mengantarkan kita dari sebuah tempat ke tempat lain, membuat kita enggan menggunakan cara-cara yang telah ada sebelumnya.
Orang enggan menggunakan mobil karena ada pesawat, juga orang enggan menggunakan kapal laut karena juga sudah ada pesawat. Orang enggan bersepeda karena sudah ada motor, juga orang berkuda karena juga sudah ada motor, walaupun manusia dengan cerdas menamai motor sebagai KUDA BESI. Orang enggan jalan kaki ke masjid dan lebih suka naik motor, bahkan ke tetangga sebelahpun naik motor.

Dalam kemajuan media komunikasi, orang enggan menulis surat dan mengirimkannya melalui kurir, tau orang tidak lagi mengirim surat via pos. Kita lebih suka sms, email, BBM, Whatapps, Line, bahkan Facebook, Twitter, dan Path, bahkan orang-orang sering kali tidak perlu berpikir lama untuk mengekspresikan pemikirannya melalui media-media tersebut. Saking instan nya, kata-kata berbau sampah pun ter posting di media sosial yang menyebabkan perselisihan. Dulu orang-orang untuk berpikir pun harus memikirkan berkali-kali apakah pemikirannya baik.

Dalam teknologi memasak, orang tidak perlu lagi menyalakan kompor berbau minyak tanah bahkan aroma kayu bakar. Sudah ada kompor gas, listrik, dan bahkan microwave untuk dapat menikmati makanan panas dengan hampir seketika. Untuk bisa menikmati mi pun, sudah ada versi instan. Bahkan nasi goreng, juga ada yang instan. Begitu pula bubur yang sejatinya waktu masaknya sedikit lebih lama dari memasak nasi, juga sudah ada yang instan.

Hal-hal ini lah jika kita jeli, mengapa manusia saat ini menjadi tidak sabar dalam berpikir karena mereka kira bahwa semuanya bisa dilakukan dan didapatkan secara instan. Fenomena BEGAL baru-baru ini pun karena pemikiran instan untuk memiliki motor. Hal ini didapati setelah polisi menginterogasi para pelaku yang umumnya remaja pengangguran.

Pernah juga sebuah pesan menyelinap ke BBM saya dan dengan seksama ia menceritakan bagaimana teknik Instant Change yang diberikan oleh teknik-teknik terapi memiliki kemampuan yang luar biasa yang dapat mengubah perilaku negatif bahkan penyakit dengan cepat.

Saya mengatakan bahwa sejatinya untuk hasil yang baik, tidak ada sesuatu yang instan. Bukan berarti teknik-teknik tersebut buruk. Tetapi para pelaku dan penggunanya musti memiliki konsep berpikir yang matang ketimbang menganggap teknik-teknik ini sebagai keajaiban atau Magic.

Mari kita lihat bagaimana teknik-teknik terapi seperti NLP (Neuro Linguistic Programming), NAC (Neuro Associative Conditioning), Hipnoterapi, dan lainnya.
Sambil melihat gambar di atas, saya akan menceritakan bagaimana kita, manusia menangkap dan memproses informasi secara sederhana.

Sebagian dari Anda mungkin tahu ada mitos yang mengatakan bahwa membuka payung didalam rumah akan  menyebabkan bencana dan mungkin dulu Anda adalah salah satu orang yang memercayainya. Lalu bagaimana Anda menyadarinya bahwa hal tersebut adalah mitos?

Awalnya Anda diinformasikan oleh orangtua, bisa jadi orangtua Anda sendiri ataupun orang lain yang memiliki figur otoritas. Figur otoritas adalah orang yang anda percaya bahwa kata-katanya benar.

Kata-kata tersebut akan Anda akan melalui proses seleksi atau penyaringan. Karena pada saat itu Anda masih kecil dan orang yang mengatakannya adalah orang yang Anda percaya, langsung saja kata-kata tersebut lulus seleksi dan Anda simpan secara sadar untuk dipergunakan sebagai pengingat jika dibutuhkan. Ternyata beberapa orang mengatakan hal serupa, dan Anda semakin yakin bahwa hal tersebut adalah sebuah kebenaran dan pikiran itu secara tanpa disadari menjadi landasan berpikir yang kokoh.

Dalam keseharian Anda akan berpikir bahwa membuka payung didalam rumah adalah sesuatu yang buruk dan tidak diperbolehkan. Hal ini menjadi sikap dan Anda tunjukkan pada penampakan perilaku Anda. Bahkan saat itu Anda juga ikut melarang orang lain yang membuka payung didalam rrumah lengkap dengan cerita mitos yang menyertai mengapa hal tersbut tidak diperbolehkan.

NAMUN HARI BERGANTI DAN ANDA PERCAYA BAHWA YANG ANDA PERCAYA SAAT ITU HANYA MITOS.

Bagaimana itu bisa terjadi? Prosesnya sama dengan sebelum dan saat Anda memercayai mitos itu. Ada kejadian eksternal baik ada orang yang memunyai figur yang Anda anggap dapat dipercaya ataupun Anda yang telah lebih dewasa dalam berpikir telah membuktikan bahwa membuka payung didalam rumah tidak menyebabkan bencana. 

Prosesnya tentu juga melalui penyaringan. Ide baru ini bertentangan dengan ide lama dan Anda akan menyaringnya dengan keyakinan sebelumnya, nilai-nilai yang diyakini, pengalaman dan meori Anda tentang ide baru ini.

Masuk lah hasil pemikiran ini menjadi pemikiran yang Anda sadari dan setelah berkali-kali Anda membuktikan bahwa ide lama tidak terbukti, Anda akan meyakininya sebagai sebuah kebenaran baru dan Anda menyimpannya secara tanpa Anda sadari yang kemudian menjadi sistem baru bagi Anda.

Saat itu Anda tidak berperilaku melarang orang yang membuka payung didalam rumah, mungkin Anda akan membiarkannya, atau hanya akan menasehati untuk berhati-hati jika tidak paung tersebut akan mengenai barang-barang disekitarnya atau mengenai orang lain.

HAL TERSEBUT JUGA TERJADI PADA TERAPI BERHENTI MEROKOK

Terapi NLP, NAC, atau pun Hipnoterapi yang dilakukan secara singkat, sebenarnya tidak sesingkat yang Anda lihat. Orang-orang yang berhasil menghentikan kebiasaan merokoknya untuk jangka waktu yang panjang bahkan selamanya adalah orang-orang yang sudah terlebih dahulu mengalami proses berpikir dan pendidikan dalam diri dan pikirannya bahwa merokok adalah sesuatu yang salah dan sering kali orang-orang ini tidak tahu caranya, padahal seperti yang saya pernah lakukan, untuk berhenti merokok hanya ada satu cara, yaitu jangan lagi merokok. :) 

Setelah proses berpikir yang panjang, terapis hanya perlu memberikan pelatihan bagaimana ia terhindar dari rokok. Pikiran nya akan dikondisikan untuk tidak lagi mendekati rokok. Salah satu contoh terapi berhenti merokok adalah dengan mengasosiasikan rokok dengan sesuatu yang tidak dia sukai. Mengidentikan rokok dengan makanan yang tidak ia sukai misalnya dan setiap kali ia berniat kembali merokok maka pikiran mengingat hal yang tidak disukai tersebut.

Terapi ini akan gagal jika pikirannya tentang merokok tidak diperbaiki terlebih dahulu karena pikirannya yang cerdas akan segera menyadari bahwa rokok adalah BUKAN makanan yang tidak ia sukai, sehingga ia akan kembali merokok dan pada masa ini resistensinya terhadap terapi berhenti merokok akan lebih besar karena ia percaya bahwa terapi merokok adalah tidak sesuai dengan keyakinannya tentang rokok.

HAL INI JUGA TERJADI PADA TERAPI LAINNYA SEHINGGA YANG NAMANYA PERUBAHAN INSTAN TIDAK BENAR-BENAR INSTAN TETAPI SUDAH ADA PROSES SEBELUMNYA.

KARENANYA KITA TIDAK BISA MENGUBAH KORUPTOR MENJADI ORANG SOLEH SECARA INSTAN! SEPERTI INSTANNYA KEINGINAN MEREKA UNTUK MENJADI KAYA.

BAGI ANDA YANG INGIN BERUBAH SECARA INSTAN, ANDA SEDANG BERANGAN-ANGAN! BELAJARLAH MELALUI PROSES KARENA KESUKSESAN MEMBUTUHKAN SEBUAH PROSES - HAL ITU AGAR ANDA BELAJAR DAN AGAR ANDA DAPAT MENGAJARKAN KESUKSESAN ANDA PADA ORANG LAIN!

Wednesday, April 2, 2014

DILARANG Berdebat dalam MENJUAL!

Bisnis penjualan, saya yakin, merupakan bisnis tertua didunia ini, dan silakan Anda perhatikan bahwa dunia ini juga berjalan karena penjualan.

Dari makanan dan minuman sampai dengan otomotif, motor dan mobil. Dari jasa perjalanan sampai dengan jasa kesehatan, kita hidup dengan saling jual dan beli. Dan jangan salah sangka, Anda yang karyawan pun adalah seorang penjual, menjual tenaga dan ide Anda dan perusahaan membayarnya dengan gaji.

Menjual bukan sekedar tukar menukar antara barang dengan uang Anda, bukan juga tentang apa transaksi yang terjadi saat ini tanpa berkaitan dengan masa lalu dan masa yang akan datang, menjual lebih dari itu.

Bagi Anda yang MENJUAL, dengar kan ini. Manjual adalah proses memotivasi calon pelanggan Anda untuk membuat keputusan memilih ide yang Anda bawa dan tawarkan kepadanya.

Katakanlah mulanya Anda ingin membeli mobil keluarga keluaran Toyota, sambil melihat-lihat Anda mampir ke dealer Suzuki, entah mengapa Anda kemudian memilih Suzuki sampai kemudian Anda memberitahu saya bahwa mobil pilihan Anda sesuai dengan kebutuhan keluarga dengan harga yang lebih hemat dan teknologi yang sama hebat, pusat pelayanan purna jual yang dekat dari rumah serta harga suku cadang yang murah meriah. Rupanya sales mobil Anda telah memotivasi Anda untuk membuat pilihan.

Dalam dunia asuransi juga demikian,Anda telah mendatangi calon nasabah Anda berkali-kali, namun ia tidak kunjung menandatangani surat pengajuan asuransi yang menjadi dasar kontrak yang akan diterbitkan, namun beberapa saat kemudian Anda mengetahui bahwa ia telah menandatangani kontrak melalui agen asuransi lain. Setelah mendapat penjelasan, Anda baru mengetahui bahwa orang tersebut membutuhkan asuransi untuk persiapan warisan sementara Anda terus menerus menawarkan perlindungan biaya pendidikan. Agen asuransi lain lebih tahu bagaimana memotivasi nasabah ini untuk membuat keputusan dan pilihan.

JADI! INGAT! Menjual = Memotivasi

Ada beberapa saran tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan dalam Menjual, salah satu larangan dalam menjual adalah BERDEBAT. Dalam setiap kesempatan berbicara di depan para tenaga pemasaran saya selalu mengatakan, “Dilarang berdebat dalam menjual! Anda dimungkinkan untuk MENANG dalam perDEBATan, tapi Anda bisa diPASTIkan KALAH dalam penjualan.”

Beberapa tips motivasi penjualan yang dapat Anda gunakan adalah:

1. Singkirkan “Tembok penghalang” antara Anda dan dia.
2. Berdirilah sedikit lebih tinggi.
3. Ketahuilah bagaimana Anda dapat membantunya, hanya Anda!

Tembok penghalang yang saya maksud bukan yang dapat dilihat secara fisik tetapi yang dapat dirasakan secara emosi. Rasa canggung, kaku, dan sungkan, adalah ciri-ciri masih terbentangnya tembok penghalang di antara Anda berdua.

Yang membuat tembok penghalang ini ada biasanya karena; Anda adalah orang baru baginya, ia belum mengenal Anda, penampilan Anda tidak meyakinkan, ia memiliki pengalaman buruk dengan Anda atau penjual lain yang menjual barang/jasa yang sama.

Yang dapat menghancurkan dinding penghalang dan melumerkan kebekuannya dimulai dari PENAMPILAN fisik yang sesuai dengan kesan yang akan dimunculkan. Saat badan kita tidak sehat, kita biasa pergi ke dokter. Biasanya penampilan yang kita dapat lihat adalah dokter tersebut memakai jas putih dan berkalung stetoskop. Penampilan ini benar-benar mengesankan bahwa ia adalah seorang dokter yang memiliki pengetahuan dan keterampilan penyembuhan. Suatu ketika, seorang kawan saya pun dikira seorang dokter hanya karena ia mengenakan jas putih. Penipuan penculikan bayi yang baru-baru ini terjadi pun karena orangtua bayi salah mengira penculik itu adalah dokter sungguhan lantaran penculit tersebut mengenakan baju dokter.

Contoh di atas baik kejadian yang positif maupun negatif, dapat Anda saksikan bahwa penampilan sangat penting untuk menghancurkan tembok penghalang, yang terpenting penampilan itu sesuai dengan kesan yang ingin dimunculkan.

Penampilan ini juga dapat membantu Anda untuk “berdiri sedikit lebih tinggi” dari calon pembeli Anda. Ingat sekali lagi, menjual = memotivasi. Anda yang seorang agen asuransi, Anda selalu mendengungkan fungsi asuransi adalah untuk melindungi diri dari kerugian keuangan sehingga akan membuat kehidupan sejahtera namun penampilan Anda terlihat seperti orang yang tidak sejahtera. Pakaian Anda lusuh, aroma Anda menyengat mengganggu, wajah Anda lesu, maka kemungkinan besar calon nasabah Anda tidak percaya apa yang Anda katakan.

Berdiri sedikit lebih tinggi adalah Anda tampil memberi contoh, jika Anda penjual produk kesehatan, maka Anda harus tampak lebih sehat. Jika Anda penjual Asuransi, maka Anda tampil sedikit lebih sejahtera. Jika Anda penjual makanan, maka Anda harus terlihat sedikit lebih bertenaga karena makanan yang Anda makan, dan seterusnya. Mengapa saya katakan “sedikit lebih tinggi”? Yang sedikit ini akan mudah dicapai dan ditiru oleh orang lain. Jika jarak antara Anda dan dia sangat jauh, posisi Anda sangat tinggi dan ia sangat rendah, hal ini akan membuatnya ragu apakah ia bisa menjadi seperti Anda atau tidak. Dan saat ia tidak bisa mengikuti posisi Anda, ia akan mengalami penurunan motivasi.

Beberapa kali dalam penjualan tentu Anda akan merasakan penolakan. Sebagai mahluk sosial, tentu kita merasa tidak nyaman ketika ditolak dan respon cepat yang terjadi dalam pikiran kita biasanya bertahan dan membela diri. Misalnya; “Ah, mobil murah nanti malah cepet rusak, biayanya malah lebih mahal.” “Asuransi? Kakek saya gak pake asuransi hidupnya juga bahagia, tuh!” “Saya gak perlu vitamin ini, saya sudah sehat berolah raga.”

Jawaban yang biasa dimulai dengan, “Beda, pak.” “Bukan begitu, bu.” “Kata siapa, mas?” adalah cikal bakal perdebatan. Anda dapat menggantinya dengan mengafirmasi pernyataan calon pelanggan Anda.
“Benar, pak. Kebanyakan mobil murah malah berbiaya mahal karena service center nya tidak ada, suku cadangnya mahal, sehingga malah banyak uang yang dikeluarkan.” (Tunggulah sejenak jangan segera melakukan klarifikasi atas produk Anda. Tunggu responnya. Kemungkinan calon pelanggan Anda akan senang karena Anda memahaminya, kemudian lanjutkan. “Nah dealer kami memiliki bengkel layanan purna jual yang telah bertaraf internasional, semua menggunakan sistem komputer sehingga kualitas standar dan akurasi terjaga, biaya layanan kami juga tetap yang paling murah dibanding lainnya dan semua suku cadang tersedia disini.”

Masih perlu contoh lagi? Saya kira Anda sudah dapat membuatnya sendiri bagaimana menghindari perdebatan.

Terakhir, ketahuilah bagaimana Anda, dan hanya Anda, dapat membantu memenuhi kebutuhannya. Carilah apa yang tidak dicari orang lain. Lakukanlah apa yang tidak dilakukan orang lain. Sehingga hanya Anda yang mampu melakukannya dan tidak ada pengganti diri Anda. Dengan begitu, Anda akan semakin dipercaya dan motivasi yang Anda berikan akan benar-benar diterima.

Selamat Menjual Berdebat tidak menjadikan penjualan hebat, memahami kembali bahwa penjualan adalah bagian dari motivasi akan membuat komunikasi diri menjadi lebih tinggi.

  

Sunday, December 8, 2013

INVESTASI BUKAN (hanya) MATEMATIS, TETAPI (juga) PSIKOLOGIS

Dahulu, saya menganggap bahwa investasi adalah urusan bank dan juga lembaga keuangan lainnya yang saya tidak tahu apa itu. Investasi benar-benar alien bagi saya. Lalu saya mulai belajar tentang apa itu investasi. Diawal masa belajar, saya (seperti kebanyakan orang lainnya) menganggap bahwa investasi adalah benda matematis dimana semua isinya adalah perhitungan matematika. Seperti; berapa dana (modal) yang akan dinvestasikan, berapa tingkat pengembalian atau bunga yang diperoleh, jika dikalikan keduanya maka berapa yang akan saya dapatkan dalam beberapa tahun kedepan. Namun ternyata saya salah. Investasi bukanlah benda matematis, tetapi perihal psikologis.

Yang paling mudah untuk dilihat, beberapa diantaranya, adalah melonjaknya harga emas ditahun 2008 dan 2009 an, dimana orang tidak percaya kekuatan dolar Amerika dan mereka menukarkan dolar dengan emas sehingga permintaan akan emas meingkat tajam yang mengakibatkan harga emas melambung.

Kedua, adalah yang baru-baru saja terjadi, yaitu melonjaknya harga dolar Amerika. Persediaan dolar Amerika di Indonesia menipis karena isu tapering off Quantitative Easing. Quantitative Easing adalah kebijakan bank sentral suatu negara untuk “membanjiri” masyarakat dengan cash sehingga pasar akan bergairah karena mudah mendapatkan kredit karena kemampuan membayar yang tinggi dan tentunya akan menggerakkan roda perekonomian negara tersebut. Namun akhir-akhir ini pemerintah Amerika berencana mengontrol kembali jumlah uang tunai yang beredar. Hal ini ditanggapi oleh investor dengan menukarkan rupiahnya dengan dolar Amerika agar ketika kebijakan ini jadi dijalankan, mereka tidak kekurangan dolar. Perlahan lalu pasti, dolar menghilang dipasaran dan membuat Rupiah tertekan dan nilainya jatuh. Mengapa Rupiah jatuh dan bertekuk lutut dihadapan Dolar Amerika? Psikologis! Mereka lebih percaya dolar ketimbang Rupiah. Percaya atau tidaknya seseorang adalah bukan matematis melainkan psikologis. Ditambah lagi, orang-orang yang tidak mencintai negaranya sendiri, Indonesia Raya, ikut-ikutan memborong Dolar Amerika yang malah membuat nilai Rupiah makin menyusut.

Satu lagi, harga-harga saham yang sangat bergantung pada harapan atau ekspektasi investor. Saat investor percaya bahwa sebuah saham harganya akan naik dan kemudian orang-orang ikut memercayai hal tersebut, maka permintaan akan saham tersebut meningkat dan dengan demikian meningkatkan harga saham tersebut. Sebaliknya, orang-orang akan menjual sahamnya saat mereka tidak memercayai bahwa perusahaan tersebut tidak akan memberikan keuntungan yang baik ditahun yang sama, maka setiap orang menjual saham perusahaan tersebut yang membuat persediaan saham perusahaan tersebut  berlimpah dipasar kemudian menuruhkan harga saham tersebut. Nyatanya, di tahun 2008 beberapa perusahaan dipercaya tidak akan memberikan keuntungan yang baik hingga sahamnya jatuh, namun tetap saja perusahaan tersebut dapat menciptakan untung besar diakhir tahun.

Melonjaknya harga emas, dolar, dan saham, sangat dipengaruhi oleh keputusan psikologis bukan matematis.


Hal serupa juga terjadi saat kita memutuskan apakah memulai investasi atau menundanya. Jika semua orang berpikir matematis, maka tidak akan ada orang yang menunda investasi. Mari kita lihat contoh dibawah ini;


Ali memutuskan untuk berinvestasi lebih awal untuk persiapan masa pensiunnya sedangkan Amir menundanya hingga beberapa tahun lagi. Ali, yang memulai lebih awal, hanya mengeluarkan dana Rp. 72 juta dan mendapatkan dana yang jauh lebih besar dari pada Amir yang mengeluarkan uang lebih besar, yaitu Rp 168 juta. Jelas bahwa Investasi Bukan (hanya) Matematis, Tetapi (juga) Psikologis.

Tool diatas dapat di download dalam format Ms Excel disini.

Thursday, September 19, 2013

PETANI YANG MENYUBURKAN LADANG ORANG LAIN

Setiap hari mencari rejeki, kita bagaikan petani yang menggarap sawah dan ladang masing-masing. Dan setiap hari juga kita sering melihat para petani ini sibuk dengan ladangnya sendiri-sendiri. Pergi pagi dan pulang petang bahkan sampai malam. Menggarap, menanam, menyiram dan memupuk, dan tak jarang kita menjaga dari hal yang merusak tanaman dan ladang kita.
Bercita-cita mendapatkan hasil panen yang bagus, seringkali kita terlena menganggap ini lah hal yang paling penting kita lakukan setiap hari agar hasilnya nanti sempurna. Kita hanya memikirkan ladang dan diri sendiri. Tak hanya hama yang kita anggap mengganggu, bahkan beberapa kali, Tuhan yang menciptakan musim kemarau pun dianggap telah mengganggu hasil pekerjaan kita.
Ditengah keegoisan kita, ada seorang petani yang hasil ladangnya berlimpah dengan kualitas nomer satu. Berbeda dengan hasil ladang petani lain dengan lokasi yang tidak berdekatan. Penasaran akan hal itu, seorang mahasiswa calon insinyur petanian bertanya pada petani ini. Mengapa ladangnya dan ladang-ladang disekitarnya memiliki panen melimpah dengan kualitas nomer satu.
Petani ini menjawab, "Saya membagi bibit unggul yang saya miliki pada petani-petani yang berdekatan serta memberi mereka pupuk yang terbaik. Saya juga mengairi ladang-ladang mereka. Saya ikut membantu mengusir hama dari ladang mereka."
Petani ini melanjutkan, "Mas calon Insinyur, dengan cara seperti ini lah ladang saya menghasilkan panen terbaik. Perhatikanlah, jika saya tidak memberi bibit yang unggul pada petani disekitar dan bibit mereka jelek, maka angin akan menerbangkan serbuk sari bibit jelek tadi ke ladang saya. Perkawinan serbuk sari yang kualitasnya jelek itu akan berpengaruh buruk pada tanaman saya."
"Jika saya tidak mengaliri ladang mereka, tanah mereka menjadi tidak subur, unsur hara dalam tanah pun rusak. Maka hal itu juga akan berpengaruh pada tanah ladang saya yang ada disekitarnya."
"Jika saya tidak membantu mereka menghalau hama, maka bisa jadi ladang mereka menjadi sarang hama dan menular ke ladang saya. Itulah yang saya lakukan. Sederhana, tidak ada yang istimewa namun Tuhan memberikan hasil yang istimewa pada ladang saya dan petani disekitar."
Mahasiswa ini menyimpulkan bahwa ketika berbuat baik pada orang lain, faktanya adalah orang tersebut sedang berbuat baik pada diri sendiri.
Membantu orang lain, ternyata itu adalah bantuan untuk diri sendiri. Memberikan modal pada orang lain juga berarti bahwa kita sedang berusaha mensejahterakan diri sendiri.
Ia teringat apa yang pernah ditulis oleh Zig Ziglar bahwa Cara terbaik untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan adalah dengan membantu orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ilmu ladang ini sangat berguna dalam kehidupan karena sesungguhnya kitapun sedang berladang untuk kehidupan kita. Ilmu TABUR dan TUAI saja belum cukup. Kita juga masih harus MENYUBURKAN ladang orang lain untuk kesuburan ladang kita sendiri.
Tulisan ini saya dedikasikan bagi para penjual uang memberikan manfaat pada pembelinya, bagi para guru dan pelatih yang memberikan ilmu berguna, bagi para orangtua yang mendidik anak-anaknya agar menjadi pondasi kuat bagi kehidupan semua, dan bagi semua orang yang membantu orang lain dalam pekerjaannya.Andrie Setiawan


Andrie Setiawan, S. Pd, M. M, C. Ht,  CFP®
Neuro-Financial Coach©

Wednesday, July 17, 2013

UANG MEMANG PENTING TAPI BUKAN SEGALANYA

Sahabat, apakah Anda tahu apa alasan Anda melakukan pekerjaan setiap hari? Uang? Mengapa? Tidak ada yang lain? Sering kali kita terjebak dalam asumsi yang sepertinya benar tapi berbahaya menyesatkan.

Dengarkanlah ungkapan ini, “Uang Memang Bukan Segalanya, tetapi Segalanya Butuh Uang.” Entah siapa yang pertama kali menciptakan kalimat penuh daya hipnotis ini. Kalimat pertama yang langsung direspon oleh pikiran Anda bahwa itu adalah sebuah kebenaran yang dengan cepat disusul oleh kalimat yang mengarahkan pikiran Anda pada arah yang berbeda. Saking cepatnya, pikiran Anda tidak sempat menyaring pesan dibalik kalimat itu.

Lihatlah kejadian ini, dalam sebuah seminar wirausaha seorang pemuda menghampiri seorang pengusaha muda. Dengan canggung pemuda ini memulai percakapan,

“Selamat pagi, Pak. Senang bisa bertemu Anda dan saya sangat ingin menjadi kaya raya seperti Bapak.” Bilang pemuda ini.

Pengusaha ini bertanya, “Sebagai seorang pemuda, berapa kekayaan yang Anda inginkan saat ini?”

“Bagi saya, Satu Miliar Rupiah sangatlah hebat, Pak.” Jawab pemuda ini.

“Mas, maukah Anda mendapatkan Satu Miliar Rupiah dari saya tapi Anda harus menukarnya dengan kedua mata Anda? Maukah Anda menukarnya dengan kedua lengan Anda? Maukah Anda menukarnya dengan kedua kaki Anda? Dengan jantung Anda? Dengan Hati Anda? Dengan otak Anda?” Kata pengusaha muda ini sambil tersenyum dan kemudian melanjutkan, “Anda sudah sangat kaya dan kekayaan Anda melekat pada diri Anda, Mas.”

Di tempat lain, sebut saja Ali, seorang manajer di sebuah perusahaan terkemuka yang selalu berangkat ke kantor setengah enam pagi hari dan baru pulang biasanya jam sembilan malam, bahkan tidak jarang ia sampai rumah jam sebelas malam.

Malam ini Ani anaknya yang masih berumur tujuh tahun sengaja menunggu Ali, ayahnya, pulang dari kantor yang sekitar jam sebelas malam baru sampai rumah saat itu.

“Ani, kenapa kamu belum tidur, Nak?” Tanya Ali sambil melempar senyum pada anaknya.

“Aku sengaja nunggu Papa karena ada yang mau aku tanyakan, Pa.” Jawab anak perempuan yang lucu ini dengan kepolosannya.

“Kamu mau tanya apa?” Tanya Ali lagi.

“Berapa gaji Papa sebulan, Pa?” Lanjut Ani.

Sambil membereskan pakaian ganti karena Ali segera ingin mandi, Ali menjawab, “Kamu hitung sendiri ya, Papa sehari dibayar Rp. 700.000 dan Papa bekerja rata-rata selama sepuluh jam sehari dan bekerja selama 24 hari sebulan.”

“Oh, berarti Papa digaji Rp. 70.000 sejam ya? Boleh aku pinjam uang Lima Ribu rupiah aja, Pa?” Minta Ani.

“Ani! Kamu mau apa sih, malam-malam begini tanya gaji terus pinjam uang segala. Papa capek besok harus bekerja lagi. Sudah, kamu tidur sana!” Sergah Ali dengan keras.

Dengan wajah sedih, Ani menundukkan kepala tidak berani menatap Papanya, berbalik badan dan berjalan dengan lemas menuju kamarnya.

Ali merasa bersalah karena berbicara keras pada anaknya yang lucu itu, tak lama kemudian ia menyusul kekamar Anaknya. Terlihat Ani sedang duduk sedang memegang celengannya.

“Maafkan Papa sudah bicara keras sama kamu, Nak. Kalau kamu mau beli mainan, besok Papa belikan ya, tidak perlu meminjam uang segala. Saat ini sudah malam, kita tunggu sampai besok ya.” Jelas Ali kepada Ani

“Ani gak mau beli mainan, Pa. Ani Cuma mau main sama Papa setengah jam saja. Karena kata Mama waktu Papa sangat berharga. Ani sudah hitung gaji Papa dan Tabungan Ani cuma Rp. 30.000, untuk meminta waktu Papa setengah jam membutuhkan Rp. 35.000, makanya Ani mau pinjam Lima ribu supaya bisa main sama Papa.” Jawab Ani sambil menangis.

Napas Ali menjadi sesak dengan mata berkaca-kaca, sama seperti sesaknya napas saya dan mata yang mulai berair ketika menulis kembali sebuah cerita yang pernah saya baca dari sebuah buku ini.

Sahabat, uang memang penting, tapi bukan segalanya. Seorang filusuf Cina, Konfusius, memiliki tiga pertanyaan dahsyat bagi saya sampai saat ini. Jika ingin sukses, jawablah tiga pertanyaann ini, 

1.  Apakah Anda sadar bahwa ada orang-orang yang mencintai dan mendukung Anda untuk menjadi sukses?

2. Apakah Anda memiliki orang-orang yang Anda cintai?

3. Apakah Anda tahu apa yang Anda lakukan esok untuk mencapai kesuksesan itu?

Jika Anda bisa menjawab semua pertanyaan dengan YA, Anda adalah orang yang bahagia. Kebahagiaan bukan uang dan uang tidak secara sederhana langsung membuat Anda bahagia. Di meja kerja, saya menempelkan selembar uang Seratus Ribu Rupiah yang mengundang pertanyaan beberapa kawan saya. Bukan bermaksud sombong, tetapi saya sedang mengajarkan pada pikiran saya bahwa;

UANG adalah sekedar kertas dan tetaplah selembar kertas dan terus akan begitu. Uang itu tidak akan berguna sebelum aku membelanjakannya untuk sesuatu yang bermanfaat. Bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang sekitar. Yang aku cari bukanlah uang, tetapi manfaat yang bernilai dari uang tersebut yang akan membawa kebahagiaan bagi ku dan orang-orang sekitar. aku membuka pikiran ku untuk menerima keberlimpahan yang akan tersalurkan pada orang-orang disekeliling ku. Menjadi Gardu Rejeki yang tidak pernah menghamba pada Uang. Kebahagiaan adalah bukan tentang uang dan kekayaan yang sebenarnya adalah jika aku tahu cara menghasilkan uang, membelanjakannya, menyimpan, dan mengembangkannya, serta menikmatinya. Aku menikmati hidupku karena ada orang-orang yang mencintaiku dan aku cintai, dan aku menikmati apa yang aku kerjakan.

Salam Keberlimpahan dari Pontianak,

Sedang Mengajar untuk 30 orang agen asuransi tentang perencanaan keuangan     


Tuesday, June 18, 2013

Ah... Saya kan Cuma Dibayar Murah


Memperhatikan lingkungan disekitar saya, membuat saya ingin menulis tentang hal ini. Ada orang yang di meja kerjanya memasang tulisan "Jangan Mangeluh" tapi masih tetap mengeluh, ada pula yang berharap penghasilan besar dengan melakukan hanya hal-hal yang kecil-kecil saja. Ada yang mengeluarkan energi besar tapi lebih mementingkan hal tersebut dilihat orang lain dari pada menjaga kualitas hasil, dan juga ada yang tidak sabar melompat ingin menjadi pemimpin padahal belum pernah menjadi pengikut yang baik. Contoh lain yang lebih buruk lagi adalah cerita tentang seorang guru yang sering terlambat, jangankan untuk mempersiapkan materi ajar, untuk mencuci muka dari debu jalan pun ia tidak sempat.

Bayangkan Anda adalah pemimpin mereka, beri mereka teguran, kira-kira apa yang menjadi alasan mengapa mereka masih mempertahankan hal-hal tersebut? Biasanya, terucap atau tidak, mereka merasa hal tersebut sepadan dengan bayaran yang mereka terima. "Ah... Saya kan Cuma Dibayar Murah", kira-kira itu yang dikatakan pikirannya.

Ada kebingungan (bias) dalam jawaban itu. Bayaran rendah yang kita terima MENYEBABKAN performa kerja kita yang buruk atau sebaliknya, performa kerja kita yang buruk akan MENYEBABKAN bayaran rendah yang kita peroleh?

Saya tidak pernah berhenti belajar tentang hukum sebab dan akibat, gaya tarik menarik dan gravitasi, serta hukum tolak menolak yang sudah sejak lama ditemukan para ahli seperti Isaac Newton dan Archimedes. Walaupun kehidupan tidak masuk dalam pelajaran yang bersifat eksakta (ilmu pasti) namun hukum-hukum itu berlaku dalam kehidupan. "Lho? Itu artinya kehidupan kita juga bersifat pasti dong?" Saya tidak bilang begitu tapi Brian Tracy mengatakan bahwa prestasi dapat diprediksi. Apa yang Anda inginkan harus sesuai dengan apa yang Anda lakukan untuk mencapainya.

Pelajaran menulis dan mengarang yang diajarkan disekolah selalu menuntut agar kita memulainya dari pembukaan, kemudian masuk ke bagian isi, lalu penutup. Ini yang menyebabkan para calon sarjana merasa tertekan saat harus menulis skripsi. Saat saya harus melalui proses skripsi dan tesis, saya merasa hal tersebut sangat menyenangkan. Saya tidak memulai dari awal, saya langsung berpikir bagaimana akhirnya. Saya membayangkan apa yang menyenangkan untuk dibaca dalam skripsi dan tesis saya, bagaimana orang-orang yang membacanya akan mendapatkan manfaat dari tulisan saya, setelah saya dapat idenya lalu saya mencari tahu ilmu apa saja yang menantang dalam penulisan skripsi dan tesis. Saya menemukan hal ini adalah mata kuliah statistik dan metode penelitian, dibagian inilah mahasiswa harus bolak balik menemui pembimbingnya. Saya memelajari ilmu itu dengan teliti dan mendapatkan esensi filosofinya. Statistik dan metodologi penelitian menjadi mata kuliah yang menyenangkan sementara banyak teman tidak menyukainya. Terakhir, barulah saya memikirkan judul yang disusul dengan proses penulisan. Pada saat diuji, saya dapat menunjukkan pemahaman atas apa yang saya tulis, itu artinya para penguji harus ikhlas memberi saya nilai "A".

Apa hubungan skripsi dan tesis dengan pekerjaan saya yang dibayar murah? Begitulah kira-kira pertanyaan pembaca yang mulai tidak sabar untuk mendapatkan manfaat tulisan ini.

Sahabat-sahabatku yang baik, masing-masing dari kita adalah PENULIS kehidupan diri sendiri. Banyak dari kita yang ingin memulainya dengan sangat mewah dan istimewa namun kemudian kita tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Sama seperti sebuah tulisan kehidupan, Anda ingin memiliki judul yang luarbiasa bagus, namun Anda belum tahu apa yang akan Anda tulis. Saya sering memerhatikan bagaimana sebuah acara resepsi pernikahan digelar dengan sangat mewah dan menghabiskan banyak biaya namun kehidupan selanjutnya malah tidak seindah dan semewah resepsinya. Mereka adalah yang hanya mementingkan judul dari pada akhir yang baik.

Pekerjaan kita adalah bagian dari tulisan kehidupan kita. Sebuah artikel kecil yang melengkapi seluruh tulisan kehidupan kita yang selalu ingin berakhir dengan bahagia. Maka dari itu, pikirkanlah sejak awal bagaimana akhirnya nanti. Siapapun dan apapun pekerjaannya, Anda dapat bertanya; HASIL AKHIR APA YANG SAYA INGINKAN TERJADI PADA DIRI SAYA SEBAGAI SEORANG....(sebutkan pekerjaan Anda)?

Lalu pikirkan hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk mencapainya. Apakah Anda telah menguasai hal-hal tersebut? Jika belum, pelajari dan praktikkan sampai ahli. Lalu lakukanlah dan akhirnya tunggu hasilnya dengan sabar.

Anda semua selalu memiliki potensi yang dapat membantu diri sendiri untuk sukses sesuai keinginan Anda masing-masing. Potensi yang tidak terlihat itu bagaikan mutiara dalam lumpur. Memang, mutiara tetaplah mutiara yang harganya mahal, namun jika itu terpendam dalam lumpur yang dalam maka tak satupun yang melihat Anda untuk diambil dan menjadi manfaat. Anda harus terlihat (Stand Up), kemudian tunjukkan kemampuan Anda beserta hasilnya (Speak Up), dan Anda akan diperhitungkan (Be Counted)

Lalu, terakhir, apa akar kebaikan dari semua itu? DISIPLIN POSITIF, Nasib baik adalah hasil dari karakter yang baik efek dari kebiasaan baik. Untuk menjadi kebiasaan, hal-hal positif harus dilakukan secara disiplin. Musuh dan akar kejahatan nomor wahid dalam kehidupan kita adalah DISIPLIN NEGATIF, terbiasa malas adalah hasil dari displin juga. Biasa mengeluh juga hasil disiplin. Biasa datang terlambat mutlak hasil disiplin, dan biasa mendapatkan bayaran kecil juga hasil disiplin.

Masih mengeluhkan pendapatan kecil? Mungkin Anda harus mengubah disiplin bersyukur Anda lalu bertindaklah. Saya berdoa semoga dengan seketika penghasilan Anda berubah menjadi besar. Amiiiin.... Namun pertanyaannya sudah siapkah kita menerima bayaran yang sangat besar dengan disiplin penghasilan kecil yang kita miliki. Kalau begitu saya ubah doanya, Ya Tuhan tahanlah rejeki kami sampai kami pantas menerima rejekiMu yang lebih besar.

Tuesday, June 4, 2013

PEKERJAANKU, KEHORMATANKU

Sudah hari Senin lagi. Apa yang yang Anda rasakan, Sahabatku? Masih butuh dirumah? Perasaan malas bekerja menjalar keseluruh tubuh? Tidak ingin berurusan dengan hal-hal yang berulang-ulang dan membosankan di tempat kerja? Merasakan beratnya pekerjaan yang tidak sebanding dengan penghasilan? Apa lagi? Masih banyak alasan lain yang membuat kita tidak terlalu suka hari Senin, kan? 

Sekarang, ijin kan saya bertanya pada Anda dan ini juga pertanyaan untuk saya. Mangapa Anda harus melakukan ini semua? Yang mana? Ya pekerjaan yang tadi Anda katakan, membosankan, tidak sebanding dengan penghasilan, dan masih banyak lagi alasan negatif dan keluhan yang akan terus menghabiskan energi positif kita. 

Apakah pertanyaan di atas sulit untuk dijawab? Kebanyakan dari kita akan menjawab, "Ya karena saya memang harus bekerja." Itu bukan jawaban, hanya mengulang-ulang kata dan sedikit menambahkannya. Sahabat Pambaca, jika pikiran rasional Anda tidak mampu menjawab dengan baik, periksalah perasaan Anda mengapa Anda harus melakukan pekerjaan ini? 

Saya pernah melihat orang-orang yang tidak bersemangat di hari Senin, kasihan sekali mereka. Sadarkah saya bahwa setiap orang yang hidup pasti memiliki masalah? "Betul Pak! Tapi masalah saya ini berat sekali." Pernah dengar keluhan ini? Seharusnya Saya bahagia jika masalahnya berat sekali karena itu artinya? 

1. Saya sudah gak level di masalah-masalah yang ringan. 

2. Saya akan belajar hal yang baru karena masalah ini tidak sama dari yang pernah saya alami biasanya. 

3. Saya merasa luar biasa karena orang-orang biasa hanya akan mengalami masalah biasa, orang LUAR BIASA masalahnya berbeda. 

4. Saya akan lebih terlatih dari orang lain dan itu yang akan membuat saya semakin kuat. Ingat teori evolusinya Darwin, Yang paling kuatlah yang akan bertahan hidup (The Fittest will Survive). 

5. Saya menjadi semakin dewasa dalam hidup,kedewasaan sangat dibutuhkan untuk menjalani hidup yang lebih baik.Ingat, menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa tergantung kemauan. 

6. Saya siap naik ke level berikutnya. Naik level berikutnya berarti siap terima rejeki yang lebih besar. 

7. Masalah yang ringan hanya untuk orang-orang dengan ketrampilan yang rendah. 

8.Seperti naik tangga, akan lebih berat dibanding menuruninya. Masalah berat berarti naik peringkat. 

9. Dll... 

Masih banyak alasan positif yang dapat dicari oleh pikiran kita. Otak kita memang terampil mencari alasan, baik yang negatif maupun yang positif. Namun mengapa kita merasa lebih suka tanpa masalah? Mungkin karena doa kita yang perlu diperbaiki. Biasanya kita berdoa, "Ya Tuhan, ringankanlah bebanku, hilangkanlah kesulitanku." Dan ketika mendapatkan persoalan, pikiran cepat-cepat membatasi bahwa ini bukan karena kehendak Tuhan. Sahabat hebat, jika guru Anda ingin Anda naik kelas, maka ia harus memberi Anda ujian agar Anda layak berada di kelas yang lebih tinggi dan mungkin lebih baik kita berdoa, "Ya Tuhan, jadikan lah ujian ini menjadi pelajaran agar aku pantas mendapatkan karunia Mu yang lebih tinggi. Berikan aku kekuatan dan cerdaskanlah aku untuk mencari jawaban dan jalan keluar dari ujianMu." 

Dengan demikian kita tidak lagi mengeluhkan hal-hal yang tidak perlu dikeluhkan tentang pekerjaan kita. Walaupun terasa berat, saya tahu itu akan melatih agar Anda semakin hebat. Saya pernah melatih tenaga penjualan produk kredit sebuah bank ternama di Indonesia, mereka mengeluhkan bahwa pekerjaan nya tidak layak bagi mereka, manajemen yang tidak jelas, namun toh ternyata mereka masih bertahan disana. Saya mengatakan pada mereka, "Teman-teman, dengarkan saya. Saat Anda bergantung pada dia (sambil menunjuk ke depan), bukan kepada Dia (sambil menunjuk ke atas) maka Anda akan lebih banyak kecewa. Anda tidak tahu kan bahwa mungkin saja Tuhan saat ini sedang melatih Anda agar beberapa tahun lagi Anda bisa memiliki Bank sendiri?" Mereka terdiam dan sejak saat itu mereka berhenti mengeluh dan mengikuti materi dengan asyiknya. 

Lain lagi disebuah perusahaan besar, kata kawan saya, walaupun besar namun trainernya terlihat berat sekali saat harus mengajar. Ini tidak aneh bagi saya, karena mereka belum tahu nikmatnya menjadi trainer. Mereka masih menganggap bahwa ini hanya tugas dan bukan bagian dari hidup mereka. Wajar saja sebagai manusia mereka hanya mau mengajar saat "menguntungkan" mereka, maka saya sarankan pada kawan saya ini, "Seharusnya para trainer ini dibayar per Jam mengajar biar berebut jam ngajar." Dan saya tidak mengatakan lebih dari itu bahkan tidak sebuah rahasia bahwa jika mereka rajin meningkatkan kemampuan dengan memperbanyak jam terbang maka nilai mereka akan tinggi. Tidak, sekalipun saya tidak mengatakan rahasia itu. Karena jika mereka mengetahui seorang agen asuransi bisa menghasilkan seratus juta rupiah perbulan, trainer publik bisa menghasilkan jumlah yang sama hanya dalam dua hari. 

Jika orang-orang ini mengatakan mereka bekerja karena mencintai keluarga, saya kira mereka tidak sepenuhnya jujur. Orang yang mencintai keluarga akan bekerja sungguh-sungguh agar hasil yang didapat selalu bertambah agar bisa dipersembahkan bagi keluarga tercinta. Orang-orang yang penuh dengan keluhan hanya mendapat sesuai yang dia kerjakan dikurangi biaya penyakit karena stress akibat banyak keluhan. 

Saya menyadari bahwa pekerjaan adalah kehormatan. Saat pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Anda diambil alih orang lain dan membiarkan diri Anda bersantai tanpa pekerjaan, orang itu sedang merenggut kehormatan Anda. Dan Anda yang mengeluhkan pekerjaan Anda, itu sama dengan Anda mengeluhkan kehormatan Anda. 

Selamat Pagi dan Selamat Menjaga Kehormatan!

Monday, May 27, 2013

BAGAIMANA MENJUAL DENGAN CARA COLD CANVASSING

Selesai saya memberikan materi tentang penjualan, beberapa peserta pelatihan menghampiri dan mengatakan, "Pak, saya minta diajarkan bagaimana cara cold canvassing. Saya lebih memilih cold canvassing ketimbang harus menjual pada keluarga dan kerabat."

Cold Canvassing adalah prosedur menjual pada orang yang belum dikenal. Seorang penjual langsung bertemu calon pelanggannya baik door to door atau di tempat umum seperti mall, pasar, rumah sakit, bioskop, bandara, dan lain sebagainya.

Dari kebanyakan penjual pemula yang saya jumpai, mereka tidak menjual kepada keluarga dan kerabat dekat untuk mengurangi risiko hubungan kekeluargaan. Mereka khawatir aktifitas penjualannya akan merusak hubungan keluarga dan kerabat dekatnya. Ini adalah persoalan mindset seorang penjual. Biasanya dalam pikiran mereka transaksi yang mereka lakukan akan menimbulkan kerugian dipihak pembeli. Bayangkanlah setiap orang yang Anda datangi berterimakasih pada Anda karena manfaat barang yang Anda tawarkan sangat berguna bagi mereka. Apakah perasaan Anda tentang menuual menjadi lebih baik?

Tentu saja YA, karena hampir setiap manusia akan bangga jika ia dapat memberi manfaat bagi orang lain. Tidak berbeda dengan menjual. Penjualan adalah menjawab masalah yang dihadapi calon pelanggan. Saya membeli mobil pertama saya karena saya punya masalah jika harus bepergian menggunakan motor bersama istri, anak saya yg berumur 9 tahun, dan yang masih bayi yang baru saja dilahirkan. Saya membeli mobil karena saya punya masalah. Anda membeli makan siang juga karena Anda akan bermasalah jika tidak makan. Orang lain mengganti BBnya dengan seri terbaru padahal yang lama masih bisa digunakan juga memiliki masalah di dalam sosialnya jika tidak terlihat selalu update dengan gadget teknologi terbaru. So, ini artinya, menjual adalah menjawab masalah.

Menjual juga artinya memberikan manfaat. Barang yang akan kita jual tidak akan laku jika tidak bermanfaat untuk menjawab masalah yang dimiliki calon pembeli Anda. Orang rela membayar lebih mahal dari orang lain karena sangat bergantung pada manfaat yang Anda jual. Saat musim hujan, panen bawang menurun drastis dan yang sudah dipanen banyak yang busuk. Harga bawang melonjak lebih dari 300% tapi tidak sedikit orang yang tetap membelinya.

Menjual itu adalah memberi manfaat yang bisa menjawab persoalan yang dimiliki pembelinya. Yakinlah bahwa Anda tidak akan ditolak oleh siapapun jika Anda yakin bahwa yang Anda jual bermanfaat bagi pembelinya. Baik oleh keluarga ataupun orang yang belum dikenal. Baiklah, kita kembali ke pembahasan bagaimana menjual dengan cara canvassing.

Proses penjualan secara cold canvassing tidak jauh berbeda dengan proses penjualan secara umumnya. Cold Canvassing hanya menghilangkan proses janji temu dan tetap mengikutkan proses PENDEKATAN-PENCARIAN FAKTA-PRESENTASI-MENGATASI KEBERATAN-PENUTUPAN PENJUALAN-PELAYANAN PURNA JUAL.

Penjual pemula hanya perlu dilengkapi dengan teknik bagaimana mendekati calon pembeli dalam cara canvassing. Tahapan ini menjadi sangat penting karena proses selanjutnya sangat bergantung dari kesan pertama. Selanjutnya? Terserah Anda...

Calon pembeli pertama kali akan menilai Anda dalam waktu 3 detik pertama kemunculan Anda. Penampilan sangat penting, dalam hal ini tidak hanya terbatas pada pakaian dan aroma tubuh saja tetapi juga mereka dapat melihat Anda merasa percaya diri atau tidak. Keyakinan Anda juga sangat menentukan kesan pertama yang berhasil.

Tahap berikutnya dalam cold canvassing adalah calon pembeli Anda harus bersedia mendengarkan Anda. Mereka hanya mau mendengarkan Anda jika yang Anda katakan pertama kali adalah bermanfaat buat mereka. Apakah Anda akan berbicara tentang produk Anda? Bisa juga. Tapi biasanya mereka sulit untuk melihat ketulusan dari kata-kata Anda. Mereka akan berpikir bahwa cara berbicara Anda yang manis dan lembut hanya agar mereka membeli produk Anda.

Berikanlah manfaat yang mereka tidak berisiko kehilangan sesuatu. Dalam satu kesempatan, saya bersama Mama saya berbelanja dan seorang wanita menawarkan tester minuman ringan. Setelah mencobanya, Mama saya berkata, "Beli satu aja Ndrie. Rasanya gak terlalu enak." Mama saya merasa bersalah jika tidak membeli karena kebaikan wanita yang sudah menawarinya tester minuman walaupun kemudian saya jelaskan bahwa kami tidak perlu membelinya jika memang tidak perlu dan perlu dicatat bahwa pembelian yang dihasilkan dari rasa kasihan seringkali bernilai kecil.

Apa yang bisa diterima calon pembeli Anda tanpa membuat mereka khawatir kehilangan uang mereka namun bermanfaat? Sederhana, TIPS yang dibutuhkan. Contoh, jika Anda melakukan canvassing di sebuah pusat perbelanjaan, Anda bisa melakukannya seperti ini.

Anda: Halo... Sore, Bapak Ibu dan Adek, lagi mau belanja, makan, atau nonton film? (Anda menghampiri keluarga, jangan menghalangi langkah mereka. Jika mereka tetap melangkah, Anda dapat mendampingi dengan ritme langkah yang sama sambil menjabat tangan orang yang paling "berkuasa" diantara mereka jika memungkinkan.)

Anda: Perkenalkan, saya Andrie Setiawan dari perusahaan asuransi jiwa, ijinkan saya 5 menit kedepan untuk memberikan tips Berbelanja, Makanan, atau Film silakan Bapak, Ibu, atau Adek kecil pilih tips tentang apa. Satu saja...(sambil Anda mengacungkan jempol bukan telunjuk Anda. Telunjuk dan jempol ada di satu tangan Anda jumlahnya sama-sama satu namun saat Anda mengacungkan jempol Anda sedang mengarahkan mereka untuk menyetujui tawaran Anda karena jempol secara konsensus berarti OK)

Bapak: Makanan deh, Mas. (sambil senyum. Senyuman dapat berarti mereka merasa aman dan nyaman bersama Anda. Tentu Anda harus mengenali senyuman tulus atau palsu.)

Anda: Baik, Pak. Pertama pemilihan tempat itu penting.Saat bersama anak-anak, memilih tempat makan yang ada tempat bermainnya menjadi sangat penting mengingat fungsi makan dipusat perbelanjaan bukan hanya untuk memenuhi rasa lapar namun juga bisa mengambil manfaat rekreasi.Jika Bapak dan keluarga hanya ingin makan di mall ini dan kemudian kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan, artinya Bapak disini hanya mampir maka sebaiknya Bapak sekeluarga makan yang cukup dan jika dibutuhkan Bapak bisa membeli makanan ringan dan air mineral untuk dibeli disebelah sana (sambil menunjuk arah supermarket). Toilet ada dilantai ini disebelah toko X (sambil menunjuk arah lagi). Sebaliknya jika memang tujuan Bapak sekeluarga datang kesini untuk tujuan rekreasi, Bapak bisa mengajak anak-anak untuk bermain sementara orangtuanya dapat beristirahat. Rekreasi anak-anak lebih banyak dihabiskan dengan aktifitas fisik sedangkan rekreasi orang dewasa lebih banyak diluangkan untuk aktifitas mental seperti sekarang.

Bapak: Terimakasih Mas, Anda dari asuransi kenapa kok malah kasih tips tentang belanja. (sambil senyum)

Anda: Kami para agen asuransi bertugas memberikan kenyamanan dan keamanan secara finansial kepada keluarga Indonesia. Berbelanja di mall juga butuh perencanaan keuangan agar kita mengeluarkan biaya yang kecil dan mendapatkan manfaat yang besar. Oh iya, Pak. Sekali lagi, saya Andrie Setiawan dari perusahaan asuransi X (sambil menunjukkan kartu Lisensi, bukan kartu nama, dan membiarkan Bapak ini memegang dan melihatnya ) boleh saya tahu nama Bapak, Ibu, dan Adek kecil?

Bapak: Saya Budi, ini istri saya dan ini anak saya Iwan. (sambil memegang dan melihat kartu lisensi Anda)

Anda: Senang bertemu dengan Pak Budi sekeluarga dan karena Pak Budi sudah mengambil manfaat dari tips yang saya baru saja bagi,sambil santai, saya mau memberikan tips tentang perencanaan keuangan bagaimana dengan dana yang lebih kecil untuk kesejahteraan keluarga yang lebih besar sama seperti ketika Pak Budi dan keluarga berbelanja dan makan di mall ini.

Nah, pembaca yang baik, sesi melakukan pendekatan dengan menggunakan salah satu teknik yang tidak pernah gagal sudah Anda pelajari. Apakah ini saat yang tepat bagi Anda untuk mencoba efek dahsyatnya? Ingat, menjual adalah memberikan manfaat yang lebih besar dari uang yang pembeli Anda bayarkan. Tunjukkan bahwa Anda bermanfaat, biarkan mereka merasakan itu dan mereka akan segera membeli Anda. Mengapa orang lain tidak berhasil melakukan cold canvassing? Karena mereka tidak tahu bagaimana berbagi manfaat, tapi Anda?
Sales Coach-Financial Coach